
Di atas pohon yang menjuntai ke pantai Jajang dan Jaka nampak tengah menikmati sinar mentari pagi, pemandangan pagi itu sangat terasa hangat menyentuh pori pori kulit mereka.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Jaka merapikan barang bawaannya yang tidak terpakai.
"Kita pulang dulu! biarkan mereka bertahan dan melindungi diri mereka sendiri dan biarkan pimpinan itu mendapatkan karmanya dari apa yang dia lakukan!" ucap Jajang tersenyum sekilas.
Nampak cahaya matahari perlahan menerpa kulitnya memasuki sela sela di rambutnya yang kian panjang, Jaka mengangguk menatap kagum pada Jajang yang menjadi panutannya dalam melakukan sesuatu.
"Tunggu! itu apa?" Jaka terbelalak saat mendapati sebuah kapal besar menuju ke tempatnya.
Jajang menatap ke arah ujung lengan Jaka yang menunjuk ke ujung lautan, mata Jajang membulat sempurna dan lekas loncat dari batang pohon tersebut.
"Ayo kita beri tahu penduduk!" ucap Jajang lantas mengambil bakulnya dan diikuti oleh Jaka.
Namun alangkah terkejutnya Jajang saat mendapati para pribumi yang telah mengambil seluruh senjata penjajah dan siap menyerang.
"Itu.. paman yang semalam!" ucap seorang bocah menunjuk ke arah Jaka.
Jaka menatap bocah itu lekat lekat dan memperhatikan seluruh pandangan warga desa yang mengarah padanya, Jaka menunjuk dirinya sendiri lalu mentap Jajang.
Para pribumi itu lantas mendekat dan memeluk Jaka penuh haru bahkan di antara mereka ada pula yang menangis sesegukan, Jaka mendengkelengkan kepalanya menatap Jajang.
"Terima kasih anak muda, kita selamat berkat kau!" ucap seorang pria yang nampak sudah berusia lanjut.
"Eee...hehehhe.. Iiiiya iya sama sama!" ucap Jaka kikuk dan Jajang yang melihat kegugupan Jaka terkekeh halus.
"Kalian ini siapa?" tanya pria tua itu pada Jajang dan Jaka.
"Kam..mi..!" belum selsai Jaka menyelsaikan kalimatnya Jajang sudah menyela ucapannya.
"Kami hanya Musafir!" ucap Jajang kemudian, Jakapun dengan cepat menagngguk membenarkan ucapan Jajang.
"Iiiyaaa... kita seorang Musafir!" ucap Jaka menimpali ucapan Jajang yang nampak masih sangat gugup.
"Tidak..!" nampak seorang wanita dari rimbunan pribumi tengah menangis dan bersimpuh kemudian.
"Hiks iii...ini adalah takdir hiks.. Pangeranku kau belum meninggal!" ujar wanita itu dalam isak tangisnya.
Semua orang nampak memandang wanita itu dengan perhatian penuh, Jajang yang merasa akan ketahuanpun mungkin kini tidak dapat mengelak lagi tentang identitasnya.
"Beliau bukanlah Musafir... Beliau adalah Pangeranku, Sultan dari negri kami yang di katakan telah meinggal... Hiks... Beliaulah Pangeran Hidayat!" semua orang tertegun mendengar ucapan wanita tersebut.
Jaka menatap Jajang yang nampak tidak dapat mengelak lagi, kini Jajang nampak menghembuskan nafasnya kasar.
"Ah iya, maaf aku menjadi pengecut aku memang Hidayat!" ucap Jajang menundukkan pandangannya.
"Sudah nanti lagi aja ceritanya! lihat mereka sudah mulai mendekat! kita harus bersiap!" seru Jaka menegaskan kata katanya, seraya menunjukan tangannya ke arah laut yang menampakan kapal besar yang kian mendekat, sekaligus mengalihkan perhatian seluruh warga desa.
"Jaka! daun itu masih ada?" tanya Jajang menanyakan daun dari pohon kematian yang seingatnya belum dia gunakan.
"Ada!" Jaka dengan cepat mengeluarkan daun yang di maksud Jajang, dan memberikannya pada Jajang.
