DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 61 (WARNA SAMA)


“Widih,, cantik banget lo Ren, nyesel gue jadi sepupu lo, kalau lo bukan sepupu gue pasti udah gue gebet lo.” Suara seseorang membuat Karren langsung menoleh.


Wajah tegang Karren seketika berubah menjadi kesal saat melihat wajah Darren yang sedang memamerkan gigi putihnya. Terlebih saat mendengar kata-kata yang di ucapkan Darren terdengar menggelikan di telinga Karren, bisa-bisanya Darren berpikiran sampai ke sana.


“Andai lo beneran bukan sepupu gue, gue tetap ga mau jadi gebetan lo, gue ga mau sama pakboy cap buaya buntung kayak lo!” ketus Karren sambil melirik tajam ke arah Darren.


“Heh, mantan lo si Kevin juga pakboy kali sama aja kayak gue, tapi kok lo mau sama sia?” tanya Darren.


“Tapi dia ga separah lo!” balas Karren lalu kembali melangkahkan kakinya.


Darren ikut berjalan di samping Karren, laki-laki itu terlihat keren seperti biasa, penampilannya terkesan santai tapi tetap cocok di pakai ke acara ulang tahun.


“Eh, btw lo kok mau sih dateng ke acara kayak gini? Tumben banget.” Ucap Karren penasaran.


Karena biasanya Darren tidak akan datang ke acara yang dominan di hadiri oleh orang dewasa, biasanya Darren akan pergi ke tempat yang bisa membuatny cuci mata melihat wanita-wanita cantik dan seksi.


“Pertama karena emang gue di undang, kedua gue mau cari makanan gratis, apa lagi memangnya? Habis kenyang nanti gue langsung pulang.” Ucap Darren dengan santainya.


“What!? Lo bisa beli semua makanan yang lo mau Darren, kenapa harus datang ke sini cuma cari makanan gratis? Kayak ga pernah makan enak aja lo!” ucap Karren tidak percaya.


“Gue adalah warga negara Indonesia yang ingin menjunjung tinggi slogan, ‘jika ada yang gratis kenapa harus beli?’” Darren memamerkan gigi putihnya membuat Karren jengah di buatnya.


Karren segera melanjutkan langkahnya mendahului Darren, namun karena langkah Darren panjang jadi dia bisa dengan mudahnya menyusul Karren.


“Hai sayang, akhirnya kamu datang juga.” Sambut Yulia dengan senang saat melihat Karren berjalan ke arahnya.


Yulia memeluk Karren dengan erat, begitu juga dengan Karren yang membalas pelukan Yulia.


“Maaf tante Karren sedikit terlambat.” Ucap Karren yang merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa, kalau melihat penampilanmu yang sangat cantik ini tante bisa mengerti kenapa kamu sedikit terlambat.” Balas Yulia sambil tersenyum.


Pandangan Yulia beralih pada darren yang ada di sebelah Karren, tiba-tiba saja tatapan yang awalnya sangat ramah langsung menatap Darren dengan tajam dan sangat menakutkan.


“Wih, buah emang ga jatuh jauh dari pohonnya ya? Tatapannya serem sama kayak tatapan pak Gibran.” Batin Darren sambil tersenyum ramah ke arah Yulia.


“Siapa yang datang sama kamu itu Karren?” tanya Yulia dengan wajah yang tidak bisa di bilang ramah.


Yulia memang pernah melihat Darren di rumah Karren, tapi dia tidak tau ada hubungan apa di antara keduanya.


“Oh ini sepupu aku tante, namanya Darren anaknya aunty Andini.” Jawab Karren.


Senyum Yulia yang awalnya sempat hilang seketika kembali lagi, wajahnya terlihat lebih ramah setelah mengetahui kalau Darren adalah sepupu Karren, Yulia pikir Darren adalah kekasih Karren.


“Darren tante.” Ucap Darren mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya.


“Panggil tante Yulia aja.” Ucap Yulia sambil membalas uluran tangan Darren.


“Oh iya tante, ini hadiah buat tante. Selamat ulang tahun ya tante, doa terbaik buat tante.” Ucap Karren sambil memberikan kado yang dari tadi dia bawa.


