
Termenunglah seorang gadis berhijab dan berlesung pipi diteras rumahnya. Raganya sedang duduk melamun diatas tangga,tapi jiwanya entah berkelana kemana. Dipangkuannya meringkuk seekor kucing berbulu lebat,anggora begitu ras kucing itu biasa disebut.Tangannya mengelus lembut kepala sikucing. Kucing itu menggeliat manja seakan pangkuan Emma adalah kasur paling nyaman didunia.
Akhir-akhir ini Emma merasa tidurnya tak nyaman,makan pun tak tenang. Pikirannya melayang-layang pada satu wajah di negri antah-berantah. Mau makan ingat dia. Mau minum ingat juga. Mau tidur,mau mandi,mau sholat juga ingat dia. Alamak,bahkan hatinya merasa rindu juga. Bayangan wajah Thomas selalu terngiang dalam ingatan. Semakin dilupakan,semakin sering dia datang.
Adakah engkau yang disana juga merasakan hal yang sama? Bibirnya tersenyum.
Kucing itu melompat dari pangkuan Emma,”Miiiaaaaauuuu,”mungkin dia sadar kalau dia hanya dianggap sebagai figuran. Jadi dia lebih memilih masuk kedalam rumah,dan berburu tikus di dapur rumah Emma. Setidaknya saat berburu dia merasa jadi kucing sesungguhnya.
Kemarin dia baru ditinggalkan kekasihnya kitty,kucing tetangga sebelah rumah Kyai Jamal. Kitty pergi bersama kucing garong pasar minggu. Cih,bahkan dia seratus kali lebih keren. Akan dia buat kitty menyesal setelah menggaet kucing betina yang lebih seksi nanti.
Emma tak perduli dengan ngeongan si jabrik. Kucing jantan milik ayahnya. Pantas saja dia merasa tak nyaman ketika Emma mulai memikirkan laki-laki lain. Terus tersenyumlah Emma memandang awan berarak dilangit jingga. Bahkan awan itu terlihat membentuk wajah Thomas dalam bayangannya.
“Sudah mau adzan,tak baik anak perawan ada diluar sewaktu petang,” suara khas Kyai Jamal membuayarkan gambar wajah Thomas diatas awan.
Emma tergagap,malu sekali karena ketahuan sedang melamun. ”Ayah mau kemasjid?” tanya Emma
“Iya,kalau kamu mau sholat di rumah segera masuk. Kalau mau ikut Ayah kemasjid,ayah tunggu,”
“Emma sholat dirumah saja Yah,” ucapnya mantab.
Kyai Jamal pergi setelah berbincang dengan putri semata wayangnya. Dia tahu kalu Emma sudah mulai dewasa dan menaruh hati pada lawan jenisnya. Tapi,yang jadi pertanyaan,siapakah orangnya?
>>>
Keesokan harinya Emma pergi ke minimarket didepan gang rumahnya. Memilih dengan takzim segala kebutuhan yang ia cari. Murah berkualitas. Begitulah motonya dalam memilih barang. Satu persatu produk pilihan yang dicarinya masuk kedalam keranjang yang ia jinjing. Emma adalah tipe orang yang tak suka lama-lama berpikir dalam menentukan pilihan. Hingga tak butuh waktu lama,keranjangnya sudah penuh terisi.
Dibawanya keranjang belanja itu kekasir. Tapi langkahnya berhenti ketika melihat seorang pria berpunggung lebar sedang mengantri didepan meja kasir.
Bergetarlah tubuhnya,hingga ia harus berpegangan pada rak barang. Jantungnya berdentum tak karuan. Padahal mungkin orang itu bukan dia. Mungkin hanya mirip. Itu hanya punggungnya Emma,belum terlihat wajahnya.
Entah siapa yang mengirim pesan pada pria itu untuk menoleh kebelakang. Melihat Emma yang berdiri kikuk dibelakangnya. Bahkan rak yang dipegannya bergetar,mungkin rak itu akan roboh jika Emma tak segera melepaskan tangannya.
Deg,matanya bersitatap dengan mata Emma yang berkaca-kaca. Mungkin memang benar,jika mata adalah alat komunikasi yang tak bisa berdusta. Terlihat jelas sekali kalau Emma bahagia hingga mau menangis.
Pria itu berbalik,berjalan menghampiri Emma yang semakin membeku disamping rak barang. Tangannya dingin,berkeringat. Jantungnya terasa mau meloncat saking gugupnya.
