
Karren segera menaruh gelas yang baru saja dia cuci, dia berpikir untuk belajar memasak setelah ini, ya walaupun dia sudah bisa memasak tapi tetap saja tidak bisa di bilang bisa kalau tidak melakukannya sendiri. Selama ini dia hanya ‘membantu’ maminya saja.
Karren hanya menguasai memasak mie dan omelet saja, tentu saja dia tidak ingin Gibran kurus kering karena dia hanya bisa memasak itu. Karena keberhasilan istri dilihat dari berat badan suaminya.
Darren pernah bilang kalau orang yang berperut buncit biasanya bahagia, tapi meskipun begitu Karren tidak berniat untuk membuat perut Gibran buncit seperti doraemon. Karren lebih suka peurt Gibran yang kotak-kotak seperti sekarang.
“Kamu bisa cuci gelas?” tanya Gibran tiba-tiba membuat Karren terlonjat kaget.
Untung saja dia tidak memegang apapun karena gelas yang dia pegang sudah di cuci bersih sampai mengkilat seperti iklan sabun.
Karren membalikkan tubuhnya dan menatap kesal kepada Gibran yang sedang bersandar di tembok dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dadanya.
“Kamu remehin aku?” tanya Karren kesal.
“Tidak, saya cuma tidak menyangka kamu mau melakukan itu.” Balas Gibran dengan santainya.
“Itu sama aja kamu ngeremehin aku, dasar nyebelin!” ketus Karren yang langsung pergi sambil menghentak-hentakkan kaki.
Tangannya tertahan saat dia melewati Gibran, tentu saja itu ulah Gibran yang sudah menggenggam pergelangan tangan Karren.
Tanpa bisa di prediksi, Gibran menarik tangan Karren sampai Karren akhirnya menempel pada tubuh Gibran, tangan nakal Gibran sudah melingkar di pinggang Karren dengan erat.
“Maaf, saya kira kamu tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah karena takut kuku kamu rusak.” Ucap Gibran yang memang kadar menyebalkannya tidak berkurang walaupun dia sudah menjadi suami Karren.
Di saat meminta maaf pun dia masih bisa menggoda Karren, dan mungkin setelah menikah malah Gibran yang lebih sering menggodanya.
“Haaah, aku ga selebay itu kali mas, aku ingat kalau cuci piring udah jadi tugasku sekarang.” Ucap Karren sambil menatap Gibran dengan tatapan jengah.
Gibran tersenyum, dia senang karena ternyata Karren sudah sadar tanpa perlu di sadarkan.
“Kalau kamu masih capek tidak apa-apa tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah dulu.” Ucap Gibran sambil menyelipkan rambut Karren ke belakang telinganya.
Karren mengangguk sambil tersenyum, dia memang tidak berniat untuk memulai perannya sebagai ibu rumah tangga hari ini. Dia masih harus memindahkan barang-barangnya dari rumah orang tuanya ke rumah Gibran.
“Aku mau ambil barang-barangku yang masih ada di rumah mas, bantuin ya.” Ucap Karren dengan memohon yang di balas anggukan oleh Gibran.
“Saya akan bantu, tapi ada bayarannya.” Ucap Gibran sambil tersenyum.
“Yaampun mas, ga ikhlas banget bantuin istrinya sendiri juga.” Balas Karren dengan mulut yang cemberut.
“Terserah kamu, kalo kamu ga mau bayar, saya juga ga akan bantuin kamu.” Ucap Gibran dengan senyum menggoda.
Melihat hal itu membuat Karren merasa heran, pasalnya tingkah Gibran sangat aneh dan sejak kapan juga Gibran bisa menggoda seperti ini? Biasanya hidup Gibran lurus-lurus saja dan terkesan membosankan.
“Ya udah kalo gitu, kamu mau bayaran berapa?” tanya Karren.
Bukannya menjawab Gibran malah mendekatkan wajahnya ke wajah Karren membuat jantung Karren berdetak kencang.
Karren gugup, dia menduga Gibran akan menciumnya. Tapi ternyata laki-laki itu membisikkan sesuatu yang membuat pipi Karren memerah. Karren berhasil mengetahui sisi lain Gibran sekarang. Laki-laki itu lebih nakal dari sebelumnya.
