
“Setelah aku nikah, sekarang kalian berdua mau buat anak lagi?” tanya Karren dengan penuh rasa curiga.
“Yaampun Karren! Sejak kapan kamu bisa membaca pikiran orang?” tanya Key dengan pura-pura terkejut.
Karren semakin kesal dengan jawaban maminya, Karren tau kalau maminya belum puas menjahilinya.
“Udah ah aku mau langsung ke kamar aja, aku mau ambil barang-barang.” Ucap Karren yang langsung menggandeng tangan Gibran dan membawanya ke kamarnya di atas.
Setelah Karren pergi, Key kembali fokus pada TV yang masih menayangkan tentang gosip yang sedang beredar, dia ingin tau apakah ada gosip tentang keluarganya.
Walaupun bukan keluarga artis tapi keluarga Kalandra seringkali muncul di TV, ada banyak gosip yang beredar tidak sesuai dengan faktanya dan itu akan langsung Key adukan kepada papinya agar segera di usut.
Kadang ada gosip yang beredar tentang keponakan-keponakannya yang di kaitkan dengan artis pendatang baru yang hanya bermodalkan tampang dan tubuh seksinya saja dan itu benar-benar membuat nama keluarganya tercoreng.
Karren segera masuk ke dalam kamarnya, aroma parfum manis dan menggoda khas Karren langsung tercium. Gibran ikut masuk ke dalam, matanya menjelajah isi kamar Karren, meskipun dia bisa melihat kamar Karren dari balkon kamarnya, tapi tidak sejelas saat dia melihat langsung ke tempatnya.
Kamarnya sangat luas dengan dinding bercat putih, ada walk in closet juga yang pasti tidak akan Karren temukan di kamar Gibran. Sepertinya setelah ini Gibran harus merelakan satu ruangan di rumahnya untuk tempat penyimpanan baju-baju Karren yang sangat banyak itu.
Kamar Karren terlihat sangat rapi, semua barang berada di tempat yang seharusnya. Entah dia merapihkannya sendiri atau ART nya yang merapihkannya, ada banyak juga foto yang tergantung di dinding.
Foto berukuran sangat besar yang menampilkan Karren yang sedang berpose sensual layaknya cover majalah terpajang indah di dinding tempat di atas kepala ranjang.
Ada foto Karren dan keluarganya juga, foto keluarga besarnya bersama saudara-saudaranya dan kakek neneknya juga ada di dinidng kamarnya.
Pandangan Gibran teralih pada Karren, Gibran di buat terkejut saat melihat Karren yang sedang melepas pakaiannya tanpa merasa malu sama sekali padahal ada Gibran di sana.
Gibran masih mematung di tempatnya, sedangkan Karren yang kebetulan melihat Gibran yang sedang melihatnya langsung tersenyum tipis.
“Aku mau ganti baju dulu, baju yang tadi bahannya panas jadi ga enak kalo buat beres-beres.” Ucap Karren dengan santainya.
“Kamu ga malu ganti baju di depan saya?” tanya Gibran sengja memancing karena kemarin Karren masih malu-malu kucing.
“Engga, kan kamu suami aku. Kamu juga udah lihat semuanya kan?” ucap Karren dengan genit, jiwa penggoda di dalam dirinya mulai bangkit kembali seiring berjalannya waktu.
“Kemarin aja kamu malu-malu di depan saya.” Balas Gibran sambil tersenyum jail.
“Kan kemarin baru pertama kali mas.” Ucap Karren sambil cemberut yang membuat Gibran tertawa singkat.
“Pakai bawahan yang agak panjang sedikit, kamu seperti tidak memakai celana kalau seperti itu.” Ucap Gibran saat melihat Karren memakai celana pendek yang tertutup kaus oversize nya.
Karren memutar bola matanya, sifat posesif Gibran kembali kambuh di saat seperti ini.
“Kan aku ga ke mana-mana mas, lagian di sini cuma ada kamu sama mami aja yang lihat.” Balas Karren.
