
Saat pusara bumi kian hancur saat itu pula langit akan murka, kehidupan Jajang yang terasa terlunta dengan ambisi yang masih menyala.
Cinta dan citanya bersatu dalam jiwa membentangkan katifah keyakinan untuk kemerdekaan, sejenak di alun bentangan malam Jajang terdiam.
Matanya menelisik memperhatikan kesedihan, memberikan hasrat yang kian ternganga untuk kebebasan dirinya, mimpi dan asa dia kuatkan dalam jiwa memperhatikan rembulan yang kembali mempertontonkan pesonanya.
"Jang!, ada bahaya!" seru seorang pria dari bawah pohon, Jajang menunduk memperhatikan pria dengan kain samping melingkari perut bertelanjang dada.
"Kenapa?" tanya Jajang langsung menghamburkan tubuhnya ke hadapan pria yang kini tegak berdiri di hadapannya.
"Ayo!" seru pria itu mengajak Jajang ke sebuah area yang ingin dia perlihatkan.
"Astagfirullah..!" Jajang melotot saat di hadapannya para pria berkulit putih dengan senjata lengkap telah memborgol hampir seluruh warga desa, bahkan sebagian yang lainnya ada yang sudah di bunuh, di gantung dan ada juga yang di penggal. Bahkan selain itu beberapa orang yang tidak menuruti penjajah meraka di potong tangannya bahkan lidah, kaki dan tusukan yang tak terhitung jumlahnya mereka dapatkan sebuah pembantaian keji tengah di lakukan tepat di hadapan Jajang.
"Maafkan aku Jang!" seru pria yang tadi di hadapannya, pria itu berbalik dan menusukkan sejenis keris tepat di perut Jajang.
Seketika mata Jajang membulat saat merasakan sebuah cairan mengaliri perutnya, perih dan sakit tak dapat dia rasa. Matanya memandang mata yang kini memperlihatkan air mata.
"Kenapa..?" tanya Jajang saat terasa kunang kunang memenuhi kepalanya dan langit gelap membuat matanya terpejam.
*
*
*
"Jang?" seorang pria menepuk pipi Jajang hingga Jajang tersadar dan merasakan perih luar biasa di perutnya.
'Apa tadi itu mimpi?' ucap Jajang dalam hati kecilnya, dia memperhatikan pria yang kini berada di depan matanya.
"Ja..Jaka?" Jajang sedikit tertegun saat perih yang begitu terasa di perutnya.
Jaka memberikan air pada Jajang untuk di minum, air kelapa yang begitu melegakan dahaga Jajang di minum perlahan.
"Ada apa ini?" tanya Jajang menatap mata pria yang nampak memerah di hadapannya.
"Hiks.. Hiks.. Seluruh warga desa di bunuh Jang..!" ujar Jaka dengan tangis yang bercampur.
"Di ...dibu..nuh?" Jajang tertegun mendengar kata itu dan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya saat itu..." Jaka mulai bercerita tentang kisah sebelumnya.
Fleshback on!
Saat itu Jaka tengah bersenandung di sisi sungai di atas batu besar dengan gemuruh air yang menjadi nada nyanyiannya.
Hembusan angin menerpa wajahnya dan mengalir indah suara merdu Jaka dengan lautan malam sebagi panggungnya dengan lampu dari rembulan yang bersinar terang.
Namun tidak berapa lama dia tertegun saat melihat mayat yang mengambang di tepi sungai, begitu banyak mayat dan semuanya adalah raga dari orang orang yang amat di kenalnya.
"Ke...kenapa begini?" Jaka melihat satu persatu mayat yang terbawa aliran sungai tepat di dekat kakinya.
Matanya kembali tertegun saat mendengar suara yang amat dia kenal berseru dengan tajam, wajah pria itu terlihat marah dari sinar rembulan yang menerpa wajahnya.
"Dayat!" ucap Jaka lirih dan kembali mendengarkan percakapan mereka.