“Bagaimana?” tanya Gibran yang masih tersenyum jail.
“O-oke..” balas Karren dengan gugup.
Bisa-bisanya seorang Karren tidak berdaya dihadapan dosen killer ini, padahal biasanya dia yang selalu menggoda Gibran dan membuatnya tidak berkutik.
“Hah?” mulut Karren terbuka lebar, otaknya seketika tidak bisa mencerna maksud nakal dari dosen yang sebelumnya selalu berpikiran lurus itu.
Belum selesai Karren mendapatkan jawaban, mulutnya yang sedang menganga seperti ikan lohan itu langsung di bungkam dengan kecupan Gibran.
Gibran mendorong pelan tubuh Karren masuk ke dalam dapur lalu dia menutup pintu dapur dan menguncinya.
Karren yang mulai terpancing pun hanya bisa membalasnya, mereka sampai melupakan tujuan utama mereka yang ingin memindahkan barang-barang Karren.
Namun tak lama Karren mendorong tubuh Gibran pelan agar dia bisa terlepas. Gibran yang mengerti pun segera melepaskan diri mereka dengan terpaksa.
“Kenapa?” tanya Gibran yang tidak terima jika Karren menghentikan kegiatannya.
“Kamu tadi kan bilang cuma minta DP, DP nya cuma sampai situ aja. Bayaran full nya aku kasih nanti setelah kamu bantuin aku.” Ucap Karren sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Gibran yang mendengar ucapan Karren hanya bisa menghela nafas pasrah lalu mengangguk dengan terpaksa.
Karren tersenyum melihat ekspresi suaminya, dia berjinjit dan mengecup bibir Gibran singkat.
“Ayo ke rumah aku sekarang!” ajak Karren.
Setelah DP untuk bayaran Gibran di berikan, Karren langsung mengajak suaminya untuk ke rumah orang tuanya. Mereka berniat untuk memindahkan barang-barangnya sekarang sebelum hari mulai petang.
Karren dan Gibran langsung masuk melewati pintu yang sedang terbuka lebar, mereka berdua bisa melihat Key yang sedang menonton TV sendirian di ruang tengah.
“Assalamualaikum...” ucap Gibran membuat Key langsung menoleh ke asal suara.
“Waalaikumsalam... eh ada tetangga..” goda Key yang berniat menjahili Karren.
“Ih mami, ini kan rumah aku juga!” ucap Karren tidak terima.
“Ini jadi rumah mami dan papi aja sekarang, kamu kamu udah pindah ke rumah Gibran.” Balas Key tidak mau kalah.
Key tersenyum peuh kemenangan, rasanya dia sangat puas melihat Karren cemberut seperti itu.
Sedangkan Gibran hanya dia saja di sebelah Karren, dia tidak tau harus melakukan apa di saat Karren merengek kesal, sedangkan Key terus saja menggoda Karren.
Karren mendengus kesal, matanya beralih memperhatikan sekitar. Rumahnya terlihat sepi tidak seperti biasanya, dia tidak melihat sosok sang papi dari tadi.
“Papi ke mana mam?” tanya Karren.
Pasalnya di saat tidak ada Karren seharusnya dia orang itu bermesraan seperti biasa, saat Karren ada saja mereka bisa bermesraan, sekarang tidak ada Karren mereka malah tidak terlihat bersama.
“Di kamar tidur, capek dia.” Jawab Key.
Jawaban Key malah terdengar ambigu di telinga Karren, dia memicingkan matanya menatap sang mami.
“Setelah aku nikah, sekarang kalian berdua mau buat anak lagi?” tanya Karren dengan penuh rasa curiga.
Mendengar pertanyaan Karren membuat Gibran terkejut, dia tidak menyangka kalau Karren akan bertanya seperti itu pada maminya, terlebih dia bertanya seperti itu di depanya.
Setidaknya otak Gibran lebih normal, dia berpikir kalau Bernard kelelahan karena acara resepsi kemarin, bukan seperti yang ada di dalam pikiran Karren.
“Yaampun Karren! Sejak kapan kamu bisa membaca pikiran orang?” tanya Key dengan pura-pura terkejut.