
Beberapa waktu sebelumnya, Jaka mengepalkan tangannya menahan amarah yang begitu besar, langkah kakinya melayang seperti orang kesetanan membelah hutan di langit malam.
"Berani kau menyentuh yasmin! Akan ku pastikan tanganmu putus, dasar mahluk tercela!" ucap Jaka hingga akhirnya dia sampai di sebuah bukit di mana beberapa pembunuh bercadar sudah siap dengan kedatangan Jaka.
Namun Jaka yang sedang terbakar amarah langsung memberikan jotosnya sebagai sambutan, bogem mentahnya melayang tertiup angin menerpa wajah yang tertutup cadar.
"Dasar manusia keji...!" ucap Jaka langsung menumbangkan seluruh pembunuh yang sudah bersiap.
Di balik rimbunan pohon nampak dua orang penyerang yang sudah siap menjaga Jaka dari kemungkinan tak terduga yang dapat membahayakan nyawa Jaka.
"Bagaimana ini? Apakah kita harus turut bertindak?" tanya pria penyerang bernama Sura.
"Jangan dulu Ra, aku yakin a Jaka bisa mengatasi sampah model begitu!" ucap kawannya yang lain bernama Seri.
"Baiklah Ri kita tunggu saja, bila memang di butuhkan kita akan bertindak!" ucap Sura dengan senyum di bibirnya yang tertutup langit malam.
Para pembunuh bercadar itupun berhasil di tumbangkan dalam sekejap, namun demi mengulur waktu, seorang pria keluar dari dalam mobil membawa Yasmin yang nampak meronta dan terus menangis.
"Owh, jadi rupanya wanita ini adalah orang berharga bagimu tuan Jaka!" ucap pria itu yang nampak membawa belati dan menempelkannya di pipi Yasmin.
"Kurang ajar!" Sura berucap dengan rahang bergetar menahan amarah.
"Bagamana bila aku melakukan ini!" pria berkulit pucat putih itu, merobek kebaya Yasin hingga kini Yasmin hanya mengenakan hanya mengenakan bra saja dan membusungkan dadanya yang semula tertutup.
Tangis Yasmin meratap dengan mulut terbungkam, kaki dan tangan yang terikat tak mampu menahan rasa malu dan sesal.
"Lepaskan dia!" ucap Jaka memunculkan semburat dengan gertakan giginya yang kian terdengar.
"Owh sayang sekali." pria berkulit putih itupun merobek rok yasmin hingga tubuh yasmin kini hanya mengenakan dalaman saja dan sontak amarah Jakapun meluap dan melihat sebuah kerikil di tanah.
Tenaga dalamnya dia pusatkan pada ujung kakinya dan langsung menendang kerikil itu hingga mengenai leher dari pria berkulit putih yang tidak di ketahui namanya itu.
Karena kerikil itu, leher dari pria berkulit putih itu lantas membiru seketika dan tumbang tanpa suara, dia meninggal dengan sekejap. Yasmin yang sudah lemah karena memberontakpun tertunduk di tanah dan terus menangis.
Dua pria penyerang yang di tugaskan Jajangpun saling beradu pandang dan ingin beranjak, namun rasa manusiawi mereka yang penasaran dengan kelanjutan kisah itupun tak kunjung beranjak dan memilih bertahan di balik rimbunan pohon di antara gelapnya malam.
Jaka dengan cepat melayang bak tersapu angin mengambil baju baju Yasmin yang berserakkan dan membuka ikatan tali yang sudah mengekang gadis itu.
Nampak pergelangan tangan dan kaki yasmin yang membiru dan berdarah akibat memberontak dan bibi yasminpun kini terbebas dari ikatan kain yang menyumpalnya.
Melihat wajah yang menangis di hadapannya membuat hati jaka pilu dan tidak tega dengan pemandangan memilukan tersebut dia terus memandang wajah Yasmin yang terisak.
"A, aku malu..!" ucap Yasmin dan sontak saja Jaka langsung berbalik menyadari kebodohannya saat itu.
"Pakailah pakaianmu terlebih dahulu!" ucap Jaka dan dengan cepat Yasmin mengenakan pakiannya yang kini nampak compang camping, bagian perut Yasmin sedikt terbuka dan punggungnyapun turut menjadi tontonan.
Selain itu rok yang dia gunakan semuala panjang dan menutupi betisnya yang mulus, kini terbuka dan hanya dapat menutupi setengah dari pahanya yang indah.
