DARAH JUANG

DARAH JUANG
Kesatria bayangan


Perjalanan Jaka dan Jajangpun di mulai menuju tempat baru yang tidak dia kenal, pulau itu amatlah besar yang kini di sebut Pulau Jawa.


Mereka melewati begitu banyak rintangan dari mulai binatang buas yang siap menerkam, tumbuhan beracun dan berjenis jenis obat yang mereka temui.


Rotan dengan duri tajamnya siap menghalangi mereka namun itu bukanlah rintangan besar baik bagi Jajang ataupun Jaka, mereka berdua sangatlah kompak dan saling bahu membahu dalam berbagai situasi dan kesulitan.


Kini mereka berdua layaknya manusia rimba yang berada di hutan tanpa nama, namun hal tersebut malah membuat keduanya saling menyayangi.


Hingga entah berapa hari dan berapk malam mereka menjelajahi seluk beluk hutan dengan jutaan bahayanya, Jajang dan Jaka sampai di sebuah tempat yang mana nampak kepulan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa.


Nampak pula sawah sawah yang hancur dengan lumpur yang berserakan, hati Jajang dan Jaka amat teriris saat melihat beberapa penjajah yang tengah menyandra para pribumi.


"Apa yang harus kita lakukan Jang?" tanya Jaka dimana kini dirinya dan Jajang tengah bersembunyi di sebuah belukar.


"Menurutmu?" Jajang tersenyum menatap Jaka yang kemudian di anggukinya.


Keduanya lantas mengendap endap dan memperhatikan sekeliling, keduanya saling memandang dan masing masing mengambil busur mereka, Jajang dan Jaka berkelebatan di antara pohon pohon rindang.


Clep, sebuah anak panah menusuk langsung ke urat leher salah seorang pengawal dari penjajah itu yang nampak tengah berada di luar ruangan dan nampak tengah menjaga rumah tersebut.


Jajang tersenyum saat panah Jaka tepat mengenai sasaran dengan cekatan dan tanpa suara apapun kecuali hembusan angin Jajang memanah ke beberapa perajurit yang tengah menjaga para tawanan.


Benar saja para tawanan itu menjadi riuh dan berhamburan, sontak hal itu memancing keluarnya para petinggi dari dalam sebuah rumah, mereka melihat penjaga yang di tugaskannya berjaga di depan rumah tersebut.


"Sial siapa yang melakukan ini!" teriak seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dengan kulit putih pucat dan rambut pirang, bajunya nampak acak acakan dan tidak karuan, termasuk dua orang pria lainnya yang keluar bersamanya.


"Sepertinya hanya pemberontak kecil, sudahlah tuan! biar kami yang selsaikan kau selsaikan saja kenikmatanmu!" ucap seorang pria di sampingnya.


Semirak senyum tergambar dari bibir pria itu yang kemudian mengangguk setuju, belum juga melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut sebuah anak panah melayang menghempas tubuh pria dan kedua pria di sampingnya.


"Banyak omong si!" ucap Jaka geram dan melihat sekeliling di mana sudah nampak tidak ada lagi penjajah.


"Cuma segitu doang sombong!" ujar Jaka yang kemudian turun dari pohon dan menatap saudaranya yang memang sudah sedari tadi di bawah.


"Cuma jadi pahlawan bayangan!" ucap lagi Jaka yang kemudian di tertawakan Jajang karena sikapnya itu.


"Ya kalo mau jadi pahlawan beneran juga gak papa, kamu tinggal sapa para warga desa dan bilang, akulah yang menyelamatkan kalian!" ucap Jajang dengan sedikit menirukan gaya sombong.


"Gak ah, takut gak dapet bayaran dari tuhan!" ucap Jaka kemudian yang langsung menyimpan busurnya ke dalam bakul yang akan dia gendong.


Kersuk... Krek.. sebuah bunyi mencurigakan keluar di belakang Jajang dan Jaka, sontak keduanya menjadi waspada dan langsung melayang ke atas pohon di dekatnya untuk melihat siapa yang yang telah mengintipinya.


