
“Loh. Cepet amat?”
Baru juga turun dari mobil, sudah ada yang menegur. Mereka menoleh, ternyata bukan orang lain. Ya, bulek Rini yang menegur.
“Udah telat, bulek. Sampe sana sudah dimakamin. Tinggal doa” jawab Icha.
“Segitu sedihnya, nduk? Sempet ngobrol sama Septi?”
“Kamu punya janji lho, nduk. Ada baiknya segera kamu tepati. Mumpung bapak ada”
Icha tersentak mendengar teguran itu. Bu Maryati menatapnya sendu. Sedangkan pak Sigi...