DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 116 (IJIN GIBRAN)


“Iya gue tau itu salah satu mimpi lo buat jadi model mereka, tapi ini temanya couple, lo yakin pak Gibran bakal kasih ijin?” tanya Kevin.


Seketika tubuh Karren lunglai mendengar pertanyaan Kevin, dia menghempaskan punggungnya di kursi, harapannya yang tadi bersinar terang tiba-tiba saja meredup setelah ingat jika Gibran sudah tidak mengijinkannya untuk foto couple lagi.


Padahal ini adalah salah satu mimpi Karren, dia sudah lama berharap foto dirinya bisa masuk ke V0GUE Magazine.


V0GUE Magazine adalah majalah mode bergengsi di kancah internasional, dia akan sekelas Gigi Hadid, Kendall Jenner, BlackPink dan masih banyak lagi orang-orang terkenal yang wajahnya muncul di majalah itu.


Level seorang model akan naik drastis jika wajahnya terpampang di majalah itu, apa lagi terpampang di cover nya. Sungguh Karren tidak mengira jika dia akan mendapat tawaran sebagus itu di usia karier modellingnya yang bisa di katakan masih belum lama.


“Kenapa tawarannya masuk pas gue udah nikah sih..” gumam Karren sangat menyayangkan tawarannya.


“Kalo emang ga di bolehin sama pak Gibran mendingan li ga usah terima deh Ren, dari pada nanti lo di tabrak mobil kalau durhaka sama suami, kayak di sinetron yang biasa di tonton sama oma.” Sahut Darren yang dari tadi mendengar pembicaraan Karren dan Kevin.


“Ck! Mana mungkin gue melewatkan kesempatan berharga ini Ren.” Ucap Karren sambil berdecak kesal karena saran dari sepupunya.


“Emang lo mau mati ketabrak mobil, terus jenazah lo nyemplung ke sungai? Ga banget Ren, lo hampir mati di dalem toilet loh.” Ucap Darren.


“Kok lo malah doain gue sih Ren?” ucap Karren menatap Darren kesal.


“Gue ga doain lo Ren, gue cuma ngingetin aja, katanya itu kisah nyata loh, ya kali aja nasib lo bakal sama kayak gitu kalo durhaka sama suami.” Balas Darren memberi alasan.


Karren mendengus kesal lalu membuang muka. Tanpa sepengetahuan mereka, Kevin sejak tadi memakan mie Darren yang menganggur karena di tinggal pemiliknya berdebat dengan Karren. Kevin mengunyahnya dengan cepat lalu kembali menegakkan tubuhnya seperti tidak terjadi apa-apa, dia pura-pura bermain ponsel agar terlihat lebih meyakinkan.


“Kayak gini nih konsepnya Ren.” Ucap Kevin sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sepasang kekasih yang sedang berfoto di pinggir pantai.


Kostum yang di pakai pasangan itu cukup sopan, membuat Karren menarik lebar senyumnya. Dia berharap kalau Gibran akan mengijinkannya jika melihat kostum yang Karren pakai tidak terlalu terbuka.


“Beneran baju yang di pakai kayak gini? Bukan bikini kan?” tanya Karren.


“Engga lah, kata Dina kemarin lo cuma pakai dress pantai aja.” Jawab Kevin.


Karren tersenyum semakin lebar, peluangnya untuk mendapatkan ijin dari Gibran semakin besar jika begitu.


“Tapi, pemotretannya di Paris.” Ucap Kevin.


Gubrak!! Tubuh Karren kembali lemas, bagaimana bisa dia meninggalkan suaminya di saat seharusnya dia membangun momen romantis selama menjadi pengantin baru.


Walaupun mereka memang akan berbulan madu ke Paris, tapi itu belum waktunya mereka liburan dan artinya Gibran pasti masih ada jadwal mengajar.


“Yang nikah gue sama Gibran, lah masa iya gue ke Paris nya sama Kevin.” Gumam Karren yang frustasi dengan semua ini.


Darren memutuskan untuk kembali menyantap mie nya yang menganggur sejak tadi, tapi dia langsung mengerutkan keningnya saat melihat mangkuk mie nya terlihat sudah berubah tempat dan isinya juga sepertinya sudah berkurang.