"Keluar!" ucap Jaka garang dan sontak seorang wanita bertubuh aduhai dengan dua belah gundukan yang saling berhimpit membusung mempertontonkan kemolekannya.


Jaka yang melihat itu lantas menelan Salivanya kasar, matanya memperhatikan dua belahan dada yang nampak naik turun dengan nafas yang tersegal ketakutan, berbeda dengan Jaka, Jajang malah nampak acuh tak acuh dan tidak perduli.


"Maa...maafkan aku.. para Kesa..tria! Aku... aku tidak tahu... hiks.. hiks.. aku hanya sedang bersembunyi...!" ucap wanita itu dengan isak tangisnya.


"Siapa namamu?" tanya Jaka turun dari atas pohon dan menatap lekat tubuh yang nampak bergetar itu.


"Jangan takut, kami tidak akan melukaimu! pulanglah sekarang sudah aman!" ucap Jaka menepuk pundak Yasmin.


Yasmin mengangguk mengiyakan dan melangkah menuju desa tersebut, namun belum jauh dia melangkah Jaka kembali berseru.


"Ambil ini! ini sangat beracun, gunakan dengan bijak! dan ini juga, ini obat mujarab gunakan pula dengan bijak!" ucap Jaka menyerahkan dua buah bukusan daun kepada Zahra.


Zahra mengangguk lalu dia melepaskan gelangnya, dia memperhatikan gelang itu sekilas lalu menyerahkannya pada Jaka.


"Terima kasih tuan! terimalah ini, gelang ini adalah harta paling berharga yang saya punya yang di berikan oleh ayah saya!" wajah Zahra nampak memerah saat kulit mereka bersentuhan.


Jajang yang berada di atas pohon menjadi penonton mereka yang nampak saling tertarik, namun tujuan mereka masih jauh.


"Namaku Jaka, jangan beri tahu siapun tentang kejadian kali ini! terima kasih hadiahnya!" ucap Jaka yang kemudian melayang ke atas pohon tepat di mana Jajang berada.


"Serius mau di tinggalin?" tanya Jajang menggoda sahabatnya yang nampak tengah bersemu.


"Belun ada jodoh! tujuan kita masih jauh. Bila ada jodoh pasti kita di pertemukan lagi!" ucap Jaka tersenyum sekilas.


"Haish... setidaknya nikahi saja dulu dia dan kita bisa melanjutkan perjalanan kita bila urusanmu sudah selsai!" ucap Jajang merasa kasihan.


"Tidak! aku tidak ingin membuat dia menjadi janda, melihat duda sepertimu saja aku merasa kasihan apalagi bila seorang wanita!" ucap Jaka terkekeh.


"Siapa bilang dia akan menjadi Janda!" tukas Jajang yang memang dirinya tidak pernah merasa kesepian, karena dia merasa bila hatinya sangat utuh dan cintanya tetaplah hanya untuk Sani seorang.


"Kan itu kemungkinannya Jang! sudahlah ayo lanjut!" ucap Jaka yang melomoat ke pohon berikutnya.


...


Nampak dari kejauhan samar di pandangan Jajang, Zahra tengah tersenyum menatap punggung Jaka yang kian menjauh darinya.


Tanpa terasa sebuah kata yang ingin di ucapkan Jajangpun keluar, "Tunggulah Jaka kembali!" ucap Jajang.


Wajah zahra nampak memerah dan sebuah anggukan kecil terlintas hingga sebuah teriakan lembut terdengar, "Aku akan menunggumu Kesatria!" ucap Zahra dan sontak wajah Jaka memerah kepanasan.


Zahra menatap benda yang di berikan Jaka dan tersenyum setelahnya, rasa hangat menggeliat memenuhi hatinya dan berbisik.


"Sungguh Kesatria bayangan yang baik hati!" ucapnya lirih dan mengelus dua buah bungkusan di pelukannya penuh sayang.


Zahrapun melangkahkan kaki menuju pedesaan dan nampak para penjajah yang berlumur darah dengan anak panah di leher dan dada kiri mereka.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen, dan masukan ke list bacaan kalian ya kawan..


Terima kasih.


Salam cinta dari Raisa.