
Larasati mencengkeram erat tirai dikamarnya. Menatap kerumunan yang sedang bersorak dihalaman Istana. Terlihat jelas kebahagiaan diwajah mereka. Klau seperti itu ,Para Pemburu terlihat seperti manusia.Tersenyum,dan tertawa tanpa taring yang menghiasi mulut mereka.
Sakti memeluknya dari belakang. Mendekapnya erat. Tak mau melihat sorak sorai itu,. menatap wajah penuh harapan rakyatnya,hanya akan membuatnya merasa bersalah. Malam ini apakah cinta mereka harus berakhir tragis seperti ini?
Tanpa sadar ia terisak dipunggung kecil istrinya. Larasati berbalik. Memegang dengan lembut kedua pipi suaminya yang basah oleh air mata. Sebenarnya ia juga ingin menangis. Tapi dia harus kuat.
“Sayang, percayalah apapun yang terjadi,aku tetap mencintaimu. Jika jodoh kita didunia ini hanya sampai disini,semoga kita berjodoh di surga nanti. Aku mencintaimu dengan seluruh kehidupanku suamiku. Muhammad Sakti Dirgantara.” Tersenyum lalu menusap sisa tetesan air mata dipipi suaminya.
“Ijinkan dan ikhlaskan aku, Mas.” Bicara dengan nada selembut mungkin. Suaminya terlihat berbeda jika seperti ini. Sakti benar-benar seperti manusia yang punya sisi lemah dihadapan istrinya.
Sakti menghela nafas panjang. Bahkan ia bisa tidak tahu malu menangis dihadapn istrinya,laki-laki macam apa aku ini. Pikirannya memaki. Lalu dengan berat ia mengatakan,”Aku menijinkanmu istriku. Stela Larasati Wijaya. Semoga Tuhan melindungimu. Dan membuatmu kembali padaku.”
Aku tidak akan rela jika kamu pergi dariku Laras. Dalam hati ia menaruh harapan besar untuk keselamatan istrinya.
Malam ini jangan sampai menjadi malam terakhir bagi mereka. Sakti masih ingin melewati seribu satu malam lagi dengan istrinya atau lebih atau selamanya. Dalam hati ia terus berdoa,supaya Tuhan memberikan Istrinya perlindungan dan pertolongan.
Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua rakyat berkumpul di bukit persembahan. Berdiri menghadap api biru yang menyala diatas sebuah cawan besar berwarna emas. Disampingnya ada sebuah tugu batu dan sebuah cawan kecil sebesar mangkok.
Memiliki warna yang sama,dengan ukiran rumit yang tak pernah terpikirkan oleh otak manusia manapun. Ukiran itu dibuat oleh para Dewa di kahyangan. Cawan itu adalah tempat dimana darah suci akan menjadi obat dan juga menjadi sumber kemakmuran rakyat kaum pemburu.
Larasati menaikki sebuah kereta kencana. Sebuah kereta mewah yang disiapkan oleh sang Raja. Ia menggunakan sebuah gaun sederhana berwarna putih,tapi terlihat mewah dan cantik saat melekat ditubuhnya. Larasati duduk sendiri di dalam kereta itu. Sedangkan Sakti berperan sebagai kusir yang mengantarnya kebukit persembahan. Meski tak rela,tapi dia harus melakukannya.
Sakti menggela kuda itu dengan pelan. Dikawal dan diapit oleh ratusan anggota Klan Secret. Didepan dan belakang. Thomas berada pada barisan terdepan,menunggangi kuda hitamnya yang bertaring setajam pedang. Baju kebesarannya juga ia kenakan. Mata hijaunya bersinar mengamati situasi disekitarnya.
Tiba-tiba Thomas mengangkat tangan. Mengkomando pasukan untuk berhenti. Dia mencium aroma bahaya didepan sana. Tak lama setelah semua pasukan berhenti. Apa yang ditakutkan Thoomas terjadi.
Segerombol pemburu berjubah hitam dan merah mencegat rombongan itu. Menghadang mereka ditengah jalan.
Seorang pria berbadan tegap berada dibarisan paling depan. Menungangi seekor burung yang mempunyai dua kepala berbentuk ular. Entah hewan apa itu sebenarnya. Kepalanya menggeliat kesana kemari,berdesis dan menjulurkan lidah, mencium aroma darah yang membuatnya juga mabuk kepayang.
Pria itu langsung menarik tali yang mengikat leher mereka. Membuatnya tenang. “Kalian juga merasakannya kan? Pesona darah itu tak terbantahkan. Bukan hanya darahnya tapi juga orangnya.”katanya,dia menyeringai,menampilkan sepasang taring yang diasembunyikan selama ini.
Larasati menutup mulutnya dengan tangan. Dia mengenali suara itu. matanya membulat sempurna. Tak percaya,tenyata CEO menyebalkan itu adalah seorang pemburu. Bagaimana bisa?
Hatinya bertanya-tanya. William luke adalah seorang pemburu dan juga pemimpin klan Devil?
“Apa mumu William?” tanya Thomas lantang. Matanya mentap tajam.
“Hei hei. Apa kau benar-benar tidak tahu? Apa mauku.” Tersenyum sinis.
“Apapun itu. Lebih baik kalian pergi,sebelum pedangku ini memotong lidahmu yang lancang itu.” Kata Thomas kemudian.