“Terimakasih sayang.” Balas Yulia sambil mengambil kado yang di berikan oleh Karren.


Di sana sudah ada banyak tamu undangan, baik para tetangga maupun teman-teman Yulia sudah berkumpul di sana. Yulia juga mengundang band yang sedang trend saat ini membuat suasana semakin ramai.


Karren melihat sekeliling dekorasi ulang tahun Yulia, lalu kedua matanya tidak sengaja bertatapan dengan Gibran yang sedang mengobrol dengan papanya.


Laki-laki itu terlihat sangat tampan malam itu, tapi ada sesuatu yang membuat Karren ingin berteriak, yaitu pakaian yang Gibran pakai berwarna maroon sama seperti warna baju yang dia pakai saat ini.


Kenapa warna baju mereka sama? Karren ingat sekali kalau kemeja yang sekarang Gibran pakai adalah kemeja pilihannya, namun waktu itu Karren memilih berbagai macam warna tapi kenapa kebetulan sekali Gibran memakai kemeja yang berwarna maroon.


“Kenapa dia pakai yang warna maroon sih? Gue kan milih yang warna navy, ada juga yang hitam, terus kenapa harus maroon?” gumam Karren pada dirinya sendiri.


Karren menyesal memilihkan baju itu untuk Gibran, karena Gibran terlihat makin mempesona dengan baju itu.


Yang membuat Karren semakin miris adalah, Gibran memakai kemeja pilihan Karren untuk mengenalkan calon istrinya yang sudah bisa dipastikan orang itu bukan Karren.


Karren benar-benar ingin menjambak rambut Gibran yang sangat tidak punya akhlak memakai kemeja pilihannya untuk mengenalkan wanita lain.


Gibran yang awalnya sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja beralih menatap ke arah Karren yang sedang melihatnya, Gibran menatap lekat Karren saat itu, mungkin terpesona dengan penampilan Karren yang terlihat sangat cantik.


Walaupun tau kalau Gibran sedang melihatnya, Karren justru memalingkan wajahnya dan memutuskan untuk menemani Darren yang sedang mencari makanan. Sepupunya itu sudah menghampiri meja makanan padahal acara belum di mulai.


“Lo rakus apa laper sih Ren? Acara belum di mulai lo udah nyari makan.” Ucap Karren saat sudah berdiri di samping Darren.


“Lah bodo amat, dari pada lo alay sampe baju aja samaan.” Balas Darren.


“Maksud lo?” tanya Karren yang tidak mengerti apa maksud dari ucapan sepupunya itu.


“Lo sama pak Gibran sengaja pake baju couple kan?” tanya Darren dengan mata yang menyipit meminta jawaban.


“Sok tau lo jadi orang! Sebelum kenal sama Gibran gue emang udah punya baju ini!” balas Karren sambil menonyor kening Darren.


“Kok lo sama pak Gibran bisa pake baju samaan gitu sih? Janjian ya lo berdua?” pertanyaan Darren kembali membuat Karren kesal.


Dia sendiri saja tidak tau kenapa dia dan Gibran bisa memakai baju yang warnanya sama, kalau ganti baju ga ribet mungkin dia sudah pulang dan mengganti warna bajunya.


“Gue sama dia ga janjian! Kebetulan aja sama, lagian kan hubungan gue sama dia udah mulai renggang.” Balas Karren.


“Oh gitu, pantesan lo nempel mulu sama Kevin.” Ucap Darren sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


“Mau nemplok ke elo, lo sibuk ngejar Anindita terus!” sindir Karren.


“Hahaha, tenang aja gue hari ini ga lagi ngejar Anin kok jadi lo bisa nempel ke gue sepuasnya, tapi besok gue mulai mengejar Anin lagi.” Ucap Darren.


Karren hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sepupunya, dia berharap kalau Anindita adalah pawang yang bisa menaklukan buaya seperti Darren agar sepupunya itu bisa berubah.


Di sisi lain, Gibran terus menatap Karren yang sedang mengobrol dengan Darren, matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Karren yang hari terlihat sangat cantik.


Sayangnya dia tidak melihat senyum perempuan itu dari tadi, wajahnya terlihat sedih seperti ada sesuatu yang mengusik hatinya.