Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
AKU BEGINI KARENA KAMU


Tidak bisa menerima kenyataan. Bisa merubah seekor anak kucing menjadi seekor singa. Mungkin itulah yang terjadi pada Nico. Rasa sakit hatinya,karena penolakan Larasati,telah mengubahnya menjadi seorang monster.


Pria tampan dengan senyum manis itu kini berubah mengerikan. Sepasang mata yang memerah dan gigi taring yang mencuat, membuat kesan imut dan manis itu sirna sudah. Senyumnya menyeringai jahat. Pandangannya tajam menatap Larasati.


“Apa yang terjadi sama kamu Nic?” Suaranya bergetar. Ada rasa kaget bercampur takut. Tapi sesungguhnya rasa kasihan lebih besar untuk mantan kekasihnya itu.


Nico kembali menyeringai,dia mendesah.” Aku begini karena kamu Laras.” Tuturnya tenang. Larasati mengkap rasa kecewa dalam suaranya.


“Demi ALLAH Nic,aku nggak bermaksud menyakiti kamu. Aku Cuma mau kamu ngerti. Kalau hubungan diantara kita nggak akan bisa seperti dulu lagi.” Dadanya terasa sesak. Ternyata selama ini Nico tak pernah bisa menerima kenyataan.


“Jangan kamu bawa-bawa nama Tuhan disini. Itu nggak akan merubah semuanya.” Senyumnya hilang,ada kemarahan dimata merah itu.


 


 


Flassback on.


Nico yang terpuruk karena rasa bersalah dan kecewanya pada Larasati. Sedang berdiri menatap hamparan langit diatas sebuah gedung tinggi. Tak pernah mau mengerti bahwa ini semua karena perilakunya sendiri. Penyesalan selalu datang kemudian.


“Apa aku mati saja? Hidup tanpa kamu nggak ada ada artinya Laras.” Bergumam lirih. “AKU CINTA KAMU LARAS,AKU SAYANG KAMU. ARGGGHHHHHH !!!” Berteriak sepuasnya seperti orang bodoh,Nico tertawa lalu menangis tergugu. Dia benar-benar merasa frustasi.


Tiba-tiba semilir angin yang dingin menerpa wajahnya. Bulu kuduknya berdiri. Ada aroma asing yang tercium indranya. Nico menghentikan tangisnya,meraba tengkuknya yang tiba-tiba merinding.


Sebuah siluet bayangan seseorang berdiri dibelakangnya. Kakinya tiba-tiba gemetar,jantungnya memompa darah lebih cepat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Takut-takut ia menoleh kebelakang. Mencoba sekuat hati melihat bayangan hitam yang berdiri dibelakangnya. Semakin lama bayangan itu semakin mendekat,mulai terlihat jelas seperti apa wujudnya.


Nico meraba dadanya. Jantungnya masih berdebar tak beraturan. Ketika ia tahu,bayangan hitam itu perlahan berubah menjadi seorang perempuan cantik berbaju seksi dan menggoda. Dia berjlan perlahan,berlenggak-lenggok memamerkan tubuh indahnya dalam balutan dress merah ketat.


“Kau mau menangisi gadis itu sampai kapan manusia?” Tanya perempuan itu. Bibirnya tersenyum sisnis.


“Apa maksudmu?” Suaranya bergetar. Jelas dia takut. Bagaimana bisa sebuah bayangan berubah menjadi seorang manusia? Apa dia bukan manusia? Pikir Nico.


Perempuan itu berecih,melihat Nico dengan pandangan meremehkan ,masih dengan senyum sinisnya. “ Ikutlah bersamaku,dan kau, akan mendapatkan apapun yang kau mau,” Memberikan sebuah penawaran yang menggoyahkan iman. Apapun yang kau mau?


“Kenapa kamu datang padaku? Ada milyaran manusia di muka bumi ini. Kamu bisa cari yang lain.” Nada suaranya  meninggi. Mencoba menggretak perempuan didepannya. Dia cantik tapi menakutkan. Sorot matanya tajam dan kejam.


