Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Obrolan Tengah Malam


Rembulan terlihat menggantung di langit malam,bersama taburan indahnya kelap-kelip bintang. Dua insan ditempat berbeda dalam jarak beribu-ribu mil jauhnya,sedang melakukan hal yang sama. Duduk bersandar di tempat tidur dengan memandangi ponsel mereka. Hati mereka sama-sama bergetar,mungkin benar kata orang. Kalau kamu sedang teringat seseorang,maka dia pun juga sedang mengingatmu. Keajaiban cinta,menghubungkan dua hati menembus ruang dan waktu.


 


 


“Telepon nggak,telepon nggak,” Larasati menghitung kumis pada boneka kucing di pangkuannya. Hatinya ragu untuk menekan tombol hijau itu,takut mengganggu. Tapi dari tadi ia tak bisa memejamkan mata,bayangan Sakti terus berlarian dikepalanya. Pria itu sudah tiga hari tak ada kabar. Pesan yang ia kirimkan juga belum ada balasan. Aku kangen,gumamnya lirih.


 


 


Di lain tempat,Dokter itu juga ragu untuk melakukan hal yang sama. Rambutnya masih terlihat sedikit basah. Malam ini ia pulang kerumah,bantuan tenaga medis yang didatangkan dari luar negri sedikit meringankan beban yang ia pikul. Setelah berhari-hari tidur di rumah sakit,akhirnya ia bisa merebahkan diri di kasur empuknya. Meski pun ia tetap memikirkan nasip para pasien,tapi ia tau ada seseorang yang sedang menunggu perhatian darinya. “Apa dia sudah tidur? bagaimana kalau aku mengganggunya nanti,ini sudah tengah malam. Andai saja aku bisa pulang lebih cepat tadi.” Gumam-gumam sendiri.


 


 


Ting,sebuah pesan masuk di ponsel Sakti,pria itu tersenyum lalu menggeser layar untuk membuka pesan. Sebuah pesan yang dikirimkan oleh seseorang yang dari tadi takut ia hubungi. Membaca isinya,(Sayang,apa kamu tidur di Rumah Sakit lagi? Tetap jaga kesehatan ya,terimakasih hadiahnya,aku suka. Love you). Tanpa ragu pria itu langsung mendial nomor sang pengirim pesan.


 


 


Larasati kaget bukan kepalang,pasalnya ia tak menyangka kalau pria itu akan menelponnya. Bibirnya tersenyum lebar,sampai loncat-loncat di atas kasur saking girangnya. Lalu duduk bersila,berdehem pelan sebelum mengucapkan,”Halo?” asik asik asik,hatinya bersorak lagi.


 


 


“Assalamualaikum sayang,belum tidur?” suara lembut terdengar di sebrang.


 


 


“Waalaikum salam,belum. Kamu dimana?” menyeka sudut matanya yang tiba-tiba ber air. Hanya mendengar suaranya,hatiku sudah berdesir.


 


 


“Di rumah,aku kangen kamu Laras,” Kalimat yang ingin ia ucapkan dari seminggu yang lalu.


 


 


“Aku juga,” Kangen banget malah,tapi malu,hihihi. Menempelkan tangan dipipinya yang terasa menghangat.


 


 


“Gimana kabar kamu? Maaf ya aku jarang kasih kabar,”


 


 


“Aku baik,nggak papa aku ngerti kok. Kamu sendiri gimana?”


 


 


“Aku juga baik. Hampir satu minggu ini aku tidur dirumah sakit. Semakin hari pasien semakin bertambah,jadi aku nggak ada waktu luang sama sekali. Maaf ya kalau kamu merasa ter abaikan,” Hatinya benar-benar merasa bersalah.


 


 


“Nggak sayang,kamu jangan ngomong gitu. Yang kamu lakukan adalah untuk menolong nyawa banyak orang,aku bangga sama kamu,” Kata Laras lembut. Meskipun aku harus nahan rindu setiap hari.


 


 


“Makasih ya,jadi makin cinta aku sama kamu,hehehe.”


 


 


“Mulai lagi kan?” Aku juga,Aku juga,hihihi.


 


 


“Apa?”


 


 


“Itu, jurus gombal kamu,”


 


 


“Kalau itu bukan gombal,itu kata hati aku,” Ujar Sakti.


 


 


“Ya ya,terserah kamu deh Pak Dokter,”


 


 


“Jadi pengen peluk,” Kata sakti,tersenyum.


 


 


“Apa? Peluk siapa?”


 


 


“Ya guling ini,mau kamu juga jauh,” Bahunya berguncang menahan tawa.


 


 


Issss,tetep nyebelin ternyata,”Oh,” jawab Laras pendek.


 


 


“Kenapa,mau aku peluk juga?”


 


 


“Ngaaaak,siapa yang bilang?”


 


 


“Angin,katanya aku dapat salam kangen dari kamu.” Menggigit ujung guling yang didekapnya. Aku nggak kuat bayangin wajah cemberutnya. Pasti gemesin banget.


