
Kesadaran Ubay kembali saat bajunya di kekang Alika dengan pegangan erat seakan menjamret hatinya yang tengah berpindah dan mentrasfer seluruh sayangnya untuk gadis yang kini berdiri tegap di hadapannya.
"Kamu sangat cantik" lirih Ubay menatap mata yang kini menembakkan panah asmara tepat di pandangannya, Ubay sangat menikmati getaran hebat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya itu, dia sangat senang dapat menatap keakraban yang terukir antara nenek dan Alika sebelumnya.
" Grr.. Minggat lo, gue yang bakal jagaian nenek lo kalo lo gak mau jagaian dia!" ucap Alika membanting tubuh kokoh Ubay, bila pria biasa mungkin Ubay sudah terjerebak dan jatuh mencium aspal, namun berbeda dengan Ubay yang dengan estetik jatuh dengan fose tampan.
"Arrgh.. Ck, nenek udah pulang kayanya dan sekarang kamu yang harus jagaian aku!" ucap Ubay mengaduh dan mencoba menyeimbangkan tubuhnya menatap gadis cantik itu yang nampak celingukan, sekilat raut kekecewaan tergambar nyata dalam gurat wajah Alika.
" Aargh.. Ini semua gara gara lo tau! Gue bertahun tahun nyari keberadaan nenek Kejora dan sekarang dia pergi gitu aja, ini semua gara gara lo tau!" ucap Alika, Ubay mengangkat alisnya sebelah dia sama sekali tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya, untuk apa dia mencari neneknya, jelas jelas Ubay adalah cucunya.
Ubaypun memberikan pencerahan yang akhirnya di setujui Alika, namun diapun tiba tiba bingung saat Alika berlalu meninggalkannya dan menarik sepeda yang nampak terparkir, Ubay memperhatikan gerak gerik Alila yang sama sekali tidak mencerminkan dari keluarga berada, namun lebih mencerminkan sosok wanita sederhana dan anggun.
Ubay sebelumnya di beri uang oleh Alika untuk menaiki taxi, namun melihat Alika yang akan menggoes mana tega dirinya membiarkan Alika menggoes sendirian, hingga akhirnya tuhan memberikan kesempatan padanya untuk turut dalam kursi penumpang dalam sepeda tersebut.
Tidak sampai 100 meter Alika menggoes sepeda mata Ubay sudah di buat gagal fokus dengan paha gadis itu yang beberapa kali tersibak akibat kakinya yang menggoes, beberapa priapun sempat menatap kehausan pada tubuh Alika membuat Ubay merasa jangah dan sangat ingin segera berhenti.
Akhirnya Ubaypun kehilangan kesabarannya dan memberhentikan Alika sedangkan dirinya berlari ke sebuah warung kelontongan membeli beberapa snak dan makanan manis, dari uang yang semula Alika berikan, benar saja Ubay sama sekali tidak membawa uang cash karena saat itu dia hanya membawa handphone saja tanpa membawa apa apa lagi.
Ubay memperhatikan kantong keresek putih dalam genggamannya saat dirinya akan melewati zebra cross yang di khususkan untuk para pejalan kaki, sedangkan di sebrang nampak Alika yang tengah berdiri dengan sepedanya dalam jalur khusus sepeda.
Ubay melihat sebuah mobil yang jaraknya sudah sangat dekat dengannya dan beberapa orang terdengar berteriak, begitupun Alika yang nampak berlari ke arahnya, seakan hembusan angin sejuk menerpa wajah Ubay, dia sebenarnya dapat menghindar saat itu juga namun melihat Alika yang berlari ke arahnya dan siap menerjang tubuhnya Ubay membiarkan tubuhnya mematung memeperhatikan wajah serius dari mata Alika.
Alika mendorong tubuh Ubay, dan mungkin bila Ubay tidak sigap saat itu hanya Ubay saja yang akan selamat, karena terasa jelas bila Alika nendorongkan seluruh kekuatannya pada tubuhnya sedangkan kakinya terlihat sudah berat dan mungkin sudah siap tertabrak.
Senyum sekilas tergambar di wajah Ubay, dia sempat berpikir apakah bila orang lain yang ada di posisinya saat itu Alika akan memberikan nyawanya semacam hal yang sama pada orang lain, apakah Alika seteledor itu hingga mengabaikan keselamatan dirinya untuk orang lain.