Evelin berjalan mendekat,menyisakan jarak sejengkal antara tubuhnya dan Nico. Dia mendekatkan kepala,menghirup aroma tubuh Nico dilehernya. Kedua tangan dinginnya memegang bahu Nico.


Nico membeku seketika,dia tak bisa bergerak. Entah apa yang terjadi. Kemudian perempuan itu berucap lirih ditelinganya,”karena kamu,istimewa.”


Dan itulah awal persekutuan Nico dengan bangsa pemburu. Rayuan dan kata-kata manis dari seorang Evelin atau Eve bisa menggoyahkan imannya. Hingga dia mau menjadi seorang pemburu,ikut menyebarkan virus dan membunuh ribuan kaumnya sendiri. Nico yang sekarang sudah berubah.


Flashback off.


“Ya Allah Nic.” Larasati tanpa sadar ter isak. “Ma’af Nic,” Hanya kata itu yang terpikirkan olehnya.


“Kamu nggak perlu minta maaf. Semuanya sudah terlambat. Apa kamu tahu? Dihari pernikahan kamu dengan si bangsat itu aku ada disana. Aku lihat senyum kebahagiaan kamu dengan pria yang baru kamu kenal tiga bulan itu. Kamu bisa dengan mudah menerimanya jadi suami kamu. Sedangkan aku butuh waktu berbulan bulan hanya untuk sekedar jadi pacar kamu.” Nico tersenyum getir.


Larasati diam. Apapun yang akan dia katakan tak akan merubah Nico seperti dulu lagi. Dia hanya berharap mantan kekasihnya itu tak kalap untuk menyerangnya.


“sekarang aku sudah menemukan perempuan baru yang bisa menggantikan kamu.” Tersenyum,lalu mengulurkan tangan kebelakang. Yang disambut oleh bayangan hitam yang perlahan berubah wujud menjadi Eve. Sekretaris William dan juga abdinya di negri kegelapan. Perempuan itu bergelayut manja dibahu Nico.


 


 


Nico menyeringai,lalu menatap lagi Larasati yang bediri dengan kaki gemetar. “Tentu Sayangku,apa pun akan aku lakukan untukmu.” Nico menowel mesra dagu Eve.


Perlahan kakinya mendekati Larasati. Mengankat tangan yang dihiasi kuku panjang dan tajam didepan wajahnya.


Sebelum ia berhasil mendekati Larasati,Sakti sudah berdiri menghadangnya. Matanya menatap tajam pada Nico. Sebuah pedang dengan cahaya berkilauan tergenggam erat di tangan. “Hentikan,kalau kau tak ingin mati di negri ini. Pulanglah dan kembali jadi anak mama yang imut dan menggemaskan. Taring itu tak pantas ada di wajah bayimu,” Kata Sakti datar.


Nico berdecih,bahkan Sakti juga menganggapnya seorang bocah. Tangannya mengepal geram. Ada dendam mebara yang sedang terbakar dihatinya. Sakti adalah pria yang paling ia benci di dunia ini. Nico tak perduli,sekalipun yang berdiri dihadapannya ini adalah seorang Pangeran Negri Kegelapan. Dendam dan kebencian sudah menjalar diseluruh tubuhnya. Menutup akal sehat dan kewarasannya. Dengan membabi buta ia mengarahkan serangan kepada Sakti. Dan pertarungan antara dua pria yang pernah mengisi hati Larasati itu tak terelakkan.


Evelin yang melihat itu tak tinggal diam. Ia juga ikut membantu Nico mengeroyok Sang Pangeran. Dua lawan satu.


Larasati beringsut mundur. Menjauh dari arena pertarungan.


Serangan demi serangan bergantian mereka lontarkan pada Sakti. Berkali-kali sabetan pedang hampir mengenai Calon Raja itu. Saat datang kesempatan Sakti untuk membalas serangan,ia tak menyia-nyiakan itu. sakti mengarahkan ujung pedangnya pada jantung Eveline. Tanpa di duga,Eve menarik tubuh Nico disampingnya. Menjadikannya sebagai tameng hidup untuk menagkis serangan Sakti.


Jleeeeb.


