
Tiba-tiba diluar gerimis. Dahan pohon terdengar mengetuk-ketuk jendela. Aku menoleh sebentar ke kaca yang terlihat basah itu. Ini malam pertamaku menginap dirumah mertua. Waktu itu aku belum sempat menginap sekalipun. Jadi ini memang masih pertama kalinya.
Ayah mertuaku terlihat serius menonton liga sepakbola ditelevisi. Kadang-kadang dia berkomentar menyaingi komentator di televisi. Kadang berteriak,dan mengumpat juga. Rupanya begini rasanya punya ayah seorang manusia. Aneh, tapi menyenangkan.
Sesekali aku mencuri pandang,menyapu wajahmu dalam sekali lirikan. Aku tahu kau melakukan hal yang sama. Kau tersenyum saat mata kita bersitatap. Membut debaran jantungku memompa cepat. Membuatku ingin terus menatap wajahmu lekat. Ayah mertua menepuk bahuku,”Ah goblok,meleset,” katanya. Membuatku meringis canggung. Jujur ku tak tahu apa yang membuat ayah mertuaku mengumpat. Karena sedari tadi acara televisi sama sekali tak lebih menarik dari istri cantikku.
Laras sedang sibuk membantu Mama Mertua menyiapkan makan malam. tak selang lama makanan sudah siap. Dan kami makan bersama. Laras membuatkan aku daging panggang setengah matang kesukaanku. Aku merasa beruntung,karena istriku memperhatikan selera makanku.
Waktu terus berlalu,kami melewati malam dingin ini dengan obrolan hangat bersama orang tua Larasati. aku duduk disofa. Istriku disampingku,memeluk mesra lenganku. Bergelayut manja. Mengusap mesra. Aku merasa kami seperti pengantin baru malam ini. mungkin memang masih baru,belum genap empat minggu.
“Tidurlah,kalian pasti lelah,” kata Ibu mertua. Aku bersorak dalam hati,kalimat ini yang aku nanti sedari tadi.
Larasati tersenyum simpul disampingku. Aku yakin dia mendengar apa yang baru saja ku pikirkan. Ini curang namanya. Kau tahu Aku. Dan Aku tak tahu.
“Kalau gitu,kami permisi duluan ya Ma,Pa,” kata Laras. Dia berdiri menarik tanganku. Sebenarnya aku malu,tapi mau bagaimana lagi. Ada hal penting yang harus ku lakukan malam ini.
Mereka mengangguk bersamaan. Mengikuti kami dengan pandangan dan senyum aneh. Aku tahu mereka memberi kami kesempatan untuk berdua,itu yang mereka katakan dalam pikirannya yang hampir sama. Apa gelagatku terlalu kelihatan?
Larasati mendorong pintu kamar. Melepaskan genggaman tanganku,”Mau kemana?” tanyaku
“Ganti baju,” jawabnya. Dia tersenyum lagi. Malam ini istriku benar-benar murah senyum. Aku suka.
Larasati berjalan menuju lemari baju. Mengeluarkan dua setel pakaian,untukku dan untuknya. “Mas,ganti baju dulu ya. disini aja,aku yang dikamar mandi,” katanya
Laras tersenyum lagi. Kali ini dia diam tak menjawabku,lalu pergi kekamar mandi dan menutup pintu. Hufffttt. Apakah malam ini tak akan ada yang berbeda dari malam sebelumnya,gumamku. Dengan malas aku melepas kaosku,mencampakkannya diatas ranjang. Menggantinya dengan piyama yang diberikan Laras. Begitu juga celana.
22.30. Aku melihat jam yang tergantung didinding kamar. Ini memang sudah malam. aku merangkak naik keatas ranjang. Duduk bersandar pada kepala ranjang. Larasati belum kembali. Aku menunggunya dengan bermain ponsel,berkirim pesan pada Thomas. Aku tersentak membaca pesan yang ia kirimkan. Thomas sudah pergi kekota X. Mengirimkan penawar virus itu kerumah sakit. Ketika aku bertanya,kenapa dia tidak menungguku. Thomas menjawab,”Nikmati waktu anda bersama Nona, Pangeran. Biar masalah ini saya yang mengurusnya,” aku tersenyum lega. Ternyata hari ini semua orang seakan mendukungku.
