
Hal yang barupun tercipta di kota yang semula sangat mencekam kini di penuhi pemberontakan dan berhasil memukul mundur para penjajah.
Jajang berpikir tak mungkin dan sangat mustahil baginya untuk memerdekakan tanah airnya sendirian, namun bila bahu membahu dalam asa dan semangat yang sama tentu hal itu akan sangat mungkin terjadi.
Setelah berhasil memukul mundur para penjajah dan markas mereka telah di kuasai sepenuhnya maka Jajang dan Jakapun memulai pengajaran mereka pada warga kota dan para pemuda.
Beberapa pemuda mulai belajar dasar ilmu bela diri namun tidak semua pemuda memiliki fisik yang baik ada di antara mereka yang memiliki penyakit dan fisik yang lemah.
Oleh sebabnya para pemuda lemah di arahkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan mengolah kecerdasan intelektual mereka sedangkan para perkasa mereka di latih layaknya tentara.
Bukan hal mudah mengajari mereka dari awal namun sifat pantang menyerah yang di tunjukan mereka membuat semangat Jaka dan Jajang kian terbakar.
...
Hari hari berlalu sangat cepat dengan begitu banyak jenis kemampuan yang di kuasai oleh para penduduk kota, Jajang dan Jaka tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota dan mereka selalu datang ke tempat pelatihan di pagi hari.
Gerasak gerusuk kisah Jajang dan Jakapun menyebar ke wilayah wilayah terdekat, para pribumi yang memiliki niat untuk memberontakpun ikut berpartisifasi.
Mereka semua berbondong bondong pindah ke kota yang dulunya kumuh dan tidak terawat kini berubah menjadi kota yang subur dan makmur.
Tidak ada lagi pribumi yang kelaparan, mereka semua mampu mendapatkan pencukupan yang layak.
Di gerbang kota tersebut yang di beri nama Kota Pengasingan karena dulu memang kota itu merupakan tempat pengasingan para pemberontak, namun kini malah menjadi kota yang berfungsi sebagai jantung penyerangan.
Hal itupun sudah terdengar sangat lama oleh para penjajah namun mereka menyepelekan hal tersebut dan alhasil para pribumipun mampu membangun kota tersebut menjadi kuat, setelah kuat para penjajahpun kini tak mampu menghancurkannya.
Segerombolan nampak beberapa warga membawa begitu banyak gerobak dan buntelan kain di pundak mereka, ada juga yang membawa bayi dan balita dan gerobak yang di dorong dimana nampak para lansia yang tidak berdaya.
"Ya ...yasmin..!" lirih Jaka saat melihat gadis manis dengan kebaya tertutup dan kerudung yang menutupi kepalanya melangkah masuk ke dalam gerbang.
Jaka yang semula akan kembali ke rumahnyapun menjadi teralihkan dan menatap lekat gadis manis yang berpenampilan sangat berbeda dengan semula dia bertemu.
"Zahraku terindah sudah tiba, kami memang berjodoh!" ucap Jaka lirih, dia bersyukur dapat bertemu dengan gadis yang usianya sangat jauh darinya itu.
"Ehem..!" Jajang berdehem di belakang Jaka, membuat Jaka gelagapan dan salah tingkah.
"Cepat halalkan sebelum dia di ambil orang!" ucap Jajang, mendengar itu fokus Jakapun mengarah pada bayi yang di gendong oleh Yasmin dan sosok pria di sampingnya yang nampak tengah bergurau dengannya.
Hati Jaka seperti berada di gurun pasir nan gersang hawa panas menyelimuti dadanya yang tengah cemburu menatap bagaimaa mereka bersenda gurau.
"Tuh kan ditukung orang!" ucap Jajang terkekeh melihat wajah merah padam yang di tunjukkan oleh Jaka.
"Ah rupanya tidak jodoh..!" lirih Jaka lemas, dan tak terasa kecewa kini menghampiri sanubarinya.
"A Jaka...!" suara yang sangat dia damba mengguncang dada Jaka, namun sebersik sakit kini dia rasa mendengar seruan itu. Jaka berusaha menguatkan dirinya sendiri dan mengangkat kepalanya memandang sosok yang memanggilnya.
"Iya, Yasmin.." lirih Jaka tak bersemangat, melihat hal itu Yasmin menjadi murung.