"Ini Jang!" Jajang mengangguk menerima pemberian dari Jaka.
Dengan sangat cekatan Jajang menyalakan api dan mengambil sebuah tali panjang yang terbuat dari akar dan terlihat sebuah gulungan di ujungnya berupa batu, kayu dari pohon kematian dan daun dari pohon kematian yang kemudian di bakar namun tidak menimbulkan asap.
Dengan sangat gesit Jajang meleparkan batu, kayu dan daun basah dari pohon kematian ke arah kapal besar hingga berpuluh puluh kali hingga akhirnya nampak kepulan asap dari kapal tersebut.
"Bagaimana Jak?" tanya Jajang pada Jaka yang nampak tengah memperhatikan.
"Hmmm.. aku ikutan Jang!" ucap Jaka yang kemudian mengikuti gerakan Jajang hingga akhirnya mereka melakukan hal yang sama berdua.
"Lihat ada yang mau kabur!" ucap Jaka menunjuk ke arah sebuah perahu kecil yang turun dari kapal besar itu.
"Aku serahkan mereka padamu Jaka!" ucap Jajang, Jaka tertawa mendengar ucapan kawannya dan langsung mengambil busur dan kayu tajam yang sudah di ukir sebesar tusukan sate itu di gunakan Jaka.
Saat ketajaman dari ujung panah yang meluncur menancap langsung di bagian tubuh para penjajah dan tidak butuh waktu lama meski luka mereaka tidak begitu dalam namun mereka langsung terjatuh ke lautan.
Jajang dan Jaka saling bertatapan dan saling melempar senyum penuh makna, mereka berhasil menghancurkan mereka tanpa melakukan hal besar dan pengorbanan besar berkat segala manfaat dari pohon kematian.
Para pribumi yang menyaksikan kejadian tersebut menatap penuh kagum pada Jajang dan Jaka yang meski mereka dalam kesulitan namun mereka masih dapat tersenyum dan itu pula yang membuat seluruh warga pribumi merasa nyaman dan terbawa suasana dari senyum mereka yang terasa begitu hangat, layaknya cahaya matahari yang kini baru menerpa tubuh mereka.
Sulit di deskripsikan bagaimana kesedihan Jajang namun dia tidak apa dan layaknya orang yang baik baik saja, dia sudah sangat bersyukur saat puterinya mampu melarikan diri, baginya itu saja sudah cukup untuk dia merasa bahagia karena penerusnya dan sang isteri telah selamat.
Nyawanya seakan tidak berharga, kini dia hanya ingin menumpahkan darahnya untuk tanah air dan ibu pertiwi, tak perduli orang lain mengenalnya atau tidak atau tau dirinya sebagai siapa dia kini hanya ingin jadi putera bangsa dan mencurahkan cintanya untuk tanah air.
Para pribumi lantas mendekat memperhatikan kedua pria yang kini nampak tengah saling memukul dengan candaan, memang usia Jajang dan Jaka sudah tidak muda namun saat Jajang bersama Jaka dia merasakan kenyamanan dan kepercayaan yang sulit di katakan dia tidak pernah merasa bila Jaka adalah orang lain, dia selalu merasa dia adalah saudaranya sendiri.
"Terima kasih!" ucap seorang tetua pada mereka berdua yang tengah bercanda, meski kondisi mereka yang terjepit namun tawa bisa melumerkan ketakuan di dalam dada mereka.
Jajang menatap Pak Tua yang tadi memanggilnya dan tersenyum lembut, dia mentap Jaka memberi isyarat agar berhenti bercanda.
"Iya, itu memang sudah kewajiban kita untuk saling membantu!" ucap Jajang.
"Bila kalian bingung mengapa kapal itu bisa terbakar itu adalah sebuah hal yang sangat mudah di lakukan, Lihatlah bentuk kapal itu!" Jajang menunjukkan jari telunjulnya ke arah kapal yang kini nampak sebuah kepulan asap yang membumbung ke udara, yang terlihat sinar mata hari di antara sela selanya menerpa.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukin ke list bacaan kalian ya!
Salam cinta dari Raisa..
😘😘😘