DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 113 (JADI POWER RANGER DAN DORAEMON?)


Melihat semua story yang di buat teman-temannya membuat adanya rasa ingin ikut yang muncul di hati Karren saat melihat teman-temannya sedang tertawa bahagia di tengah dentuman musik yang keras.


Namun, Karren sudah berjanji tidak akan minum dan datang ke tempat itu lagi. Simulasi meninggal yang beberapa waktu lalu Karren rasakan menjadikannya lebih takut berbuat dosa, jadi yang bisa di lakukan Karren saat ini hanyalah melihat teman-temannya sedang bersenang-senang tanpa dirinya.


Gibran mendongak saat mendengar suara musik disko yang ternyata keluar dari ponsel Karren. Dia bisa melihat raut kesedihan Karren saat menatap layar ponselnya. Walaupun tidak melihatnya, tapi Gibran tau kalau suara yang terdengar berisik itu berasal dari teman-teman Karren.


“Sayang, sini.” Panggil Gibran.


Karren segera keluar dari aplikasi instagram, dia meletakkan ponselnya di meja lalu berjalan menghampiri Gibran.


“Kenapa mas? Kamu butuh sesuatu?” tanya Karren setelah sampai di samping Gibran.


“Enggak.” Balas Gibran.


“Duduk sini.” Ucap Gibran dengan pandangan yang tertuju ke arah pahanya.


Karren mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan perintah Gibran.


Gibran yang gemas melihat ekspresi wajah Karren langsung menarik tubuh Karren pelan lalu mendudukkannya di pangkuannya.


Karren terkejut dengan apa yang di lakukan Gibran, dia hanya bisa menatap wajah Gibran tanpa mengatakan apapun.


Melihat Karren yang hanya diam saja membuat Gibran semakin gemas, dia mengecup bibir Karren dengan singkat lalu kembali menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Karren, lalu Gibran tersenyum melihat wajah cengo Karren.


“Temani aku di sini.” Ucap Gibran.


Karren hanya bisa mengangguk mematuhi permintaan Gibran, dengan tubuh Karren yang berada di pangkuannya, Gibran kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Gibran mengetik dengan satu tangan karena tangan satunya sedang melingkar di perut Karren. Dagunya dia tumpukan di bahu Karren dan sesekali dia memberikan kecupan singkat di pipi, leher dan puncak kepala Karren.


Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Karren tersenyum, wajahnya tersipu malu dan dia hanya bisa menundukkan wajahnya.


“Kamu ternyata bisa romantis juga ya...” gumam Karren.


“Aku bisa menjadi apa pun buat kamu.” Balas Gibran yang membuat Karren mendongak.


“Kamu bisa jadi apa pun? Beneran?” tanya Karren yang di balas anggukan oleh Gibran.


“Kalo gitu, kamu bisa jadi Power Ranger buat lindungin aku dari monster jahat, terus kamu juga bisa jadi Doraemon yang punya kantong ajaib buat menuhin keinginan aku?” tanya Karren.


Mendengar ucapan Karren membuat Gibran melongo, dia tidak percaya kalau Karren akan bertanya seperti itu kepadanya, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


***


Hari ini Karren sudah mulai kembali kuliah, begitu juga dengan Gibran yang akan kembali mengajar. Hubungan mereka di kampus tetap sebagai mahasiswa dan dosen. Gibran tidak suka mengistimewakan salah satu mahasiswanya, termasuk istrinya sendiri.


Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah? Di sini dia hanya makmum yang akan selalu mengikuti imamnya. Alasan yang di berikan oleh Gibran juga masuk akal, dia tidak ingin di anggap sebagai dosen pilih kasih dan alasan itu yang membuat Karren tidak bisa protes lagi, dia juga tidak mau suaminya di cap sebagai dosen yang seperti itu.


