
Nenek Kejora membuka halaman demi halaman lembaran lembaran buku yang di penuhi arti itu merasakan sayatan sayatan dari untaian kata di baliknya meski sedikitpun dirinya tidak mengerti dengan apa yang tengah dia tela'ah.
Mata nenek Kejora menyipit saat melihat cincin yang semula di lemparkan Alika, hatinya terenyuh sekilas menatap kamar yang kini pintunya nampak tertutup.
Namun saat nenek Kejora memperhatikan pintu itu nampak Alika dan Ubay membuka pintu dan keluar dari kamar. Kejora tersenyum menayap keduanya yanh kini berjalan beriringan dan mendekatinya.
"Nenek, apa pendapatmu tentang buku itu?" tanya Alika menggenggam tangan Ubay dan menatap lembut mata nenek Kejora.
"Ini adalah Darah Juang." ucap nenek Kejora memeluk buku dengan sampul hitam dengan berbagai jenis tulisan yang hanya bisa di baca satu orang di dunia ini, yaitu Alika.
"Darah Juang?" Ubay bertanya dengan mata yang sedikit menyipit memnandakan sebuah pertanyaan.
"Ya, bukan hanya darah yang melari namun juga perjuangan yang tidak pernah padam mengargikan segalanya." ucap nenek Kejora mengartikan ucapannya.
"Sungguh makna yang dalam nek." ucap Alika memeluk sang nenek yang nampak menigikan air mata.
TAMAT
Terima kasih pada pembaca semuanya yanh sudah setia menhikuti perjalanan panjang sang pejuang bernama Jajang.
Sebagai generasi muda, sudah selaaknya kita bangga dan mempertahankan kemerdekaan dengan cara yanh moderen tanpa merusak moral dan tradisi yang ada.
Kita yang hidup saat ini sudah sepatutnya bersyukur dengan apa yang kita dapatkan sekarang dan tidak terlalu banyak mengeluh dengan apa yang sudah menjadi takdir kita.
Sekali lagi author mengucapkan terimakasih karena sudah mengikuti langkah dan jejak perjuangan pahlawan kita, meski romansa di dalamnya sangat lekat.
Terima kasih🙏
Aassalammu'alaikum wr.wb.