Tangan Karren dengan cepat mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam koper.
“Kamu tau kan apa akibatnya kalau kamu memakai baju sepertti itu di depan saya?” tanya Gibran.
“Mungkin dulu saya bisa menahannya mati-matian, tapi sekarang saya tidak akan menahannya lagi.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren tertawa, tentu saja dia tau apa maksud dari ucapan suaminya.
Karren memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menghampiri Gibran yang sedang duduk di kursi meja belajarnya.
Senyum manis terukir di bibir Karren yang sekarang sedang memakai lipstick berwarna nude. Dia menatap Gibran dengan tatapan menggoda.
“Jadi, selama ini kamu menahan sesuatu setiap lihat aku pakai baju kayak gini?” tanya Karren menggoda Gibran.
Karren menggerakkan tangannya untuk mengelus rahang Gibran degan lembut membuat laki-laki itu merinding seketika.
“Saya kan sudah bilang, saya hanyalah laki-laki biasa. Melihat kamu memakai pakaian seperti itu tentu saja berpengaruh untuk saya, apa lagi kamu sering kali menggoda saya dengan sengaja.” Ucap Gibran dengan malas.
“Pfftt, jadi kamu bakal kayak gitu setiap liat cewek seksi?” tanya Karren.
Gibran menggeleng, tatapannya lembut menatap Karren penuh dengan cinta.
“Tidak. Hanya dengan kamu saya seperti itu, saya juga tidak tahu kenapa, tapi melihat perempuan lain berpakaian seksi sama sekali tidakmemberikan efek apa pun untuk saya.” Balas Gibran sambil mengecup kening Karren di akhir kalimatnya.
“Hahaha, kamu udah pinter gombal ya sekarang.” Ucap Karren sambil terkekeh melihat Gibran yang memiliki banyak kemajuan.
“Tidak, saya tidak gombal tapi memang begitu adanya.” Jawab Gibran.
Lalu seketika tawa Karren terhenti, dia langsung cemberut saat mengingat sesuatu.
“Kamu kok masih formal gitu sih kalau ngomong? Kamu ini lagi ngomong sama istri kamu loh, aku jadi berasa nikah sama robot.” Protes Karren.
“Emangnya robot ngomongnya seperti itu?” tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya.
“Iya, kamu itu mirip banget sama robot, lebih tepatnya robocar poli, kartun mobil yang bisa ngomong itu.” Ucap Karren kesal.
Gibran tidak mengerti nama kartun yang di ucapkan Karren.
“Seperti apa emangnya robocar poli?” tanya Gibran.
Karren langsung mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi kamera dan mengarahkannya ke wajah Gibran.
“Kayak gini!” ucap Karren yang membuat Gibran melotot.
“Karren, kamu jangan durhaka sama suami!” ucap Gibran.
Karren langsung beranjak dari pangkuan Gibran, dia kembali menata baju-bajunya yang akan dia bawa ke rumah Gibran.
Tangan Karren melipat baju-baju dengan cukup rapi lalu memasukkannya ke dalam koper.
Perdebatan tentang robocar poli baru saja selesai, Gibran juga sudah tahu bagaimana bentuk robocar poli karena dia sudah searching di google sangking penasarannya.
Gibran sempat protes kepada Karren karena menyamakannya dengan robot berwarna biru yang bisa berubah, kata Gibran robot itu terlalu kekanakan jika di samakan dengannya.
Gibran bahkan merekomendasikan untuk menyamakannya dengan robot megatron saja lain kali, dan hal itu langsung di setujui oleh Karren karena Gibran dan megatron sama saja, sama-sama garang.
Sambil menunggu Karren yang masih membereskan baju-bajunya, Gibran berjalan mengelilingi kamar Karren untuk melihat foto-foto yang tergantung di dinding.
Karren sangat narsis, itu terbukti karena foto-foto di kamarnya cukup banyak padahal dia hanya butuh kaca saja jika ingin melihat wajahnya sendiri tanpa harus memenuhi dinding dengan fotonya.