DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 44 (KECEWA)


Karren benar-benar kecewa dengan sikap Gibran, kalau saja makanan itu beli mungkin Karren tidak akan se-kecewa ini, tapi makanan itu benar-benar di buat dengan tulus olehnya dan maminya, bahkan Karren membuat keajaiban besar untuk memasak pagi-pagi sekali.


Jika tau akan di tolak, lebih baik Karren tidak jadi memberinya bekal tadi, memang feeling Karren sejak tadi pagi sedikit tidak enak dan ternyata sudah terjawab kenapa feeling nya


tidak enak.


Sedangkan di dalam ruangannya, Gibran frustasi saat melihat bekal yang ada di mejanya dan langsung menatap ke arah pintu ruangannya.


Gibran merasa bersalah karena sudah menolak bekal Karren tadi, apa lagi saat melihat wajah ceria Karren yang seketika berubah sedih karena penolakannya.


Karren sama sekali tidak mood untuk melakukan apapun, dia hanya diam padahal di hadapannya sudah ada camilan kesukaannya.


“Beb, lo ga semangat banget kayaknya.” Ucap Kevin saat melihat Karren yang tidak berkutik di hadapan makanan kesukaannya.


“Ga semangat lah gila, dia di tolak sama dosen killer hahaha..” sahut Silvia.


“What? Di tolak? Lo nyatain cinta sama pak Gibran beb? Kejam banget lo sama gue.” Ucap Kevin dengan memelas.


“Gila lo! Ya engga lah!” ketus Karren.


“Bukan cintanya yang di tolak, tapi bekalnya hahaha.” Sahut Silvia kembali.


“Diem lo!” ketus Karren kepada Silvia dan memberinya tatapan tajam.


“Bekal yang lo bawa-bawa ke mana-mana itu? Yang dari aunty Key? Serius dia nolak?” tanya Darren yang di balas anggukan oleh Karren.


“Wah gila sih ga sopan banget! Gue aja berharap di masakin calon mertua, lah dia berani-beraninya nolak pemberian calon mertua gue.” Sahut Kevin tidak terima.


“Calon mertua pala lo!” ketus Karren sambil menjitak kepala Kevin.


Karren kembali melamun, dia membayangkan bagaimana mesranya makan siang Gibran dan Sarah saat ini.


Namun tidak ada sedikitpun rasa ingin menyerah di dalam diri Karren, dia masih tetap ingin memperjuangkan cintanya.


Sedangkan di dalam ruangannya, Gibran masih berada di tempat duduknya sambil memandangi tempat bekal yang di berikan Karren kepadanya.


Sebenarnya Gibran tidak ada janjian makan siang dengan siapapun apa lagi Sarah, hanya saja dia sengaja berbohong kepada Karren karena dia harus membuat Karren menjauhinya.


Tok,,tok,,tok.. Pintu ruangan di ketuk dari luar, dengan segera Gibran menyuruh orang itu untuk masuk.


“Assalamualaikum..” sapa seseorang yang tidak lain adalah Sarah.


“Waalaikumsalam, Sarah ada apa lagi?” tanya Gibran.


“Aku mau mengajakmu makan siang.” Jawab Sarah.


“Maaf tapi aku membawa bekal.” Ucap Gibran.


“Bekal? Siapa yang menyiapkan bekal untukmu? Biasanya aku yang memberimu bekal makan siang.” Ucap Sarah heran.


“Apa aku harus menjawab semua pertanyaanmu Sarah?” tanya Gibran menyindir.


Sarah terdiam, dia menatap ke arah Gibran tidak percaya, ternyata Gibran masih ketus seperti tadi saat dia membahas tentang Karren.


"Baiklah kalau begitu aku permisi, assalamualaikum." ucap Sarah.


"Waalaikumsalam." balas Gibran dan Sarah segera menutup pintu ruangan Gibran.


...****************...


Hari ini Karren berangkat kuliah bersama Kevin, karena Darren lebih memilih menjemput kekasih barunya, yah kekasihnya yang kemarin sudah dia tinggalkan dan sekarang Kevin sudah memiliki kekasih baru lagi.


Entah berapa banyak mantan Kevin sampai saat ini, mungkin dia bisa membuat museum yang berisikan mantan-mantannya.


