DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 104 (MALAM PERTAMA)


Acara pernikahan pun selesai, saat ini Karren sedang berada di dalam kamar mandi, jantungnya berdebar-debar, dari tadi dia hanya berdiam diri sambil melihat cermin yang ada di hadapannya.


Malam ini adalah saatnya dia melepas masa gadisnya, tapi dia takut. Dahinya terus berkeringat. Siapa yang menyangka jika perempuan seperti Karren akan setakut ini saat segelnya akan di buka.


Karren terus berjalan mondar-mandir sambil menggigit jarinya, mungkin sekarang sudah satu jam sejak dia masuk ke dalam kamar mandi tadi, dia berharap Gibran ketiduran agar malam pertama mereka tidak di lakukan hari ini.


Karren ingin malam pertamanya di undur besok saja atau setidaknya sampai Karren sudah siap untuk menyerahkan apa yang selama ini dia jaga.


Kaki Karren berhenti melangkah dan kembali melihat ke arah cermin, dia memperhatikan penampilannya sendiri. Demi apa pun se seksi apapun penampilan Karren dia tidak pernah memakai pakaian transparan seperti ini.


Semua ini atas paksaan dari maminya, padahal Karren yakin denga pakaian tidur yang biasa dia pakai saja pasti udah membuat Gibran tergoda, apa lagi kalau dia memakai pakaian tembus pandang seperti ini, bisa-bisa Gibran panas dingin seperti dispenser.


“Gimana dong? Kira-kira dia udah tidur belum ya?” gumam Karren dengan perasaan gelisah.


Karena merasa sudah lelah mondar-mandir di dalam kamar mandi, akhirnya Karren memberanikan diri untuk keluar. Dia membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan helaan nafas penuh kekecewaan lolos dari mulutnya saat melihat Gibran belum tidur.


Laki-laki itu masih membaca buku dengan serius dan sepertinya matanya masih 100watt. Bahkan sangking seriusnya membaca buku, Gibran tidak menyadari kehadiran Karren yang sudah keluar dari kamar mandi.


Karren mencengkram ujung baju tidurnya yang panjangnya hanya sejengkal dari pangkal pahanya. Jantungnya berdetak semakin cepat.


Tiba-tiba saja kepercayaan dirinya terbang entah kemana, padahal dia sudah biasa menggoda Gibran.


Karren mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dia mencoba untuk bersikap tenang. Gibran tidak boleh tahu kalau saat ini Karren sedang gugup.


Karren akan berusaha untuk membuang rasa malunya agar tidak terlihat oleh Gibran, Karren akan berusaha untuk bersikap biasa saja.


Di saat seperti ini jiwa penggoda yang ada di dalam diri Karren malah tidak berfungsi dengan baik, padahal di saat seperti ini lah Karren sangat membutuhkan jiwa penggodanya.


Karren berdehem untuk membuat Gibran mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca, dan ternyata apa yang dia lakukan berhasil! Gibran langsung menoleh ke arah Karren dan matanya seketika melebar dan terpaku hanya pada Karren.


Jika dulu Gibran langsung membuang wajah dan mengucapkan istighfar, sekarang dia malah menatap tubuh Karren tanpa berniat untuk menoleh.


Saat ini Gibran masih menatap tubuh Karren dengan lekat, mengagumi setiap jengkal tubuh Karren yang terlihat sangat indah di matanya. Bahkan Karren yang hampir polos seperti itu malah terlihat lebih indah di mata Gibran.


Gibran sangat kagum dengan Karren saat ini, pantas saja banyak laki-laki yang tergila-gila pada Karren, Karren memang sempurna secara visual, model internasional saja kalah dengan kecantikan Karren.


Karren yang di tatap seperti itu oleh Gibran langsung salah tingkah, pipinya memanas, dia yakin pipinya sekarang sudah merah apa lagi sudah tidak ada make up yang menutupi wajahnya.