Tangan Karren dengan terampil memoleskan make up ke wajahnya. Wajah yang tadinya polos sekarang sudah berwarna beberapa bagian. Make up yang Karren pakai lebih naturan di bandingkan sebelumnya karena targetnya memang sudah dia dapatkan.


Gibran sudah berada dalam genggamannya jadi tidak ada alasan lagi untuk Karren memakai make up yang sensual. Karena alasan utama Karren memakai make up yang sensual memang untuk menggoda Gibran.


Bukan menggoda dengan tujuan agar bisa melakukan sesuatu yang intim dengan Gibran, tapi menggoda untuk membuat Gibran salah tingkah dan itu adalah hal yang menyenangkan untuk Karren dan juga hiburan tersendiri.


Karren yang sedang fokus memakai lipstik di bibir merah mudanya seketika terpaku saat melihat sosok yang terlihat di cermin yang ada di hadapannya. Konsentrasi Karren dalam membuat ombre lips langsung buyar. Fokusnya saat ini sudah tdak pada bibirnya lagi, tapi pada manusia tampan bertubuh seksi yang ada di belakangnya.


Demi spongebob yang berbentuk kuning dan berwarna kotak... eh? Demi spongebob yang berbentuk kotak dan berwarna kuning, Gibran terlihat sangat hot saat dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.


Perut kotak-kotaknya yang menjadi favorit Karren itu terlihat jelas, di tambah buliran air yang menetes di tubuhnya membuat Karren merasa sesak napas.


Karren jadi bertanya-tanya sebenarnya kebaikan apa yang sudah dia lakukan sampai tuhan memberinya jodoh yang luar biasa seperti Gibran? Seingatnya selama ini yang dia lakukan hanyalah berbuat dosa dan menjadi beban orang tuanya saja.


Karren merutuki Gibran di dalam hatinya, bisa-bisanya laki-laki itu membuatnya tergoda di saat dia sudah berpakaian rapih dan bersiap untuk ke kampus seperti ini. Kenapa tidak nanti malam saja sih?


Gibran yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil itu langsung berhenti saat pandangannya dan pandangan Karren bertemu lewat cermin. Entah apa maksud Karren yang sedang menatapnya dengan tatapan menggoda dan menggigit bibirnya seperti itu.


“Jangan menggoda Karren!” tegas Gibran yang langsung membuang muka karena dia tidak ingin tergoda oleh godaan istrinya itu.


Karren langsung memanyunkan bibirnya dan berbalik menatap Gibran secara langsung dengan tatapan tidak terima. Bisa-bisanya Gibran menuduhnya seperti itu padahal jelas-jelas di sini dia yang menggoda Karren.


“Bukannya kamu yang goda aku? Keluar kamar mandi cuma pakai handuk kayak tarzan gitu.” Ucap Karren kesal.


“Kok kamu malah marah? Apa salahnya kalau aku keluar kamar mandi cuma pakai handuk? Biasanya aku juga gini.” Balas Gibran yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Karren.


Tapi kan sekarang ada aku yang tinggal di kamar ini juga.” Balas Karren.


“Terus kenapa? kamu kan istri aku, kamu juga udah lihat semuanya kan?” ucap Gibran yang malah membuat Karren tersipu malu.


Tentu saja Karren sudah mengabsen setiap jengkal tubuh Gibran dan merekamnya di otak agar dia bisa memutarnya kembali jika sedang gabut. Tapi tetap saja pemandangan seperti itu masih membuatnya tergoda dan belum terbiasa.


Gibran merasa aneh dengan Karren yang malah hanya diam saja tidak mengatakan apapun lagi, padahal sepertinya dia tadi sedang kesal.


“Kenapa kamu jadi diam?” tanya Gibran.


“E-engga!” balas Karren yang jadi salah tingkah.


Gibran meneliti wajah Karren, walaupun tidak bisa melihat warna asli pipinya karena sudah tertutup oleh make up yang berlapis-lapis, tapi Gibran tau kalau saat ini Karren sedang tersipu malu.