DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 51 (HUJAN)


Anindita baru saja keluar dari ruang BEM, dan ternyata benar namanya berada di buku catatan karena telat. Padahal dia sudah berusaha untuk bangun lebih pagi dan segera berangkat, kalau bukan karena Darren yang hampir menabraknya tadi mungkin dia tidak akan terlambat.


Anindita memutuskan untuk menyusul sahabatnya ke kantin, namun di sepanjang jalan Anindita baru kepikiran sesuatu, tadi ia di minta untuk mengisi selembar kertas yang berisi biodata dirinya, namun yang membuatnya bingung kenapa pertanyaan di kertas itu mencangkup nama akun medsos dan nomer ponselnya.


Di tempat lain, Darren sedang memegang selembar kertas yang tadi di isi oleh Anindita dengan senyum.


“Ngapa lo senyam senyum?” tanya salah satu anggota BEM.


“Ga apa-apa gue.”


“Itu kertas apaan? Emang ada kertas kayak gitu ya?” tanya anggota BEM saat melihat kertas yang di pegang Darren.


“Ah ini? Cuma kertas mainan.” Balas Darren berbohong.


***


Karren sedang menatap ke luar jendela kelasnya, di luar hujan sangat deras ya memang sejak pagi langit sangat mendung dan sekarang hari sudah sore.


Karren mengirim pesan kepada Darren agar nanti mereka pulang bersama lagi, Darren memang sejak pagi tidak masuk kelas dan beralasan kalau dia sibum mengurus ospek.


Tiba-tuba saja Karren mendapat pesan dari sepupunya itu.


Darren :


Sorry Ren, gue gak bisa balik bareng lo, gue hari ini pulang duluan capek banget gue habis ngurus ospek.


Karren kesal, tangan Karren gatal ingin sekali menganiaya sepupunya yang menyebalkan itu. Saat pulang nanti Karren akan mengadukan Darren kepada maminya agar Darren di marahi.


Karren tidak akan sepusing ini jika tidak mengingat kalau hanya Darren yang membawa mobil, Silvia akan di jemput oleh gebetan barunya, sedangkan Kevin hari ini tidak membawa mobilnya dan memakai motor ke kampus.


“Kalau gue balik sama Kevin sama aja kehujanan juga huh..” gumam Karren yang masih kesal dengan Darren.


Kelas terakhir pun selesai, namun Karren masih duduk di tempatnya sambil menatap ke luar jendela.


“Gue balik duluan ya Ren, lo beneran di jemput sama Darren kan?” tanya Silvia.


“Iya gue di jemput Darren kok nanti, lo hati-hati ya, have fun juga.” Balas Karren sambil tersenyum manis seperti biasanya.


Karren sengaja berbohong kepada sahabatnya itu karena dia tidak ingin kalau Silvia khawatir, Karren juga pengertian, dia tidak mungkin mengganggu Silvia dengan gebetannya dan menjadi obat nyamuk.


Kursi di samping Karren tiba-tiba ada yang menduduki, siapa lagi kalo bukan Kevin, Kevin menopang pipinya dengan tangan kanannya dan menatap Karren dengan senyum manisnya.


“Lo galau beb? Kok ngelihatin hujan sampai segitunya.” Ucap Kevin tiba-tiba membuat Karren yang awalnya fokus dengan hujan langsung menoleh ke arah Kevin.


Emang setiap orang yang liatin hujan berarti galau?” tanya Karen.


“Ya engga juga sih, tapi kalo di drama romantis kan begitu.” Balas Kevin sambil memamerkan gigi putihnya.


Karren hanya menggelengkan kepala dan menatap jengah ke arah Kevin, Kevin dan Darren sama saja, sama-sama absurd dan itulah yang membuat mereka berdua sangat cocok.


“Pulang yuk beb, gue ngantuk nih apa lagi hujan enaknya tidur ganteng.” Ucap Kevin.


Karren yang mendengar ucapan Kevin semakin kesal karena mengingat sepupunya yang menyebalkan itu pasti saat ini sudah tertidur nyenyak di balik selimut tebal nan hangat.