Dia langsung menoleh ke arah teman-temannya dan menajamkan tatapannya untuk melihat siapa orang yang habis memakan mie miliknya.


Semua orang melihat ke arah Darren dan mangkuk mienya, namun tidak dengan Kevin, dia malah mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya membuat Darren mencurigai sahabatnya itu.


“Lo yang makan mie gue kan Vin!?” ucap Darren langsung menuduh Kevin.


“Dih? Apaan sih lo Ren, kok lo malah nuduh gue, gue kan dari tadi liatin foto ke Karren.” Ucap Kevin mencari alasan.


“Ga usah ngeles deh, gue tau lo yang makan mie gue, lo ga bisa bohong sama gue, gue tau akal buaya lo!” ketus Darren.


“Lo pelit amat sih Ren! Timbang mie juga, di beliin lagi sama si Silvia.”


“Lah masih mending, lo malah ga beli sama sekali ga modal lo!”


“Udah udah! Kalian berdua ini kayak anak kecil aja deh!” tegas Silvia menengahi keduanya.


“Tau sih lo Ren, kayak orang ga pernah makan aja lo! Lo lupa yang punya pabrik mie itu opa, lo minta aja sono terus makan sampe tipes!” sahut Karren.


Mendengar ucapan sepupunya membuat Darren mengendus kesal, sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepala, mereka semua tidak kaget sama sekali kalau keluarga Karren dan Darren memiliki pabrik ini dan itu, mereka sudah berteman sejak SMA tentu saja mereka sudah mengenal siapa keluarga Karren dan Darren.


***


Karren menopang dagunya dengan pandangan yang kosong. Di hadapannya sekarang penuh peralatan tempurnya berupa buku, laptop dan kertas-kertas yang berserakan.


Dia baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya, tapi masih belum niat beranjak dari karpet tebal dan berbulu yang sedang dia duduki.


Dengan alasan agar bisa sama-sama berkonsentrasi dengan apa yang sedang di kerjakan, Karren dan Gibran memilih mengerjakan tugas mereka di ruangan yang berbeda. Karren memilih kamar sebagai tempatnya mengerjakan tugas, sedangkan Gibran berada di sebelah kamarnya dan Karren.


Hembusan napas panjang lagi-lagi lolos dari hidung Karren, otaknya masih terus terpaku pada tawaran yang Kevin bicarakan tadi siang. Bahkan konsentrasi Karren dalam mengerjakan tugas sempat terpecah saat teringan masalah itu.


Jujur saja, Karren sangat ingin menerima tawaran itu, namun di sisi lain dia juga harus mengantongi ijin dari Gibran lebih dulu. Tanpa ijin dari Gibran Karren tidak bisa menerimanya, namun jika Karren tidak menerima tawaran itu, dia pasti akan menyesal karena itu adalah salah satu cita-citanya yang sekarang sudah berada di depan mata.


Andai saja Karren tidak terburu-buru menikah dan lebih fokus mengejar mimpinya, pasti hal ini tidak akan terjadi. Karren pasti langsung menerima tawaran yang dia idam-idamkan sejak di bangku SMA itu dengan mudah karena orang tuanya pasti akan mendukungnya.


Pemikiran seperti itu mulai menguasai otak Karren, dia mulai berandai-andai tapi dia juga tidak menyesal menikah dengan Gibran karena dia memang mencintai Gibran, hanya saja timingnya saja kurang pas.


Karena sudah pusing memikirkan masalahnya tanpa berhasil menemukan solusi, Karren memilih untuk merapihkan alat tempurnya. Dia menutup laptopnya lalu merapihkan buku-bukunya dan meletakkannya di rak.


Karren meregangkan otot tubuhnya yang sempat kaku karena dia pakai untuk duduk selama hampir sekitar tiga jam. Tujuannya setelah ini adalah ruang kerja Gibran.


Dia ingin meminta ijin kepada Gibran dari sekarang agar tidak memikirkannya lagi dan menebak-nebak jawaban apa yang akan Gibran berikan. Walaupun karren sudah yakin jawaban apa yang akan di berikan oleh Gibran atas permohonan ijinnya itu.


Namun, Karren tetap berharap Gibran mendapat hidayah yang akan membuatnya mempertimbangkan permohonan ijin Karren.