“Kau disini juga?” tanya Thomas. Dia sebenarnya juga tak menyangka bisa bertemu Emma ditempat ini. keberuntungan karena dia sedang dalam tugas mulia. Mencari dalang dibalik bocornya rahasia perusahaan Charlie’s Corp. Thomas senang,tapi ia pandai bersandiwara, memasang wajah datar dan dingin kebanggaannya.
“Saya sedang belanja Tuan,” aish tentu saja kau melakukan itu diminimarket Emma.
Thomas meraih keranjang Emma yang hampir terjatuh dari genggaman empunya. Membawanya ke meja kasir. Emma berjalan patuh dibelakang Thomas,seperti anak bebek yang mengikuti induknya. “Masukkan dalam tagihan saya Mbak,” ucap Thomas.
“Eh,tidak perlu Tuan,anda tidak perlu repot-repot,” cegah Emma. Benar kan dia memang pria idaman? Gumam-gumam dalam hati. Tapi sungkan juga kalau belum jadi apa-apa belanjaan sudah dibayari.
“Mari saya antar pulang,” kata Thomas setelah mereka keluar dari minimarket. Jangan menyia-nyiakan kesempatan. Mungkin dia memang jodohmu gumamnya senang.
Emma hanya mengangguk lamat,menggit bibirnya agar berhenti tersenyum. Sedangkan Jantungnya masih berpesta ria. Terasa ribuan kupu-kupu juga menggelitik perutnya. Apa begini ya rasanya jatuh cinta?
Thomas mengantar Emma sampai didepan gang rumahnya. Dia tentu saja masih hafal jalan kerumah Emma,karena masih berada disekitar tempat tinggal Tuannya.
“Terimakasih Kak,karena sudah mengantar saya. Apa kakak mau mampir sebentar?” dalam perjalanan pulang Thomas menyuruh Emma mengganti panggilannya. Panggilan Tuan terdengar sangat kaku untuk mereka. Dan akhirnya Emma memilih panggilan kakak untuk Thomas.Akrab tapi tidak berlebihan.
“Apa orang tuamu dirumah?”
Hah? Emma melongo,kenapa? kenapa kau tanyakan itu? “ Ayah sedang ada urusan siang ini,mungkin belum pulang. Memang ada apa Kak?” meski ragu bertanya juga.
“Nggak pa-pa,kalau aku datang kerumahmu akan ku jawab apa nanti jika orang tuamu bertanya siapa aku?” bicara serius,seakan itu adalah masalah paling berat didunia.
“Kakak kan bisa bilang kalau kita ini teman,mungkin,” bukankah itu mudah. Dan kita memang masih sebatas teman sekarang,entah nanti,hihihi.
“Benar juga,kenapa aku sama sekali tak memikirkannya,”
“Memang apa yang Kakak pikirkan?” tersenyum simpul.
Telinga Thomas terlihat merah. Apa dia malu? Aaaaaaa manisnya. Emma mengalihkan pandangan ke luar jendela,menutupi senyumnya.
“Tidak ada,ayo turun,aku akan mengantarmu sampai ke rumah,” membuka pintu dan turun lebih dulu. Lalu membukakan pintu untuk Emma. Emma kembali terpesona dengan sikap Thomas padanya. Dan parahnya itu membuat benih cinta semakin tumbuh dihatinya.
“Terimakasih,” ucap Emma malu-malu.
Sampailah dua insan itu didepan rumah yang terlihat sederhana. Rumah Emma. Mereka masih berdiri bersisian di depan teras. Pintu rumahnya tertutup,berarti Ayahnya belum pulang. Emma ragu,apakah dia akan mengajak Thomas masuk kedalam rumah atau tidak.
“Masuklah,aku akn mampir lain kali,” Thomas tahu kebimbangan Emma.
“Ada tamu rupannya?” Kyai Jamal tiba-tiba muncul dibelakang mereka. Tak terdengar derap langkah kedatangannya.
Ada yang meledak tapi bukan bom. Thomas kaget bukan kepalang. Dia masih ingat betul siapa pria tua yang kini sedang menatap tajam padanya. Manusia yang bisa melihat siapa dirinya yang sebenarnya. Sesaat yang lalu dia hampir lupa kalau dia adalah seorang pemburu. Dan pertemuannya dengan Kyai Jamal menguntap jati dirinya.
“Ayah baru pulang?” Emma bicara yang semakin membuat Thomas sesak nafas.
Apa? Kenapa? Kok bisa? Dan pertanyaan penuh tanda tanya berseliweran dikepala Thomas.
Kamu lagi? Apa kau ingin menjerat putriku untuk jadi mangsamu?
Duaaaaaar. Thomas semakin sulit bernafas.