
" Iya ini aku. Sepertinya kita bertemu lagi." Jawab Zack sambil tersenyum.
" Terimakasih banyak atas bantuannya. Aku benar-benar tidak sengaja, meninggalkan dompetku di kamar asrama." Sisil tersenyum, dia pun tidak menolak bantuan Zack justru berterimakasih karena sudah menolongnya dari masalahnya.
" Sama-sama." jawab Zack.
" Jangan kuatir, setelah aku menemukan dompetku aku akan segera mengembalikan uangnya padamu. Iya, apa kamu punya dompet elektronik? kalau punya aku akan langsung mentransfernya nanti."
"Iya, aku punya. "Zack tak ingin basa-basi, Walaupun sebenernya dia sangat senang dengan pertemuannya kali ini.
"Berikan nomormu, agar aku mudah memberitahumu saat aku akan transfer."
"Baiklah." Zack sama sekali tidak menolak pengembalian uang dari Sisil. Padahal jika pria lain, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan perhatian dari seorang gadis dengan menolak pengembalian uang. Namun sikap Zack berbanding balik.
"Kalau begitu, aku harus kali ke asrama. Aku akan mentransfernya nanti malam. Sekali lagi terimakasih. Oya sebelumnya kenalkan aku Sisil."
"Aku Zack."
Setelah itu Sisil pun tersenyum sambil melambaikan tangan lalu pergi.
Setelah memesan minuman, Zack pun kembali ke parkiran tempat dia memarkirkan mobilnya, dan ingin memandangnya lebih lama.
Namun saat dia kembali, mobilnya sudah di kerumuni orang-orang yang mengagumi mobil Lamborghini yang sedang terparkir itu.
"Mobil milik siapa ini?"
"Lihatlah ini mobil Lamborghini, pasti harganya di atas dua ratus juta."
Mereka saling berdiskusi, dan bertanya-tanya pemilik mobil tersebut. Mereka segera mengambil foto dengan berpose disekitar Lamborghini.
Selain itu mereka sangat penasaran dengan salah satu siswa kaya yang mampu membeli mobil tersebut, dan mereka ingin dekat dengannya agar bisa mengajaknya masuk kedalam Lamborghini tersebut.
"Permisi. Bisakah kalian membiarkan aku lewat..." Zack memutuskan untuk berjalan langsung menuju mobilnya.
"Minggir kamu! Kenapa kamu mengaku-ngaku mobil ini milikmu?" Tanpa terduga Zack disingkirkan oleh seorang gadis.
Dalam hati Zack sangat marah terhadap gadis itu. 'Siapa dia? Tanpa izin sudah berani duduk di atas mobilku. Kamu pikir kamu siapa bisa mengusirku.' Gumam Zack yang kesal dengan sikapnya.
"Lihatlah orang ini. Di benar-benar brengsek! berani maju untuk mengambil menggambar mobil itu. Sangat menjijikkan."
"Ha... ha... ha... Aku pikir dia ingin memanfaatkan situasi untuk mencari gadis yang bisa dia tipu dengan mengaku mobil ini miliknya."
"Akan baik-baik saja jika pemilik mobil ini datang dan yang mengerumuni para gadis. Namun bayangkan jika pemilik mobil ini melihat pria menjijikkan ini berada di depan mobilnya. Pasti dia akan sangat marah."
Satu persatu para gadis itu melemparkan hinaan pada Zack. Bahkan Zack malah di dorong menjauh oleh beberapa gadis yang semakin banyak mengerumuni mobilnya.
Zack sangat tidak berdaya saat ini. Jika dia ingin, Zack bisa menampar wajah mereka sekarang dengan cukup mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan membuka mobilnya secara langsung di depan mereka. Namun sayangnya Zack tidak terbiasa seperti itu, apa lagi didepan orang banyak. Yang menjadi tidak terduga, ternyata memarkirkan mobil sedikit jauh dari universitas memiliki efek yang sama saja.
Zack pergi, setelah beberapa langkah, ponselnya tiba-tiba berdering dan itu panggilan dari nomor tidak di kenalnya.
Zack segera menjawabnya.
"Halo."
"Zack 'kan? aku lupa memberitahumu tadi pagi, kalau kamu harus datang ke taman bermain jam satu siang untuk berlatih pelatihan ke dua." Suara seorang wanita yang terdengar samar-samar di seberang telepon. Begitu selesai bicara, dia segera menutup teleponnya.
Setelah panggilan telepon di tutup, Zack segera pergi ke tempat yang di maksud, karena dia ingin segera mendapatkan SIM-nya sesegera mungkin.
Setelah beberapa saat, Zack pun akhirnya sampai di lokasi, dan didapati pelatihan sudah dimulai.
Pada saat ini, seorang instruktur yang mengenakan kacamata hitam, sedang mengajari salah satu siswa. dan masih ada belasan yang menunggu antrian.
Semua orang berdiri di samping saat mereka melihat instruktur membimbing siswa tentang cara mengemudi dan menangani mobil dengan benar.
"Sialan! Itu benar-benar Zack! Apa dia serius ingin belajar mengemudi?"
Zack berjalan menuju kerumunan orang, dan seorang siswa perempuan segera menutup mulutnya karena terkejut, dengan ekspresi tidak percaya.
"Ha..ha.. ha... Jadi bagaimana sekarang? Sudah kubilang itu dia. Sekarang kamu kalah taruhan. Kamu harus makan malam bersamaku." pada saat yang sema seorang pria tersenyum sambil berseru penuh semangat.
"Oh, itu tidak masuk hitungan! siapa yang mengira kalau Zack akan datang untuk ikut tes mengemudi. Ini tidak masuk akal, Davan. Aku pikir kamu bertaruh denganku, karena kamu sudah tau kalau Zack mendaftar untuk pelajaran mengemudi. Kamu bohong padaku! Gadis bernama Putri itu.
Permasalahan sebenarnya, mereka melihat nama Zack di daftar siswa saat mereka tiba untuk belajar mengemudi. Kemudian mereka bertaruh apakah nama Zack itu sama dengan Zack yang ada kampus mereka.
Akhirnya saat staf dari sekolah mengemudi menghubungi Zack dan memintanya untuk datang, mereka mengetahui kalau itu benar-benar Zack dari kampus yang sama.
Sebenarnya, Zack tidak terlalu akrab dengan mereka berdua. Hanya bertemu beberapa kali di kampus. Selain itu karena Davan merupakan anggota BEM bagian departemen ketertiban dan Putri anggota departemen Kesehatan. Sebagai mahasiswa miskin yang menerima beasiswa Anisa sering memanggil Zack dan memberinya tugas yang aneh untuk mereka. Jadi wajar kalau semua anggota BEM mengetahui tentang Zack yang miskin.
Akibat percakapan Davan dan Putri membuat beberapa siswa dari kampus lain menertawakan Zack.
"Hai kawan, apakah orang miskin ini dari kampus kalian ini benar-benar miskin?
" Iya, dia miskin! Sangat miskin sehingga kamu tidak perlu membayangkannya lagi. " jawab Davan sambil tertawa.
Zack hanya mendengus dingin dan mengabaikan mereka, membuat Davan sedikit marah.
Tepat di saat dia ingin menyerang Zack. Siswa yang telah berlatih mengemudi sudah selesai dengan latihannya. Pintu mobil pun perlahan terbuka. Pada saat ini pergelangan tangan putih dan ramping terlihat.
Semua anak laki-laki dan perempuan yang menunggu giliran termasuk Zack dengan cepat berbalik untuk melihat ke arah mobil dengan ekspresi wajah penasarannya.
To Be continued ☺️ ☺️☺️