DARAH JUANG

DARAH JUANG
Keserakahan pembawa maut


Sura angin malam menyibakkan rambut Jajang yang nampak melambai, di belakangnya nampak Jaka yang tengah waspada. Kali ini Jajang dan Jaka akan melakukan sebuah pencurian, Gugup sudah pasti di rasakan Jajang karena dalam hidupnya inilah kali pertama dia akan melakukan pencurian.


Jaka dan Jajang berwajah biasa layaknya tengah patroli dia mendekat ke arah salah seorang pria berkulit putih yang mana kunci gembok berada di pinggang pria itu.


Entah sudah ke berapa kalinya Jaka menelan salivanya, dia berdo'a dalam hati agar seluruh rencana mereka berhasil Jajang mengeluarkan buah pohon kematian yang berwarna emas terang, Jajang mendekat dan dengan hati hati menaruh buah itu di sisi pria yang berkulit putih.


Untung saja pria itu nampak tidak menyadarinya hingga pria itu melihat buah pohon kematian dan mata serakahnya langsung berbinar mengambil buah yang sanagat beracun itu dan memakannya.


Dada Jajang bernafas lega dan memperhatikan sekeliling agar tidak ada yang curiga kepada mereka, Jajang melihat pria yang memakan buah tersebut yang nampak tengah berhalusinasi.


Fungsi buah itu sendiri tidak di ketahui pasti oleh Jajang namun beberapa semut yang memakan buah itu langsung mati setelah kurang dari satu menit.


Dan kini fungsi buah itupun terlihat, dampak dari buah itu membuat seseorang berhalusinasi dan linglung hingga dia akan menyakiti dirinya sendiri dan bunuh diri, sungguh efek yang luar biasa. Jaka yang memperhatikan pria berkulit putih itu nampak terhenyung henyung dan mengambil belati di saku celanya dan menggoreskan pada kulit tangannya sendiri.


Para penjaga yang tengah berpatroli itu menjadi terpusat pada pria tersebut, Jajang merasa sangat ngeri melihat efek buah itu, dia tertegun sejenak dan kemudian mengangguk faham.


"Hai kenapa ini?" tanya salah seorang penjaga pada pria berkulit putih itu.


"Huaaahahahha.." pria itu nampak tertawa dan menyerang rekannya sendiri layaknya zombi yang tidak merasakan sakit.


Jaka menelan salivanya memperhatikan ketragisan yang menimpa penjajah itu, namun dalam hati kecilnya dia sangat senang. Denagn hati hati Jajang dan Jaka ikut mendekat dan berusaha menyembunyikan buah tersebut dan menguburnya di pasir pantai.


"Apa kau gila? Kau penghianat! Mengapa kau menyerang kawanmu sendiri!" ucap seorang pria yang nampak memiliki jabatan tinggi.


Namun pria yang sudah terkena racun buah kematianpun seakan tak memiliki telinga dan lantas menyerang atasannya sendiri, tentu saja pria itu dapat menghindar dan dengan kejamnya dia menembak mati pria itu.


Jaka yang sudah siap dalam mode menonton layaknya orang zaman sekarang menonton pertandingan tinjupun merasa kecewa karena pertarungan itu berjalan sangat singkat.


"Ah, cuma bentaran doang! Gak asik ah..!" ucap Jaka dan berdiri, Jaka mencontohkan gerak pria yang terkena racun itu pada Jajang hingga membuat Jajang terkekeh dan tertawa sedikit.


"Feeet.. Kamu memang cocok begitu Jak!" ucap Jajang terkekeh melihat kelakuan kawannya.


Jaka ikut tertawa akibat tingkah konyolnya sendiri dan entah mereka sadar atau tidak pria yang mati itu di biarkan begitu saja bersama kunci yang kini nampak berlumuran darah.


"Singkirkan mayat itu!" ucap pemimpin mereka pada bawahan yang tengah memperhatikannya, bawahannya mengangguk dan menuruti permintaan pimpinannya.


"Hey kalian kemari!" seorang pria melambaikan tangannya pada Jaka dan Jajang dengan secepat kilat Jaka dan Jajang mendekat dan menundukkan wajahnya.