"A maaf!" ucap Yasmin lirih setelah dia mengenakan pakiannya, namun pakaian yang terbuka dan compang camping itu malah menunjukkan bagian lekuk tubuh yasmin yang luar biasa hingga dengan susah payah Jaka harus menelan salivanya mentap keindahan dunia di matanya.
Keadaan mendesak mengharuskannya menatap tubuh yang tidak halal baginya, namun kemendesakan itu malah membuat berkah tersendiri bagi Jaka yang mendapatkan berkah di balik bencana.
"Maaf aku.. Hiks...!" Yasmin tak sanggup melanjutkan katanya dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri yang sudah di lihat orang lain selain Jaka.
"Maaf kenapa?" Jaka mengangkat dagu Yasmin memperhatikan aliran air yang tak kunjung surut dari mata indah yang kini nampak tertempa sinar rembulan.
"Karena.. Aku..!" Yasmin ragu melanjutkan katanya, bagiamana mungkin dia yang seorang gadis mengatakan bila dia telah merawat tubuhnya untuk sang suami, dan dia berharap bila calon suaminya itu adalah Jaka.
Yasmin tak sanggup mengutarakan kata yang begitu sulit itu dari bibirnya, tubuh Yasmin seakan melayang dan menerpa tubuh tegap Jaka dan memeluknya erat.
Tangis Yasmin pecah dalam pelukan itu, awalnya Yasmin berpikir dia akan mendapatkan penolakan dari Jaka, namun dengan lembut Jaka malah mengusap rambut Yasmin dan mendekapnya dalam kehangatan malam yang sangat dingin.
"Sudah cukup menangisnya, kamu tidak salah apapun!" ucap Jaka karena sebenarnya dialah yang salah dan malah teledor membiarkan Yasmin dalam bahaya, bila sesuatu hal yang buruk terjadi pada gadis itu tentulah dia yang patut di salahkan karena memang dialah yang salah akan segala hal yang menimpa gadis itu.
Jaka mengangkat dagu gadis manis yang kini dalam pelukannya, entah setan dari mana datangnya yang memasuki tubuh Jaka hingga akhirnya Jaka tidak sanggup menahan dirinya untuk mengecup bibir merah muda milik Yasmin yang sedikit terbuka.
Yasmin menutup matanya dan merasakan desiran lembut di bibirnya, dia merasakan hawa panas mengitari dadanya dan tubuhnya yang kian meminta lebih.
Seakan tak ada penolakan dari yasmin dan malah kini tangan Yasmin sudah berada di tengkuknya, Jaka melepaskan kecupannya sekejap mentap mata indah Yasmin yang nampak Sayu.
.........
Di antara rimbunan pohon Sura dan Seri nampak tengah di rebus dengan hawa panas dalam diri mereka yang bergejolak.
"Sebaiknya kita jangan menonton kelanjutannya!" ucap Sura lada Seri yang nampak senyum senyum sendiri.
Bukannya menjawab Seri malah pergi, melangkahkan kakinya ke dahan besar menjauhi Jaka dan Yasmin yang tengah terrasuki Sayton dunia.
Begitulah apa yang mereka lihat dan mereka rahasiakan dalam hati mereka, namun mungkin bila mereka bertemu Jaka dan Yasmin mereka akan merasa gugup akibat malam itu.
.........
Berbeda dengan mereka yang sudah pergi, Jaka yang memang sudah sadar sedari awal di ikuti lantas tersenyum simpul saat mereka pergi meninggalkan dirinya dan Yasmin berdua.
Dia tidak perduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, atau malah beredar gosip tak sedap tentangnya, malah bila semua itu terjadi itu semua akan mempermudahnya untuk menghalalkan Yasmin.
"Yasmin, bersediakah kamu menjadi isteriku? Menjadi orang yang selalu ada di sampingku seumur hidup dan ada dalam suka dukaku sepanjang nafasku?" begitulah Jaka mengutarakan keinginan hatinya dengan suara lembut dan sangat mendamaikan hati.
Sebuah anggukan dari Yasmin di berikan dia langsung memeluk tubuh Jaka seakan tak ingin melepaskannya lagi.
Dalam malam sunyi dengan bintang bertebaran dan bulan yang tersenyum terang memberikan keindahan tersendiri di malam itu terutama bagi Jaka dan Yasmin.
"Aku tidak dapat menyentuhmu sebelum aku menghalalkanmu, jadilah permaisuriku dan bunga melatiku yang indah." ucap Jaka lagi lirih dan memeluk tubuh ringkih Yasmin penuh ketenangan.
...***...
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, sekecil apapun dukungan kalian itu sangat berarti bagi author.
Salam cinta dari Raisaπππ