Ujung pedang itu menusuk tepat dijantung Nico,hingga tembus di punggungnya.


“Nicoooo!” Larasati berteriak menutup mulutnya. Bukan karena ia masih punya rasa. Tapi,kematian seseorang yang terjadi didepan matanya,membuatnya tersentak.


Nico menoleh pada Eveline yang berdiri menyeringai dibelakangnya. Dalam sisa nafas terakhirnya,dia masih tak percaya Eveline tega berbuat seperti ini.


Dalam suasana yang masih mengagetkan semua orang,Eveline tak menyia-nyiakan kelengahan Sakti. Dengan satu gerakan dia menusukkan pedang kearah Sakti menembus tubuh lemah Nico. Membuat pria itu mengehembuskan nafas tanpa suara.


Sakti yang masih dalam keadaan shock,karena pedangnya salah sasaran. Tak mengetahui gerakan cepat pedang Eveline yang mengarah padanya. Ujung pedang Eve berhasil merobek kulit perutnya. Meski tak begitu dalam,tapi menyisakan perih yang amat sangat.


Lagi-lagi Larasati dibuat terpana dengan kejadian bertubi-tubi didepan matanya. Kematian Nico yang tragis dan terlukanya sang suami. Larasati berlari mendekati tubuh Sakti yang terhuyung. Memegang lengannya,”Sayang,kamu nggak pa-pa?”


Sakti tersenyum melihat raut khawatir dimata istrinya,”Cuma luka kecil. Kamu kesana dulu ya. Sepertinya kata ampun tidak pantas diberikan untuk pemburu satu ini.” Melirik Eve.


Larasati mengangguk patuh,mundur menjauhi tubuh suaminya.


Pertarungan belum selesai. Begitu juga antara Thomas dan William. Mereka tak terlihat lelah untuk berhenti mengayunkan pedang satu sama lain. Meski sudah terluka dibeberapa bagian,tak membuat mereka enggan kembali menyerang.


William terbang cepat kearah Eveline. Matanya menatap tajam,”Dasar bodoh, menangkap manusia satu saja kau tidak pecus. Dan budak manusiamu itu juga tak bisa melakukan apa-apa.”


“Maaf Tuan,” Menundukkan kepala.


Disaat dua orang itu sedang berbicara. Sakti mengeluarkan senjata keramatnya. Panah Kematian. Cahaya dari benda itu mengalihkan perhatian semua orang. Sekarang semua mata memandang kearah Sang Pangeran. Dia berfikir untuk mengakhiri pertarungan ini secepatnya. Sebelum bulan merah terjadi. Pertarungan ini sudah mengulur banyak waktu. Ia tak ingin terlambat ke bukit persembahan.


“Thomas,bawalah Larasati kesana. Akan ku urus sisanya.” Kata Sakti. Dia sudah menarik tali busur dan bersiap melontarkan panah api biru kepada William dan Eveline.


Thomas mengangguk pelan,lalu membawa Larsati terbang dalam sekejab. Menjauhkannya dari tempat itu. Sesungguhnya, Sakti hanya tidak ingin Larasati melihat sisi kejamnya.


Mata birunya masih menatap tajam pada sepasang pemburu yang berdiri congak dihadapannya.”Aku beri kalian satu kesempatan untuk berhenti dan menyerah,” Ujarnya.


William berdecih dan tersenyum sinis,”Lebih baik aku mati dari pada harus menyerah dan mengaku kalah,” katanya kemudian.


“baiklah kalu itu maumu,” sakti menarik tali busur lebih kuat,lalu WUUUUSSH,anak panah itu melesat kearah dua orang itu.


Seperti dejavu,William menggunakan tubuh Eve sebagai tameng. Tapi,sia-sia. Anak panah itu tetap bisa melukai tubuh keduanya. Membakar mereka seperti api membakar kayu. Dalam sekejab tubuh itu hancur menjadi abu.


Sakti menunduk. Sebenarnya ia tak tega untuk melukai siapapun. Tapi,kekejaman mereka sudah melewati batas dan tak bisa dimaafkan. Sakti berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. menuju bukit persembahan.