Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris

Dihina Miskin Ternyata Sang Pewaris
Bab 61. Aku yang sebenarnya


Saat Rendi bertepuk tangan saat memperlihatkan Lamborghini Gallardo miliknya. Saat itu sebuah ingatan kembali pada Zack. Ternyata pasangan itu adalah pria dan wanita itu yang pernah ia temui saat dirinya hendak membeli mobil. Saat itu Mina memakai riasan tebal dan sekarang hanya riasan tipis, itulah kenapa dia hanya samar-samar mengingatnya. Yang masih teringat jelas dalam benaknya adalah, saat Mina menolak keluar dari Lamborghini Aventador yang sudah dia beli.


"Dunia memang kecil." gumam Zack.


"Kalian pasti bisa menebak, berapa kisaran harga mobil ini," ucap Rendi membanggakan mobilnya.


"Ren, apakah kita bisa pergi menggunakan mobilmu?" tanya Irina merasa iri.


"Tidak masalah. Oh, Revan apakah mereka temanmu?" Rendi berbalik dan melihat Zack dan Sisil. Namun Rendi tidak terlalu memperhatikan Zack, dia terkesan dengan kecantikan Sisil.


"Oh, dia sepupuku namanya Sisil, dan pecundang itu pacarnya." Irina memperkenalkan dengan masam.


Rendi tersenyum lalu mendekat untuk berjabat tangan dengan Sisil.


Namun tangannya dicegat Zack.


"Apa kabar?"


"Ah." Rendi mengerutkan keningnya kesal, karena harus berjabat tangan dengan gelandangan.


" Bagaimana kabarmu? Apa?! Anda lagi?"


Rendi melirik sebentar lalu tertegun melihat Zack, bahkan tubuhnya gemetar.


"Wah, tuan Albert. Senang bertemu denganmu lagi." Rendi langsung semangat menyambut tangannya dengan antusias.


"Apa?! Ren, kamu baru memanggilnya apa?" tanya Irina terkejut.


"Tuan Albert, kamu disini untuk menemani pacar mu belajar mengemudi kah?"


"Tidak... tidak ... kita berdua mengikuti tes mengemudi bersama."


Meskipun mereka sempat bersikap kasar padanya, namun sikap sopan mereka, Zack pun ikut bersikap sopan.


Irina dan Revan nampak bingung melihat Rendi yang menunjukkan sikap sopan pada pria yang tak punya uang seperti Zack.


" Begini, kebutuhan saya pergi dan melewati universitas Garda, bolehkah saya menawarkan tumpangan," ucap Rendi dengan ramah.


"Yah." Zack tak keberatan begitu juga dengan Sisil. Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Irina dan Revan yang masih berdiri di sana.


"Zack itu... menurutmu apa yang dikatakan Sisil apa benar, kalau dia adalah pewaris yang kaya? Kenapa Rendi memperlakukan dia seperti itu?"


"Hmph. Irina jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan." gumam Revan.


"Aku punya banyak koneksi di universitas GARDA. Tak butuh waktu lama, aku pasti menemukan jawabannya." Tidak hanya Irina, Revan juga tersinggung dengan sikap Zack.


Setelah menurunkan Zack dan sisil, tak lupa Rendi meminta kontak telepon Zack. Karena Rendi sudah bersikap baik padanya, diapun tidak bisa menolaknya dan dengan terpaksa memberikannya, namun Zack menolak tawarannya untuk makan


Zack dan Sisil berjalan berdampingan kembali ke kampus. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya, hanya saja sekarang terasa berbeda. Sisil baru saja mengakui dirinya pacar. Tapi Zack tidak sebodoh itu dengan senang saat menjadi umpan pacar palsu.


Zack ingin bahagia tentang ini. tapi tidak dia tidak senang karena dimanfaatkan.


"Tidak papa. bukankah itu bagus? kamu membela harga dirimu. Dan selama satu jam, aku bisa memiliki kecantikan mu sebagai pacar, " kata Zack kecut.


Sisil melirik." Zack sejak kapan kamu belajar menjadi pembicara yang manis seperti itu. Aku benci hal semacam itu."


"Apakah itu artinya kamu membenciku sekarang?" Zack mulai berani bicara.


"Meskipun aku benci orang seperti itu, tapi aku tidak bisa membencimu. Bahkan jika aku berusaha."


Kata-kata tersebut membuat Zack bahagia .


"Tapi Zack. Kamu menyembunyikannya sesuatu dariku. Rendi itu tidak terlihat seperti orang biasa dalam sekejap. Mengapa dia sangat menghormati kamu? tidak, dia tidak hanya menghormati tapi juga menyanjung mu." Sisil sudah tidak tahan untuk tidak bertanya.


Zack hanya tersenyum lalu berkata, " Aku akan katakan padamu kalau aku adalah pewaris yang kaya. Namun, aku tidak Inging meninggalkan gaya hidupku dan teman-temanku saat ini. Itulah kenapa aku tetap hidup sederhana. Tentu saja Rendi harus bersikap sopan padaku."


"Sisil tersenyum lalu berkata." Zack aku menyadari kamu semakin buruk. Tidak ada kebenaran apapun yang kamu katakan. Aku tidak akan memaksa mu jika kamu tidak ingin mengatakan kebenaran. Oke aku harus kembali ke asrama sekarang. Tuan Albert, sekarang kamu sudah memiliki SIM. Aku hara kamu cepat pergi membeli mobil mewah dan mengajakku jalan-jalan." Mila berkedip, saat dia berpura-pura penuh kekaguman padanya.


"Jangan khawatir, aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan." Meskipun tahu Sisil tidak percaya dengan kata-katanya. Zack tetap menganggukkan kepalanya.


Setelah berpamitan dengan Sisil, Zack pun juga kembali ke asrama.


"Sialan zack! apa yang kamu lakukan? Ponselmu mati dan kami tidak bisa menghubungi kamu." Alex langsung mengeluh saat Zack kembali.


Mereka semua sedang sibuk berganti pakaian, mereka semua berdandan seperti akan kencan buta.


"Saat aku keluar, ponselku hampir kehabisan daya baterai, makanya aku matikan agar tidak menggangu tes mengemudi ku." Jawab Zack tanpa daya sambil kembali mengisi daya ponselnya.


"Kalian mau pergi kemana?"


"Jika bukan karena kami menunggu mu, kami sudah pergi dari tadi. Cepat ganti pakaian mu. Kami akan turun menunggu mu dibawah." ucap Heri sambil bercermin merapikan rambutnya.


"Sebenarnya mau kemana?"


"Hari ini ulang tahun Tiara. Dia berkata akan memperkenalkan beberapa gadis pada kita termasuk kamu. Hari ini kita tidak akan menjadi jomblo lagi." Heri tersenyum sangat indah.


"Selamat buat kalian, tapi aku-"


"Kami akan membunuhmu jika kamu tidak datang." Belum selesai dengan kalimatnya, teman-temannya sudah menerkamnya.


"pergi... pergi... aku tidak mengatakan aku tidak pergi kan?" Zack tersenyum pahit.


Mereka pun sampai dimana Tiara mengadakan pesta. Tiara dan yang lain sudah menunggu di pintu masuk.


"Zack kamu di sini?"


Pada saat ini Vera berdiri di samping Tiara. Merapikan rambut sebelum dia bicara dengan Zack.


To be continued 🙂🙂🙂