William berdecih. Membalas tatapan tajam Thomas dengan sama menakutkannya. Namun itu sama sekali tak menakuti Thomas,atau menggoyahkan kesetiannya kepada Calon Pewaris.
“Hei Pangeran pengecut ! Apa kau akan terus bersembunyi dibalik ketiak pengawalmu? Cih.“ kata William lantang.
Tapi sayang sekali Sakti sama sekali tidak terprovokasi. Dia tahu akal busuk William. Hingga lebih memilih untuk diam dan menemani istrinya didalam kereta.
“Sayang,apa yang terjadi?” Tanya Laras.
Mereka kembali menatap kedepan. Melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
William kembali memprovokasi,”Apa kau pikir darah gadis itu bisa melawan virus yang aku sebarkan?” Bertanya sinis.
Thomas tidak kaget sama sekali. Begitu juga sakti. Karena mereka sudah menduga itu dari awal. Hanya perlu bukti yang meyakinkan untuk menangkapnya. Tapi sekarang sang pelaku malah mengakui kejahatannya sendiri.
“Kau akan dihukum atas perbuatanmu William. Virus itu sudah dilarang,karena sangat berbahaya. Dan kau melanggar aturan itu. Membunuh banyak nyawa tak berdosa.” Kata Thomas
“Buaha ha ha,kau ini lucu sekali. Membunuh adalah hobiku.” Tersenyum sinis “Dan kau pun sama. Kau membiarkan manusia-manusia bodoh yang ingin mati konyol itu kan? Kau lebih licik Thomas,memanfaatkan kebodohan jiwa manusia agar mereka bisa memberikan darahnya untuk kau hisap.”
Thomas terdiam. Ya, dia memang melakukannya. Mendatangi setiap manusia yang ingin mengakhiri hidup mereka dan berperan sebagai malaikat pencabut nyawa. Para manusia yang ingin membunuh dirinya sendiri,dengan senantiasa memberikan darahnya untuk diminum Thomas. Jiwa putus asa dan menyerah dengan kesulitan hidup adalah makanan Thomas selama ini.
“Kenapa? Apa kau mau menyerah sekarang? Jadi bisa kah aku mengambil kekasihku itu.” Menatap Larasati yang bersembunyi didalam kereta.
“Kau bisa mengatakan apapun yang kau mau. Tapi kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan.” kata Thomas tegas dan dingin.
William kembali berecih. Dia terlalu lama berbasa-basi,yang sama sekali tak berpengaruh pada musuhnya. Tangannya mengepal geram. Matanya merah menyala,lalu dia melemparkan tatapan tajam pada Thomas yang menyeringai dihadapannya. William mengangkat pedangnya tinggi,dengan satu teriakan lantang dia mengkomando pasukannya untuk menyerang.
“SERAAAAAANNNGG !”
Dan pertempuran ditengah malam itu tak bisa dihindarkan. Pertarungan antara Klan Secret dan Klan Devil. Mereka saling serang dan saling bunuh tanpa ampun.
Larasati berteriak tanpa suara,menutup wajahnya dengan tangan. Ketika melihat darah berhamburan,bagian tubuh yang terisah dari tempatnya. Teriakan-teriakan penuh kemarahan dan kesakitan menggema disunyinya hutan.
Dentingan suara senjata yang beradu terdengar menyayat hati. Tapi ia tak berani melihat apa yang terjadi. Sakti duduk disampingnya,memeluknya erat. Sesekali dia ikut menyerang anggota Klan Devil yang berhasil mendekati kereta.
Thomas dan William masih terlihat sama kuatnya. Saling melemparkan serangan mematikan,namun selau bisa ditangkis oleh lawan. Berkali-kali William menyerang,tapi Thomas tak pernah memberikan kesempatan kepada musuhnya untuk bisa melukai tubuhnya sedikitpun. Dia memang pantas disebut sebagai “ DEWA KEMATIAN.”
Tiba-tiba salah seorang anggota Klan Devil melemparkan panah api kearah kereta. Membuat kereta itu terbakar. Mau-tidak mau Sakti harus membawa Larasati pergi dari sana. Sakti melawan para anggota Klan Devil yang mengepungnya. Dia terpaksa mendorong Laras untuk menjauh.” Sembunyilah,cari tempat aman!” Katanya kemudian. Satu tangannya mengayunkan pedang,menangkis dan menyerang musuh.
Larasati lari kedalam hutan. Bersembunyi diantara pepohonan. Sedikit menjauh dari arena pertarungan. Tapi masih bisa melihat para pemburu yang sedang mengorbankan nyawa,hanya untuk memperebutkan dirinya. Larasati bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Melihat apa yang terjadi disana. Berkali-kali memejamkan mata. Tak kuasa melihat kulit yang tersayat atau kepala yang terpenggal.
Larasati terlalu fokus mengamati peperangan. Hingga ia tak sadar. Seseorang sedang tersenyum menyeringai dibelakngnya. Tangannya terulur menyentuh bahu Larasati.
Larasati tiba-tiba membeku. Kaget dan juga takut. Ada seseorang yang menemukannya. Apa yang harus dia lakukan? Dalam kebingungan ia mencoba menoleh kebelakang. Matanya membulat sempurna saat tahu siapa orang yang menyentuh bahunya.
“Nico?”