"Oooh... Sabar aku tidak merasa mengatakan itu! Dan satu lagi tubuh puterimu itu sangat nikmat!" ucap pria benama Filsen.
"Kalian penghianat!, penjahat keji!..."
Dor.. Dor.. Dor.. Belum sempat Dayat mengatakan seluruh amarahnya Filsen menembaknya sebanyak tiga kali tepat di dada Dayat yang telanjang.
"Aku memang penjahat!" ucap Filsen dan menendang tubuh Dayat ke sungai hingga tubuh pria itu kembali terbawa aliran sungai dan melintas di hadapan Jaka.
Mata Jaka berair dengan degup dada yang sangat sakit, dia melihat mayat mayat yang bertebaran dengan darah yang bergelimpang.
"Ja ...ka..!" ternyata Dayat belum meninggal dia memberikan sandi di mulutnya pada Jaka yang dia lihat.
Hati Dayat teramat sangat sakit melihat saudaranya yang berguguran, dia memperhatikan gerak bibir Dayat yang berkata.
"Jajang masih hidup di hutan!" itu yang dia ucapkan, dan dengan sangat hati hati Jaka menenggelamkan tubuhnya di aliran sungai yang deras dan mengikuti aliran sungai layaknya mayat yang lain.
Dia menepi ke daratan saat sudah sampai di tempat aman, baju yang basah tidak dia hiraukan dengan celana silat hitam beranjak ke atas sebuah pohon dan terus meloncat hingga sampai di bagian tertinggi pohon itu.
Jaka memperhatikan sekeliling dan mendapati Jajang yang berlumur darah dengan bekas tikaman di perutnya.
Dengan cepat dan hati hati Jaka melepaskan bajunya dan memerasnya hingga tetesan air di bajunya menghilang.
"Tunggu aku, Jajang!" ucap Jaka kemudian dan melompat ke atas tanah melihat tubuh Jajang, untuk menghindari di ikuti oleh para penjajah, Jaka menekankan bajunya ke arah darah Jajang yang mengalir agar darah tidak lagi menetes dan bila mana menetes tentu itu akan sangat mudah di lacak oleh para penjajah.
Beberapa kali Jaka menatap wajah Jajang yang terlihat memucat, kekhawatiran di rasakan oleh Jaka, dia sudah sangat lama mengagumi Jajang dan sering kali diam diam dia memperhatikan saat Jajang latihan dan mencobanya sendiri.
Saat di rasa cukup jauh Jaka melihat sebuah tanaman obat dan mengunyahnya hingga menjadi bubuk dan meletakan benda hijau itu di perut Jajang yang terluka.
Dia yang masih berada di atas pohon kian mempersulit mengobati Jajang namun bila dia turun tentu darah dari tubuh Jajang akan memancing begitu banyak binatang buas.
Saat di rasa cukup Jaka kembali membawa Jajang dan meloncat di antara pepohonan.
Rasa lelah tak di rasakan oleh Jaka dengan air mata yang terus mengalir mengingat bagaumana saat saat kebersamaannya bersama seluruh warga desa.
Dan kini dengan sekejap kini Jaka kehilangan semuanya, langit nampak sudah kemerahan dan jakapun akhirnya berhenti di tepi sungai mengambil air wudu dan sholat subuh.
Setelahnya dia kembali melanjutkan lerjalanannya, entah kemana kini dia akan melangkah dia sendiri tidak tahu ujung kakinya akan berhenti di mana, hungga pagi tiba dan Jaka melihat sebuah tempat.
Nampak begitu banyak pemakaman di tempat itu, Jaka meletakan Jajang di atas tanah yang nampak merah dan mengambil sebuah daun pisang dan meletakannya di sembarang tempat dan kembali mengangkat Jajang ke atas dauh pisang.
Dan sampai di situlah kisah tragis di malam pembantaian yang begitu amat menguras sakit di hati Jaka.
Fleshback off.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya..!
Salam cinta dari Raisa.