Kesadaran tentang siapa dirinya membuat Karren membuang jauh-jauh sikap salah tingkah dan malu-malunya, dia adalah Karren, perempuan yang membuat para laki-laki terpesona hanya dengan senyumannya.


Seharusnya itu Gibran yang salah tingkah bukan malah dirinya. Akhirnya Karren memilik untuk berjalan mendekati Gibran, langkahnya bak model internasional dengan senyum yang menggoda.


Tatapan Karren bahkan sangat sensual hingga membuat Gibran menelan salvilanya saat melihat apa yang di lakukan oleh Karren.


“Gimana sayang? Sama kayak yang ada di bayangan kamu selama ini?” tanya Karren dengan nada menggoda.


“Wah, jadi kamu selama ini beneran suka bayangin aku?” ucap Karren sambil tertawa.


“Itu juga karena kamu yang suka menggoda saya, saya juga kan hanya laki-laki biasa Karren.” Balas Gibran sambil mendengus kesal.


Karren tersenyum geli, dia mulai menaiki ranjang dengan gerakan yang sensual lalu duduk di samping Gibran. Kepalanya dia sandarkan di dada bidang Gibran lalu dia ikut membaca buku yang Gibran baca.


Tangan Gibran dengan berani merangkul tubuh Karren lalu dia memberikan kecupan di kening Karren.


“Kamu ga capek?” tanya Gibran yang di balas gelengan kepala oleh Karren.


“Kalau kamu capek, kita bisa menundanya kok.” Ucap Gibran sambil mengelus rambut Karren dengan lembut.


Karren mendongak menatap wajah Gibran, “Engga, aku ga capek kok.” Ucap Karren meyakinkan Gibran.


Toh dia hanya harus rebahan saja kan? Jadi pasti tidak akan capek. Begitulah kesimpulan yang ada di otak Karren, maklum lah ini adalah pertama kali untuknya jadi dia belum punya pengalaman sama sekali.


Gibran mengangguk percaya pada ucapan Karren, dia menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas. Melihat hal itu membuat jantung Karren yang tadi sudah mulai tenang kembali berdetak kencang.


Gibran menyudahi membaca bukunya, itu artinya dia akan segera di unboxing oleh laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


Gibran merebahkan tubuh Karren, sedangkan Karren hanya bisa menatap matanya saja dan menebak-nebak apa yang sebentar lagi akan Gibran lakukan.


“Sudah siap?” tanya Gibran dengan tersenyum manis sampai membuat Karren terpesona karena jarang sekali Gibran tersenyum semanis itu.


Karren mengangguk dengan ragu, sejujurnya dia masih takut karena ini adalah pertama kali untuknya, dan teman-temannya mengatakan padanya saat melakukan pertama kali akan terasa sakit.


Itulah kenapa kebanyakan teman-teman Karren melakukannya saat sedang mabuk, berbeda dengan mereka. Karren lebih memilih tidak melakukannya sebelum menikah.


Nakalnya hanya sebatas minum minuman beralkohol saja, tapi tidak untuk melakukan lebih jauh dari itu.


Sebelum mulai melakukannya, Gibran lebih dulu membaca doa. Entah apa yang di baca karena Karren juga tidak tau dan dia hanya bisa mengamininya saja.


Gibran menatap wajah Karren dengan lekat, dia memandang takjub wajah istrinya yang memang sangat cantik itu meskipun tanpa make up.


Tangan Gibran membelai wajah Karren dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Karren.


Karren semakin gugup, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya dengan membalas tatapan Gibran. Dia tidak mau kalau Gibran merasa menang karena sudah berhasil membuat Karren Adibrata gugup.


Wajah Gibran perlahan mendekat ke wajah Karren, namun sebelum bibirnya menyentuh bibirnya Karren sudah menutup mulutnya menghalangi Gibran agar tidak semakin dekat.


“Ada apa Karren?” tanya Gibran bingung.


“Aku mau kamu janji dulu kalau kamu bakal pelan-pelan, jangan sampai buat aku kesakitan.” Ucap Karren dengan malu-malu.