
"Apa katamu? ahli waris yang kaya?!" Irina kembali tertawa.
Revan ikut mencibir, "Kalau begitu Zack, pekerjaan apa yang kamu miliki? dan keluarga mu terlibat di bidang apa?" Saat bertanya Revan kembali menunjukkan arlojinya, seolah-olah khawatir tidak ada yang melihat rolex nya.
Zack memandang mereka dengan dingin. "Kalian tidak pantas tau tentang bisnis keluarga ku."
"Bwahahahaha." mereka tertawa sambil memegangi perutnya.
Sisil menarik kemeja Zack dengan lembut, memohon untuk berhenti bicara.
Sisil mengatakan hal tadi karena dia panik, tapi tidak berharap Zack memanfaatkan itu semua. Sisil sadar kalau Zack orang yang sederhana dan sering di intimidasi. Walaupun dia memenangkan lotere atau tidak, tetap saja Zack tidak setara dengan Revan. Dia melakukan itu hanya untuk menyerang Irina.
Bang!
Sebuah botol dilemparkan ke tanah karena marah.
"Aku tidak peduli! Aku tidak perduli! Aku hanya mau lisensi ku, aku ingin memulai mengemudi hari ini. Tidak perduli apa yang harus kamu lakukan, aku harus mendapatkan SIM ku."
Zack menoleh dan melihat wanita muda dengan seorang pria yang berusaha membujuknya. Wanita itu gagal ujian untuk mendapatkan SIM, hingga membuat suasana hatinya tidak bagus.
"Tenang sayang, aku akan memikirkan sesuatu. Mungkin aku bisa menarik beberapa syarat untuk mengeluarkan lisensi yang dikeluarkan untukmu, entah bagaimana caranya."
Melihat pemandangan itu, Zack hanya mendesah, dia merasa tak asing dengan pasangan itu, tapi dia tidak ingat dimana persisnya mereka bertemu.
"Rendi, Mina." panggil Revan.
"Revan, kamu mengenal mereka?" Tanya Irina sambil menyisir rambutnya sedikit.
"Wow, Lamborghini Gallardo, itu sangat luar biasa." Irina kagum, bahkan Ferarri milik kekasihnya hanya separuh harga dari Gallardo.
"Revan, ah ternyata kamu ada disini." Saat mereka mendekat, Mina berhenti mengejek dan pada akhirnya mereka saling basa basi.
"Kebetulan sekali, setelah kelulusan kita tidak pernah bertemu lagi. Ayo lihat, kamu punya Ferrari yang sangat bagus. " Rendi tersenyum kecut.
"Apalah dibandingkan Ferrari milikku dengan Lamborghini Gallardo milikmu."
"Apakah kamu membawanya di sini? aku ingin melihatnya lebih dekat." Irina bergelayut di tangan Revan.
"Oh, kamu pacar Revan ya? Mobilku ada di sana. Kalian bisa lihat, tidak ada yang istimewa. Bagaimana kalau kita pergi makan saja setelah aku perlihatkan mobil Ku." ucap Rendi dan memimpin didepan.
"Hai Sisil, apa kamu tidak ingin melihatnya juga? Oh benar... sebaiknya tidak. Meskipun kamu melihatnya, sepertinya pacarmu tidak akan mampu membelinya untuk dirinya sendiri. Tidak seperti Revan yang punya Ferrari. Juga, Sisil kamu butuh uang belanja. Aku harap kamu mengerti. Jika Rendi menawarkan untuk mentraktir kita makan, Aku akan meminta Revan untuk memberikan kalian tumpangan. Namun karena kita akan pergi bersama Rendi sebentar lagi. Jika kamu membutuhkan uang tunai untuk naik taksi, katakan saja." Irina bicara sambil terkikik.
"Siapa perduli? Lagian tidak ada yang mau melihatnya. "Saut Sisil dan segera menyeret tangan Zack untuk pergi.
"Ayo kita lihat." tiba-tiba Zack menyarankan.
"Baik, baiklah mari kita lihat semuanya. Tapi ingat Rendi hanya berteman dengan Revan
Jangan harap mereka memperlakukan kalian dengan baik.
Zack akhirnya memimpin Sisil untuk melihat mobil Lamborghini Gallardo yang ternyata terparkir di samping Lamborghini miliknya.
To be continued.