Klek. Tiba-tiba lampu padam. Berganti cahaya temaram berwarna kuning dari lampu tidur disisi ranjang. Larasati mematikan lampu. Aku tak melihatnya keluar dari kamar mandi karena sibuk berkirim pesan. Bayangan Laras berjalan mendekat. Aku mematikan ponsel dan meletakkannya diatas nakas. Menatap siluet Larasati yang berjalan anggun dalam cahaya temaram.
Nafasku tersengal ketika Laras semakin dekat.Aroma tubuhnya menguar di ruang kamar. membangkitkan sesuatu entah apa. Mungkin hasrat? Mataku tak berkedip memandang apa yang dia kenakan. Sebuah kain transparan yang tidak bisa disebut sebagai baju. Lingerie hitam membalut tubuhnya yang begitu sempurna. Glek. Aku menelan ludah. Untuk pertama kalinya aku melihatnya begitu.
Malam ini Larasati terlihat seksi.
Dia duduk disampingku. Menyelipkan rambut birunya yang tergerai kebelakang telinga. lalu menatapku lekat,senyum manisnya tak pernah lupa ia sematkan dibibir indahnya yang merah muda.Tangan lembutnya bergerak mengusap wajahku. Mataku masih tak berkedip. Dan bodohnya,aku membeku. Campuran rasa senang dan kaget berpadu menjadi satu. Aku memejamkan mata merasakan aliran hangat dari telapak tangannya. Kita kembali bersitatap saat aku membuka mata. Kau menatapku dengan pandangan itu. untuk pertama kalinya. Sebuah tatapan yang masih tak ku mengerti.
“Sayang,kamu,,” kata-kataku terhenti karena jemari tanganmu menyentuh bibirku. Membuatku membeku,lagi. Kau duduk merapatkan diri. Menangkupkan kedua tangan dipipiku. Ketika aku masih mencerna kejutan ini,aku merasakan bibir hangat ******* bibirku. Sesapan dan kecupan kecil kau berikan dengan begitu bergairah. Dan itu membangunkan sebuah hasrat yang ku pendam selama tiga minggu.
Kesempatan ini tak boleh kusiakan. Aku membalas semua gerakanmu. Melakukan apapun yang aku mau. kita berhenti sejenak,mengambil nafas dengan saling menempelkan dahi. Terbesit keraguan di hatiku,kalau aku akan melukaimu seperti waktu itu. Kau mendekatkan kepala ke telingaku,berbisik mesra dengan suara mendesah yang membuatku bergidik,”Malam ini aku milikmu. Lakukan apapun yang kau mau,” dan kau mengecup mesra telingaku. Membuatku menjadi tidak sabaran.
gelenyar aneh seperti ratusan kupu-kupu menggelitik perutku. Mendorong naluriku untuk melakukan sesuatu yang memang seharusnya ku lakukan sejak dulu. Sekarang bibir hangat dan manis itu seakan menjadi candu. Tak ada lagi ragu,dan kita menyatu dalam bahtera cinta di malam syahdu.
Dan malam ini,kita membuat seekor cicak didinding berdecak iri. Harusnya kamu pergi cicak,jangan melihat kami. Aku menarik selimut menutupi tubuh kami.
Aku masih tak percaya kau mulai lebih dulu. Ketakutan ku tak terbukti sama sekali. Kenyataannya kau mampu bertahan dan tak terluka sedikitpun. Aku tersenyum lagi,memeluk erat tubuh polosmu dibawah selimut. Dan terlelap menyusulmu kealam mimpi. Malam ini adalah malam terindah dalam hidupku.