
Suara-suara tanpa wujud masih terus terdengar di telinga Icha, membuatnya tetap waspada. Dia terus dan terus melafadzkan ayat-ayat suci Alqur’an, sebagai benteng untuk ibunya. Namun, sekuat-kuatnya manusia berusaha, takdir jugalah yang menentukan. Ketika dia ditakdir untuk tertidur, maka dia tidak kuasa untuk menolak datangnya kantuk itu. Dan diapun tertidur.
Icha. Bangun dulu, sayang!
Setelah beberapa lama tertidur, suara nyai Murda Ningrum mulai mengusik kenyamanannya.
Sura itu semakin kencang menggema di telinga Icha. Namun rasa kant...