“Ogah! Nanti kehujanan terus gue sakit gimana?” tanya Karren.


Karren semakin kesal mendengar ucapan Kevin, kenapa Kevin memiliki kadar menyebalkan yang berlebihan, kalau Kevin sedikit normal sedikit saja, Karren pasti akan membawa Kevin ke hadapan kedua orang tuanya tanpa ragu.


Jujur saja, sebenarnya Karren masih menyayangi Kevin sampai saat ini, bahkan sebenarnya Karren takut kalau suatu saat nanti Kevin akan menemukan wanita yang mampu membuat Kevin pergi darinya.


Karren masih belum siap bahkan membayangkannya saja takut klau dia harus kehilangan Kevin yang selama ini selalu berada di sampingnya.


“Lo jangan terlalu dekat sama Darren deh Vin, nyebelinnya Darren jadi nular ke elo kan!” ketus Karren.


Mereka berdua diam sejenak, Karren kembali menatap keluar jendela, sedangkan Kevin masih setia menatap wajah Karren dari samping.


Tiba-tiba saja Karren melihat adanya pergerakan dari Kevin, awalnya Karren kira kalau Kevin akan meninggalkannya, tapi ternyata Kevin membuka jaket kulitnya dan memakaikan jaket itu ke tubuh Karren.


“Kalo musim hujan gini lo harusnya pake baju yang agak tebal beb, lo bisa aja masuk angin walaupun ga kehujanan.” Ucap Kevin.


“Thanks.” Balas Karren sambil tersenyum ke arah Kevin.


“Lo beneran ga mau balik sama gue?” tanya Kevin sekali lagi, karena setelah ini dia benar-benar akan pulang karena matanya sudah sangat mengantuk.


“Enggak! Lagian lo kenapa ga pake mobil aja sih Vin?” tanya Karren.


“Males gue bawa mobil kena macet.” Balas Kevin.


Karren hanya mengendus kesal, lalu dia tidak sengaja melihat Gibran dan Sarah melewati koridor depan kelasnya.


“Vin bentar gue cari tumpangan dulu, kalo ga ada baru gue balik bareng lo.” Ucap Karren yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


“Terus aja gue di jadiin cadangan Ren..” gumam Kevin kesal.


Walaupun kesal, tetap saja Kevin menunggu Karren sambil memainkan ponselnya dan membuka aplikasi game online.


Karren berlari ingin menyusul Gibran, Karren berjalan dengan sangat hati-hati karena lantainya basah terkena cipratan air hujan dari luar.


“Pak Gibran..” panggil Karren sedikit keras agar Gibran yang berjalan cukup jauh darinya bisa mendengar suaranya.


Langkah Gibran terhenti, begitu juga dengan Sarah. Keduanya menoleh ke asal suara secara bersamaan.


Karren yang sudah berada di hadapa Gibran berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Saat itu Gibran menatap Karren dengan wajah datarnya, sedangkan Sarah menatap Karren dengan tatapan sinis.


“Ada apa kamu memanggil saya?” tanya Gibran.


“Saya boleh ikut bapak pulang?” tanya Karren.


“Maaf saya gabisa kasih kamu tumpangan, saya harus mengantar Sarah pulang.” Balas Gibran yang membuat tubuh Karren mendadak lemas.


Karren melirik ke arah Sarah yang saat ini sedang tersenyum karena puas dengan jawaban yang di berikan oleh Gibran.


"Kalo bapak mau anter Bu Sarah dulu juga ga apa-apa kok pak, lagian cuma bapak aja tetangga saya yang belum pulang." ucap Karren.


Biarlah kali ini dia mengesampingkan rasa malunya yang penting dia tidak kehujanan.


Karena sebenarnya walaupun seperti wanita perkasa, Karren adalah orang yang memiliki sistem imun rendah, dia akan langsung sakit jika kehujanan sekali saja.


Kalau bukan karena itu Karren pasti sudah pulang bersama Kevin tadi dari pada harus mempermalukan dirinya sendiri.