Saat mendapatkan dorongan dari tangan Alika terlihat jelas bila wanita itu sudah tidak sanggup bergerak hingga akhirnya Ubay memegang pinggang Alika dan melesatkan tubuhnya dan menjatuhkan dirinya sendiri di trotoar, Ubay sedikit merasakan sakit di punggungnya namun matanya tetap terbuka menatap tubuh mungil yang sudah terjatuh bersamanya, namun seakan acuh Alika langsung berdiri dan menghampiri mobil yang baru saja akan menabrak mereka.
Nampak raut kesal di wajah Alika yang nampak berjingkarak mengetuk kaca mobil hingga seorang pria yang nampak mabuk menggoda Alika bahkan sampai menyentuh dagu Alika, sontak rasa kesal menjalari tubuh Ubay, dia sangat ingin memberikan pukulannya pada pria itu dan menghancurkan mobil yang di bawa pria tersebut.
Dalam hati dia memuji kemampuan Alika, apalagi saat melihat gadis itu dengan sigap memborgol kedua lengan pria itu dengan sangat cekatan, diapun kembali mengingat hal sebelumnya di mana dia melayang sangat ringan seakan mendapatkan dorongan lain, mungkinkah saat itu juga Alika memang sudah mempersiapkan segalanya, pikir Ubay.
Ubay masih melihat perdebatan sengit Alika hingga akhirnya pria itu mengeluarkan sebilah pisau dan mengekang leher Alika, sontak rasa terkejut di tunjukkan Ubay, hingga tanpa sengaja berteriak memanggil nama Alika, wajah terkejut kini malah di tunjukan oleh wajah Alika, gadis itu nampak santai nampuk nampak menyelidik ke arah matanya.
Terlihat Alika yang berdecak kesal dan langsung memberikan perlawanan dan memelintir tangan pria tersebut dan memberikan perlawan yang telak membuat pria tersebut terpaksa terdiam.
Nampak wajah Alika yang terbakar emosi menatap dirinya, sebisa mungkin Ubay menghindar dan memalingkan pandangannya menatap ke arah para polisi yang nampak tengah mengintrogasi, Ubay mengabaikan Alika dan memberikan laporan atas pria tersebut.
"Tuan, maaf! Apa anda akan membuat laporan tertentu akan kejadian hari ini?" tanya salah seorang polisi lalu lintas yang berjaga.
"Ya, aku ingin membuat laporan tentang percobaan pembunuhan atas tunangan saya, aku akan mengajukan laporan tersebut hari ini melalui kantorku sendiri." ucap Ubay pasti, mana mungkin dirinya membiarkan pria kurang ajar yang berani mengancam keselamatan Alika di biarkan begitu saja.
"Baiklah tuan, bisa saya tahu identitas dan kartu tanda pengenal anda?" tanya polisi itu mengulurkan tangannya.
"Sebentar." Ubay membuka ponselnya memperlihatkan sken dari KTP nya pada petugas kepolisian.
"Saat ini aku tidak membawa tanda pengenal, namun ini bisa membuktikan bila saya adalah warga negara ini." ucap Ubay dan sontak para polisi tersebut terkejut menatap nama dalam Kartu Tanda Penduduk tersebut, semua orang membandingkan foto di KTP dan real dan memang benar itu adalah orang yang sama dengan orang yang mereka maksud.
"Wahh rupanya ini adalah tuan Ubay, dan tadi anda bilang bila dia adalah tunangan anda, oh tuhan maafkan saya yang tidak mengenali anda." ucap Polisi tersebut segan dan di angguki Ubay yang kemudian berlalu meninggalkan para petugas kepolisian dan menghampiri Alika.
Alika nampak semakin kesal, karena di abaikan namun Ubay tidak menghawatirkan hal tersebut, dia meminta Alika untuk pulang ke rumahnya namun dengan tegas Alika menolak, Ubaypun akhirnya menuruti keinginan Alika dan membawa gadis itu menuju rumahnya.
Bersambung...
Episode kali ini mungkin terkesan mengulang dari episode-episode sebelumnya, namun dalam bentuk sudut pandang yang berbeda, jadi di mohon di baca saja secara seksama ya!
Salam cinta dari Raisaπππ