
"Waah.. Luar biasa sekali Kejora!, apa dia masih ada hingga sekarang?" tanya si gadis kecil pada sang kakek tak sabaran.
"Kakek juga tidak tahu, tapi sepertinya masih ada, karena dia memang tidak diketahui keberasaannya hingga saat ini."
Jawab sang kakek mengusap pucuk kepala cucunya yang kian ingin tahu.
"Loh kok bisa? apa dia ke luar negri?" gadis itu berbalik menatap sang kakek dengan matanya yang kian berbinar.
"Tidak, tapi karena sebuah tragedi besar mengharuskan mereka berpisah!" jawab sang kakek halus.
"Tragedi besar?" gadis itu kian ingin tahu dan mendongakkan wajahnya menatap kerutan tua di bawah mata sang kakek.
"Iya.. Dengarkan kisah ini dan kamu akan mengerti." sang kakek kembali bercerita mengenai Jajang dan seluruh perjuangannya yang amat luar biasa.
***
Kejora sedari kecil selalu tidur di pangkuan sang bapak, di malam gelap dengan redup rembulan terhalang awan, Jajang nampak berada di puncak pohon bambu.
Matanya terbelalak saat mendapati segerombolan obor menuju ke arahnya, siulan sandi di senandungkan Jajang, membangunkan para warga yang sudah larut dalam buaian malam.
"Ada apa?" beberapa warga desa berhambur keluar mendengar tanda bahaya, namun tanpa mendengar jawaban pria itu lantas menginjakkan sebelah kakinya ketanah dan seakan terbang menuju pucuk dedaunan, matanya membulat sempurna.
"Gusti nu agung..!" ujar pria itu lantas memberikan siulan tanda sangat bahaya, Jajang yang berada di kejauhan desa dan lebih dekat dengan para pembawa obor itupun memberikan sinyal balasan agar mengungsikan wanita dan anak anak, semua orang ribut memadamkan api yang masih menyala hingga desa itupun berubah menjadi gelap gulita.
Tangisan bayi, anak anak dan wanita yang tidak ingin berpisah terdengar jelas dengan air mata yang kian mengalir.
"Bapak!" Kejora yang datang ke samping sang bapak lantas menggenggam tangan ayahnya itu.
"Ayo kita pergi pak!" ajak Kejora namun dengan senyum tulusnya Jajang mengelus pipi sang puteri.
"Pergilah lebih dulu, ingat kamu sudah di percaya oleh para sesepuh desa untuk memimpin para wanita, sekarang nasib mereka ada di tangan mu!" ucap sang bapak tersenyum kecut dengan nada yang tegas.
"Tapi pak!" Kejora enggan bangkit namun Surwa dengan kedua kakinya yang pincang meraih lengan Kejora.
"Pergilah!" ucap Surwa tegas, dengan berat hati dan air mata yang mengalir akhirnya kejora mengangguk mengikuti keingianan sang bapak.
Namun nahas lembah itu ternyata telah di kepung oleh pagar betis para penjajah bengis, rasa takut dan was was kian melanda perasaan Kejora.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus menggunakan cara itu!" ucap Kejora dan lantas bersiul yang di mengerti oleh para wanita sebagai pertanda berkumpul.
"Kejora bagaimana ini?" tanya seorang wanita yang nampak sudah berkeluarga.
"Sekarang tak ada pilihan lain, aku tidak bisa mengorbankan kalian, dan aku juga tidak ingin mengorbankan mereka." ucap Kejora dengan nafas tersegal segal.
"Kita akan mengendap ke tepi pantai dan berenang menuju pulau kecil di sebrang, disana ada kapal besar, kita akan berlayar meninggalkan tempat ini!" ucap Kejora pasti.
"Tapi bagaimana dengan suami suami kami?" tanya seorang wanita yang nampak tengah menangis.
"Sebagian dari kami ikut kalian!, dan sebagian tinggal, aku titipkan puteriku pada kalian jaga dia baik baik! layaknya kalian menjaga puteri kalian sendiri!" Jawab Jajang yang memeng sedari tadi telah berada di belakang Kejora.
Sontak mata Kejora berlinangan, namun jiwanya yang terbakar tidak menyulutkan dirinya untuk berjuang, mati jihad telah berada di depan mata Jajang dan syurga kini sudah berada di hadapannya, bagaimana mungkin Kejora akan menghentikan Surga yang akan sampai kepada bapaknya.
Dengan tangis yang terisak dan dada yang bergejolak, Kejora mengangguki perkataan ayahnya, ketabahan Kejora amat luar biasa bahkan air mata yang semula berlinang dari para wanita di hadapannya pun berhenti, berbuah dengan semangat menggebu merelakan orang orang yang di kasihinya.
Malam itu akan menjadi malam panjang, di antara rimbunan pohon kelapa Kejora melanglah dengan rembulan yang belum memperlihatkankan kilaunya, kelapa tua yang mengambang di jadikan para lansia untuk menopang, dan para wanita yang pandai berenang menggunakan kemampuannya untuk membawa bayi dan balita menyebrangi lautan.
Di belakang nampak rona merah api menyala berkobar dengan asap yang membumbung tinggi ke angkasa, rasa gelisah tentu di rasakan para hawa di lautan namun mereka tak berhenti di tengah jalan, mereka terus merangsak membelah dinginnya air di lautan.
Sebuah pulau kecil dengan kapal yang hampir satu per tiga dari pulau itu nampak dari kejauhan, perlahan beberapa wanita menaiki kapal dan pria pria remaja mulai membantu para lansia untuk naik ke atas kapal besar itu.
Bayi bayi dan balita di naikkan perlahan dengan hati hati, hingga akhirnya mereka semua berhasil selamat, namun kembali Kejora saat akan melangkahkan kakinya ke kapal yang kini siap berlayar itupun terhenti sejenak metap pulau dengan jingga menyala membumbung ke angkasa.
"Kejora ayo..!" seorang pria yang di tugaskan untuk melindungi para remaja mengulurkan tangannya.
Kejora kembali tersadar meraih tangan pria itu menaiki kapal, namun alangkah terkejutnya dia saat mendapati pria itu yang akan kembali menyelam.
"Mau apa kau?" tanya Kejora menarik lengan pria itu.
"Tugasku sudah selesai di sini, bawa mereka pergi, dan aku akan kembali menjalankan tugasku di sana!" ujar pria itu menunjuk ke arah medan perang yang telah berubah menjadi lautan api.
"Kau bodoh hah!, diam!, naikkan layar kita akan berlayar bersama, percuma kau kembali bila tidak jadi tahanan maka kau akan mati!" ucap kejora tegas menarik lengan pria itu.
"Tidak!, tugasku adalah menjaga tanah airku bukan disini!" ucap pria itu tegas.
"Dan keluargamu?, apa kau akan membiarkan kami hah? Apa kau tega meninggalkan keluargamu!?" Kejora tak kalah berargumen hingga pria itupun terdiam.
"Sudahlah, ikut kami dan jaga kami baik baik!" ucap Kejora lagi, tanpa disadari mereka sedari tadi ucapan mereka menjadi tontonan gratis para wanita muda yang nampak patah hati.
Kejora memalingkan wajahnya enggan bertatap muka dengan pria itu lagi, dia membalikkan wajahnya hingga akhirnya merekapun meninggalakan tempat tersebut dan mencari tempat lain sebagai peraduan.
Perjalanan dan dimana mereka tinggal tidak ada yang tahu hanya angin dan lautan yang bergelombang yang tak mampu berucap yang mengetahui kabar mereka, dan itulah kemungkinan terakhir bila Kejora masih hidup.
Bersambung...