"Kalian bereskan mayat ini!" ucap pria itu pada Jaka dan Jajang, keduanya beradu pandang dan mengangguk kemudian.


"Bersihkan kunci itu dan berikan padaku setelahnya!" tambah pria itu, Jajang dan Jaka mengangguk tak bersuara dan langsung menyeret mayat tersebut dan di satukan dengan dua orang pria yang mereka bekap.


Jaka mengambil sedikit getah pohon kematian, Jajang memperhatikan kelakuan kawannya dan terdiam saja. Jaka dengan hati hati dan tanpa di sadari siapapun kecuali Jajang melepaskan seluruh rantai dan gembok yang membelenggu para pribumi, Jaka sendiri melakukan itu tidak disadari meski oleh para pribumi sekalipun.


Karena bila di ketahui mereka tentu keriuhan akan terjadi dan akan memicu kecurigaan para penjajah, Jaka tersenyum kemudian dan melumerkan getah pohon kematian pada kunci tersebut yang akan dia berikan pada penjajah sebelumnya.


Jaka tersenyum evil dan melangkah menghadap pria yang semula menemuinya bersama dengan Jajang.


"Ini kuncinya!" seru Jaka yang terasa basah kunci tersebut selain sebuah kunci yang di pegangnya, Jaka sama sekali tidak menyentuh cairan tersebut dia hanya menggenggam sebuah kunci sebagai pacuan dan hanya kunci itu saja yang tidak dia racuni.


Pria yang tidak curiga itupun lantas menerima kunci yang di berikan Jaka, Jaka tersenyum evil memberikan kunci di tangannya.


"Kalian makanlah dulu!" ucap pria itu, Jaka dan Jajangpun mengangguk dan melihat beberapa penjajah yang nampak tengah menghadap ke sebuah api unggun dan nampak tengah memakan sesuatu.


Lantas mata Jaka membulat saat menatap apa yang di makan oleh para penjajah itu, lidah Jaka seketika kelu dan perutnya terasa di kocok.


Rasa mual luar biasa kini di rasakan Jaka melihat ular besar yang sedang di panggang, dan beberapa orang tengah memakannya, ukiran khas ular besar itu nampak sangat jelas di kulitnya dan jajang sering menyebut ular sanca kembang pada jenis ular yang memiliki kemampuan membelit hebat itu.


"Eee.. Saya kebelet maaf!" ucap Jaka lantas berlalu dia bener benar ingin muntah melihat kejadian tersebut.


Jajangpun ikut mengekor di belakang Jaka pria yang tadi mengajak merekapun mengangguk dan membiarkan Jaka dan Jajang pergi, pria yang telah menyentuh kunci berlumur racun itupun langsung memakan ular yang sudah di panggang tanpa cuci tangan.


Tiba tiba perutnya terasa sakit dan dadanya sesak pria itu tanpa aba aba langsung terjatuh pingsan begitupun orang orang di dekatnya yang memakan ular yang baru di sentuh pria tersebut.


Mereka nampak tengah tidur berjamaah hingga tidak di sadari oleh orang lain, sedangkan Jaka tengah muntah muntah.


"Gimana Jak?" tanya Jajang yang memijit tengkuknya.


"Iiyyyu... Pantas saja mereka berdarah dingin makanannya saja seperti itu!" ucap Jaka bergidik ngeri.


"Kita lakukan serangan berikutnya!" ucap Jajang kemudian saat melihat Jaka yang sudah baik baik saja.


Jaka mengangguk dan mengambil getah dari pohon kematian, dia mulai meracuni satu persatu pasukan penjajah yang tertidur, dan merekapun meninggal di tempat.


Pagi itu nampak mata hari yang mulai bersinar dan riuh terdengar di tempat tersebut, para warga mendapati rantai di tangannya sudah terbuka dan sunyi terdengar dari suara penjajah yang nampak tidak ada yang bangun.


Merasa risau pemimpin penjajah itu bangun dan melihat kemp rekannya yang nampak senyap, dia mulai membangunkan para pengawalnya namun tak ada yang bangun bahkan ada yang nampak kulitnya yang telah membiru.


Merasa terancam pemimpin itupun kembali melihat sekitaran dan terlihat senyap tanpa suara.


Bersambung...