 


 


“Masa sih?” tersenyum,cie seneng ya di gombalin.


 


 


“Hmm,kamu belum ngantuk?”


 


 


“Belum,kenapa? Kamu cape?”


 


 


“Nggak,kita VC aja kalau gitu. Aku kangen pengen liat muka kamu,”


 


 


 


 


“Iya,” Menekan tombol warna merah. Tak lama, nama “Dewi Kesayanganku” muncul kembali di layar.


 


 


“Kamu makin cantik ya,” Kalimat pembuka setelah wajah Laras muncul di layar.


 


 


Larasati mengalihkan pandangan,tersenyum mengulum bibirnya,kamu juga makin ganteng,hehe. Namun kalimat itu tak keluar dari mulutnya,ia masih malu kalau harus terang-terangan. Akhirnya yang ia ucapkan adalah kalimat standar,”Bisa aja kamu,”


 


 


“Aku pengen dengar langsung kalimat yang selalu ada di akhir pesan yang kamu kirim,” Tersenyum jahil.


 


 


“Apa,memang aku bilang apa?” lagi-lagi mengalihkan pandangan,tak sanggup menatap mata tajam seperti elang itu.


 


 


“Masa kamu lupa,padahal itu selalu ada di setiap pesan kamu lho,”


 


 


“Aku lupa,” Bohong Laras. Di tulis sama ngomong langsung kan rasanya beda.


 


 


“Mau aku ingatkan?”


 


 


“Coba apa?” menantang berani,padahal malu juga.


 


 


“Dengarkan ini,,,”


 


 


“Iya apa?” kenapa wajahnya serius begitu,jadi deg degan.


 


 


“I Love You Larasati,kemarin,sekarang,besuk,dan selamanya,” Sorot mata penuh ketulusan dan kesungguhan. Menandakan kalau itu bukan hanya sekedar kata-kata manis untuk menyenagkan pasangan. Sesuatu yang datang dari hati pasti akan kembali ke hati juga.


 


 


“Sayang,kamu?” kata-katanya menggantung,bulir bening tak terasa lolos begitu saja.


 


 


“Kok malah nangis,jawab dong,” Padahal hatinya sesak juga,jauh dari orang yang dicinta.


 


 


“I Love You too my Doctor.” Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya,tanpa ragu.


 


 


“Sabar ya sayang,semoga kita bisa sama-sama lagi.”


 


 


“Iya,aku akan selalu nunggu kamu kok,”


 


 


“Ngomong-ngomong gimana kaerjaan kamu. Nggak ketemu klien yang bikin hati ser-seran gitu.” Tersenyum geli.


 


 


“Kalau yang bikin ser-seran nggak ada,kalo yang bikin kesel sampe pengen nonjok mukanya ada.” Membuat gerakan meremas dengan tangan.


 


 


“Ha ha Ha,masa sih. Siapa? Dia ngapain?” bertanya antusias.


 


 


Eh,aku bilang nggak ya soal tadi siang.


 


 


Akhirnya obrolan tengah malam itu berlanjut dengan cerita Larasati tentang pekerjaan dan wisuda nya. Larasati menceritakan juga soal Nico,kalau tentang CEO Luxury Corp,ia juga cerita. Tapi memotong adegan saat diruang kerjanya. Ia hanya bilang kalau pergi mengantarkan berkas dan bertemu dengan orang-orang angkuh menyebalkan.


 


 


Tanpa diketahui Laras,Sakti sebenarnya tau apa yang di alami gadis itu. karena ada seseorang yang ia perintahkan menjaga gadis itu dari jarak jauh. Mengawasi setiap langkahnya,bukan karena tak percaya. Tapi untuk menjaganya dari serangan kaum pemburu,yang sewaktu waktu mengancamnya.


 


 


Percakapan panjang kali lebar mereka berakhir hampir pukul tiga pagi. Karena rasa ngantuk yang menyerang dan kewajiban yang menunggu esok hari. Laras langsung terbang ke alam mimpi setelah teleponnya mati,bibirnya terus menyunggingkan senyum manis. Sedangkan Sakti,lagi-lagi masih terjaga dengan pertanyaan yang muncul dikepalanya.


 


 


“William Luke ya,sepertinya aku pernah mendengar nama itu. itu seperti...” matanya memanjang,tidak mungkin,pasti hanya namanya saja yang sama. Pasti bukan dia,gumamnya pada diri sendiri.


 


 


Sakti lalu mendial sebuah nomor,tak lama panggilan terjawab oleh suara yang masih terdengar nyaring,”selidiki seorang CEO bernama William Luke. Berikan aku laporan datanya.” Lalu menutup telepon setelah memberi perintah.


 


 


“Semoga bukan dia,” lagi-lagi bergumam lirih,sebelum memejamkan mata indahnya. Berharap menyusul Larasati ke alam mimpi dan bertemu disana.