
Selama beberapa hari berikutnya, Zack tidak melakukan apapun yang menarik perhatiannya. Dia hanya menghabiskan semua yang yang ada di kartu untuk membeli sesuatu. Dia membeli beberapa pakaian bermerek, jam tangan, dan beberapa barang-barang mahal lainnya.
Nabila pernah menelpon Zack untuk meminjam sejumlah uang, tapi dia menolak untuk meminjamkannya. Bukan berarti dia kejam. Dia hanya ingin memberi Nabila pelajaran.
'Mengejar uang secara membabi buta tidak ada gunanya. Terkadang, ketika kamu mengira akan memilikinya, sebenarnya kamu kehilangannya.'
Setelah Zack menolak untuk membantunya, dia tidak mendengar tentang Nabila selama beberapa hari.
Karena hari ini hari Minggu, Zack memilih bersantai dengan membaca buku sambil berbaring di tempat tidur. Sementara Alex dan yang lain keluar untuk bersenang-senang.
Panggilan telepon berdering dan itu dari Bara. Zack buru-buru mengangkatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Zack?" tanya Bara di seberang telepon.
"Aku sedang membaca buku. Ada apa kak?"
"Aku sudah memeriksa transaksi kartumu. Kamu sudah menghabiskan uangnya. Kerja bagus. Aku mendengar dari Paman Lukman bahwa kamu sudah meningkat pesat. Kamu bahkan belajar menggunakan dana perusahaan untuk berinvestasi di perusahaan kecil. Aku sudah melakukan pemeriksaan latar belakang perusahaan yang kamu bantu. Apakah kamu jatuh cinta pada gadis itu? Apakah kamu akan memberikan adik ipar padaku?" jelas Bara sambil bercanda.
"Tidak, itu hanya teman." jawab Zack dengan pahit.
"Oke aku akan berhenti menggoda mu. Kamu mengingatkan ku tentang rencanaku membangun beberapa sekolah dan kompleks perbelanjaan di Garang. Mengapa kamu tidak mencoba melakukannya untuk ku?"
"Apa?! tapi aku tidak tau apa-apa tentang investasi." jawab Zack.
"Itulah kenapa aku ingin kamu belajar. Semua akan baik-baik saja. Paman Lukman akan membentuk tim luar biasa untuk membantumu melakukan ini. Kamu dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari cara menggunakan aset. Jika tidak, jika kamu tidak lulus ujian di masa mendatang, ayah akan melakukan...."
"Ujian apa?" Zack merasakan ada sesuatu yang aneh dari kata-kata kakaknya itu.
"Tidak papa. Ini bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui. Jangan memaksa ku untuk saat ini. Lakukan saja seperti yang aku katakan. Mulai sekarang, fokuslah pada investasi mu. Kamu bisa berinvestasi di industri apapun, yang menurutmu akan menguntungkan, baik itu bisnis, pendidikan, hiburan, atau apapun. Kamu bisa berinvestasi atas nama Garang Internasional Inc., dan mereka akan memberi dana." Setelah Bara menjelaskan dan mengingatkan Zack, Bara pun menutup teleponnya.
Saat ini Zack hanya bisa menggaruk kepalanya tanpa daya, karena dia tidak tau apa-apa tentang semuanya.
Sekali lagi telepon berdering dan kali ini yang menghubunginya adalah paman Lukman.
"Apakah anda sibuk tuan Albert? Jika tidak, bisakah ke villa MA sebentar? Tuan Herry dari biro perdagangan, tuan Amstrong dari biro pendidikan, dan beberapa orang berpengaruh datang ingin bertemu dengan anda."
"Aku tidak sibuk. Baiklah aku akan pergi sekarang." Jawab Zack, dan dia menolak paman Lukman yang akan mengirim mobil untuk menjemputnya dan dia memilih untuk pergi menggunakan taksi.
Saat dia duduk di dalam taksi, Zack memikirkan saat dia mendapatkan SIM, dia akan mengendarai mobilnya sendiri, dan dia menunggu saat itu datang.
Sesampainya tiba di Villa MA, Zack masuk lobby dengan santai.
"Tuan, apakah anda sudah membuat janji?" Tanya seorang pelayan. Namun, suara itu sangat familiar bagi zack.
Saat itu juga Zack berbalik dan menatapnya. Kedua mata saling bertemu, dan pelayan itu membuka mulutnya karena terkejut.
"Zack?!"
"Nabila?!"
"Mengapa kamu di sini?"
To be continued 🙂🙂🙂