Setelah sampai di parkiran kampus, Kevin langsung keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Karren.


Darren seringkali meminta Karren untuk menyuapinya sambil dia menyetir, kadang Darren juga menyuruh Karren untuk merapihkan rambutnya yang jarang di sisir, bahkan seringkali Darren menyuruh Karren untuk menyiapkan pakaiannya untuk kuliah selagi dia mandi.


Sedangkan Karren terpaksa menuruti semua permintaan sepupunya itu agar tidak terlambat masuk kelas terutama kelas si dosen killer.


Dari parkiran sampai dalam kampus, Kevin terus merangkul bahu Karren seperti biasa.


Kalau bukan Kevin, Darren lah yang akan merangkul bahu Karren, intinya bahu Karren tidak akan pernah menganggur.


Kedua laki-laki itu memang sangat posesif kepada Karren, karena kalau tidak di rangkul maka mahasiswa hidung belang akan mulai menggoda Karren.


Sebenarnya Karren tidak terlalu mempermasalahkan hal itu selama mereka tidak melebihi batas, tapi kedua laki-laki itu tetap saja tidak suka, apa lagi Kevin yang sebenarnya cemburu tapi gengsi untuk mengungkapkan.


"Beb, lo denger kabar dari Silvia nggak?" tanya Kevin.


Karren yang notabenenya lebih pendek dari Kevin langsung mendongak ke atas untuk melihat wajah Kevin.


"Engga, kabar apa?" tanya Karren penasaran.


Namun bukannya menjawab, Kevin malah menahan tawanya membuat Karren semakin penasaran.


Karren memang tidak ikut ke bar semalam karena seseorang yang Karren yakini adalah maminya sengaja mencampur makanannya dengan obat yang membuat perut Karren mulas dan akhirnya dia tidak bisa ikut ke bar karena harus bolak balik ke kamar mandi.


"Dapet hadiah yang tak terlupakan dia." jawab Kevin.


"Tidak terlupakan gimana?" tanya Karren.


"Kemarin dia janjian sama cowok di bar, nah di profil tuh cowok ganteng banget kek pemain FTV, lah kok yang dateng ternyata Giant yang ada di Doraemon hahaha." ucap Kevin yang akhirnya tertawa lepas.


"Giant gimana maksudnya?" tanya Karren.


"Ya Giant, gede item terus tua hahahaha..." balas Kevin sambil tertawa lagi.


"Serius? Terus Silvia gimana?"


"Ya marah-marah lah dia! Merasa di tipu dia dan hampir di timpuk juga pake botol wine kalo bukan di halangi Dina sama Clara."


Karren tertawa terbahak-bahak hingga dia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa dan air matanya menetes dari ujung matanya.


"Sayang banget gue ga ikut semalem." ucap Karren yang masih tertawa.


Lalu tiba-tiba saja tawanya terhenti saat melihat seseorang yang sedang berdiri di depannya, senyumnya langsung menghilang saat melihat orang yang ada di hadapannya.


Karren melihat Gibran dan Sarah, Gibran memberi tatapan tajam kepada Karren, terutama saat melihat tangan Kevin merangkul bahu Karren.


Kevin sadar dengan tatapan Gibran, hanya saja dia tidak berniat untuk melepaskan tangannya dari bahu Karren.


Karren tersenyum kecut saat melihat Gibran dan karren berangkat bersama, padahal tadi Karren mengajak Gibran berangkat bersama tapi Gibran menolaknya.


FLASHBACK


Karren sudah berada di depan rumah Darren, namun mood Karren langsung di buat down saat mendengar dari aunty nya kalau Darren sudah berangkat lebih dulu.


Dengan kesal Karren segera menghubungi sepupu tidak tau diri itu, dan ternyata dia sedang menjemput kekasih barunya jadi dia tidak bisa berangkat bersama Karren.


Karren juga malas sekali menyetir, akhirnya dia berjalan ke rumah Gibran saat melihatnya baru keluar dari rumah.


"Mas, aku nebeng kamu ya soalnya Darren udah berangkat duluan." ucap Karren dengan nada manjanya.


"Kamu lupa ucapan saya kemarin? Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu!" ketus Gibran membuat Karren mematung di tempatnya.


"M-maaf pak." ucap Karren dengan wajah menunduk karena sedih bercampur malu.