Bagiamana tidak sosok yang selalu di mimpinya dan dalam imajinasinya setiap hari itu menyapanya dengan lesu dan suaranyapun hampir tak terdengar, sangat jauh berbeda saat mereka pertama bertemu.
"Siapa ini Yasmin?" tanya pria di samping Yasmin yang sedari awal Yasmin memang amat sangat bersemangat untuk pergi ke kota itu, namun melihat wajah murung Yasmin kini pria itupun menjadi sedih.
"Ini a Jaka, a Jaka perkenalkan ini saudara laki laki saya, Rohman." ucap Yasmin lesu, mendengar kata saudara Jaka menjadi bersemnagat kembali api cemburu yang semula membakar bunga kini menyemerbak memberikan harumnya.
"Assalammu'alaikum, perkenalkan saya Jaka!" ucap Jaka bersemangat, melihat semangat Jaka yang kembali Yasmin menjadi bingung dengan perbahan sikap yang mendadak dari pria di hadapannya tersebut.
"Wa'alaikumus salam, saya Rohman!" ucap Rohman memperkenalkan dirinya dan menyambut uluran tangan Jaka.
"Ih itu a Jaka sama a Jajang, sapa yu!" seru segerombolan gadis yang mau melintas sepulang sekolah.
"Assalammu'alikum a Jaka dan a Jajang!" ucap segerombolan gadis tersebut.
Wajah masam kini malah terlihat di wajah Yasmin entah mengapa dia menjadi sangat cemburu saat mendapati segerombolan gadis yang menyapa Jaka.
"Aku permisi dulu, ingat jangan terlalu malam saat pulang bila tidak mau makananmu aku habiskan!" ucap Jajang tersenyum simpul, Jaka mengangguk setuju dan melihat Jajang yang keluar gerbang dan langsung melompat ke sebuah dahan pohon yang besar dan pergi seperti tertiup angin.
"Oh ya, tadi itu saudaraku dia bernama Jajang." ucap Jaka memperkenalkan saudaranya yang telah lenyap di antara rimbunan pepohonan.
"Oh iya, kalian sangat terkenal sampai nama kalian sangat di agungkan tentu saja aku juga tahu siapa beliau." ucap Rohman yang memang sudah sangat sering mendengar tentang Jaka dan Jajang.
Tiba tiba bayi yang di gendong Yasminpun menangis dan nampak haus dan ingin asupan ASI Yasminpun tersenyum dan memberikan bayi di gendongannya pada sang kakak, pria itupun lantas menghampiri seorang wanita yang berada di sebuah gerobak kayu yang semula di tariknya itulah isterinya.
Jakapun bernafas lega, ternyata bayi dalam gendongan Yasmin bukanlah bayi Yasmin melainkan bayi saudaranya. Hati Jaka kian menghangat dan menjadi canggung saat berdua berhadap hadapan dengan sosok yang selalu ada dalam mimpi indahnya.
"Mau tinggal di penginapan dulu?" Jaka bersusah payah berusaha memecah kesunyain dengan pertanyaan tidak perlu, karena mau di mana lagi mereka tinggal bila tidak di penginapan karena memang bagi warga baru mereka harus mengisi administrasi terlebih dahulu saat ingin menetap di kota itu dan harus memenuhi syarat yaitu tinggal di tempat itu selama lebih dari tiga hari terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka di perbolehkan membuat rumah sendiri, di tanah yang memang ada dan di khususkan bagi para kaum pendatang.
"Iya..!" ucap Yasmin lirih kembali kecanggungan terjadi, sebenarnya ingin sekali Jaka memeluk gadis itu dan membawanya pulang tapi apalah daya dia belum menjadi yang halal baginya.
"Mau aku temani mencari penginapan?" ucap Jaka memberikan penawaran, Yasminpun mengangguk canggung.
"Pak saya titip mereka di sini ya, ingat perlakukan dengan baik!" ucap Jaka pada seorang penjaga warung yang berada tidak jauh dari dekat gerbang dimana di sana terdapat berjenis jenis makanan manis dan makanan asin yang ringan.
"Mari..!" Jaka mempersilahkan Rohman dan keluarganya untuk rehat sedangkan Yasmin dan dirinya berlalu berjalan beriringan menyusuri jalanan kota yang nampak ramai.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukan ke list bacaan kalian ya!
Salam cinta dari Raisaπππ