Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Purnama Bulan Merah


Malam ini semua akan berakhir. Entah akhir yang bahagia atau akhir yang membawa duka. Muhammad Sakti Dirgantara tak berani menyimpulkan meskipun hanya dalam khayalan. Baginya semua tak ada yang lebih membahagiakan dari pada hidup besama istrinya dan menua bersama. Meski itu tak akan mungkin karena mereka dua makhluk yang berbeda dunia.


Suasana di tempat ini lain dari pada biasanya. Negri kegelapan yang selalu senyap dan sepi. Kini riuh oleh bisik-bisik ataupun sorakan para rakyat negri ini. Klan para pemburu. Perasaan gembira yang tak pernah mereka rasakan selama ribuan tahun lamanya,seperti tertumpahkan  di malam ini.


Dengan mata berbinar-binar mereka menatap sosok manusia yang berdiri menghadap cawan raksasa api suci. Api keramat yang tak pernah padam selama putaran ribuan millenium. Api berwarna biru itu berkilat-kilat menyambar kegelapan malam. Cahanya bisa menerangi gelapnya hamparan rumput liar yang membentang luas mengitari sebuah bangunan mirip kuil yang menaunginya.


Larasati sudah siap.


Purnama bulan merah tinggal menghitung detik.


Semua orang berkumpul ditempat yang dianggap suci itu. Raja Charles,Thomas,Sakti Dirgantara,dan seluruh rakyat dari Tujuh Klan Pemburu. Mereka disana dengan perasaan yang tak sama. Tapi dengan satu harapan yang sejalan. Kembalinya kejayaan dan keselamatan semua orang.


Larasati berdiri dengan tenang. Diatas sebuah batu ukuran raksasa yang juga menjadi penyangga cawan raksasa itu. Entah mengapa tak ada sedikitpun rasa takut seperti yang ia rasakan tadi. Larasati sudah iklhas. Membuka hati dan pikirannya. Siap menerima segala kemungkinan terburk yang menimpanya.


Maafkan aku Ma,Pa. Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti dan membalas budi.


Awan hitam perlahan menyelimuti benda bulat yang bersinar penuh di langit. Tak ada satu pun bintang yang terlihat menemani. Perlahan tapi pasti bulan itu tertutupi bayangan hitam yang berubah merah. Menelan benda putih bersinar itu dan merubahnya menjadi bulan yang merah menyala.


Waktunya sudah tiba.


Larasati berjalan mendekati sebuah meja kecil disampinya. Lalu meraih pisau yang tergeletak disamping cawan kecil. Dengan perlahan tapi mantab ia mengarahkan pisau itu ketelapak tangannya.


Dengan setulus hati. Aku mengorbankan diri demi keselamatan semua makhluk di bumi. Menukar satu nyawaku dengan ribuan nyawa yang sedang berjuang mempertahankan hidup mereka.


Sakti yang melihat itu ingin berlari dan mencegah semuanya terjadi. Dia tak sanggup. Tapi lengannya sudah ditahan oleh Thomas. Lalu Thomas menggeleng pelan. Membuat Sakti mundur perlahan.


Sreek.


Pisau tajam berkilat dengan gagang berbentuk kepala naga itu menggores kulit telapak tangannya. Cairan merah kental mengalir deras dari goresan luka yang cukup dalam itu. Larasati mengangkat tangannya diatas cawan suci. Membiarkan tetesan darahnya tertampung dalam wadah yang katanya tak pernah penuh meski diisi seluruh air dilautan.


Semilir angin menerbangkan aroma darahnya. Membuat semua kaum pemburu merasakan gejolak ingin memngsa yang luar biasa. Raja charles yang menyadari itu,dengan sigap membentuk diding energi level sepuluh. Dinding cahaya yang menyilaukan mata. Melindungi disekitar kuil dimana Larasati berada. Menghadang segala kemungkinan terburuk jika  ada rakyatnya yang tak bisa menahan diri dari aroma darah itu.


Tanpa ada yang menyadari. Tanpa sepengetahuan semua orang. Semua Dewa di Negri Kegelapan ikut menyaksikan peristiwa itu. Seorang Dewa yang bisa dibilang pimpinan para Dewa,tersenyum tipis.


“Keteguhan dan ketulusan hati manusia itu pantas kita hargai,” ujarnya,menatap semua Dewa yang melihatnya dengan dahi mengrenyit.


Semua Dewa yang berkumpul di Istana Langit diam. Saling pandang.


“Dewa-Dewi lautan,turunlah kalian. Masuklah kedalam cawan suci dan buat cawan itu penuh terisi.” Pintanya kemudian.


“Baik Baginda.” Sepasang Dewa itu mengangguk pelan. Lalu menghilang secepat angin dan meluncur ke bumi.


Dalam perjalanan sepasang Dewa-Dewi itu,sebuah cahaya berkilatan mengiringi perjalanan mereka. Dewa-Dewi itu merasa tak asing,mereka berpandagan,“Maikat dari surga,” kata mereka bersamaan.


Tak butuh waktu lama,mereka sampai diatas langit negri kegelapan. Berhenti sejenak. Menatap cahaya berkilatan yang masih mengiringi perjalanan mereka.


“Apa sekiranya yang membuat Malaikat dari surga,datang ketempat ini?” Tanya Dewa Lautan.


“Aku diperintahkan untuk menjaga jiwa dari calon Bidadari surgawi,” Suara dari seberkas cahaya putih itu. ”Silahkan lakukan apapun yang harus kalian lakukan,” Tambahnya.


Sepasang Dewa-Dewi itu mengangguk,lalu melesat cepat kedalam cawan suci.


Larasati tersentak. Cawan sudah penuh,lukanya menutup sempurna. Dia mundur perlahan. Lalu sebuah suara ghaib berhembus ditelinganya, “Masuklah kedalam api itu, biarkan Dewi Bulan kembali ketempatnya.”


Larasati mengangguk pelan,entah mengapa dia nurut dan manut saja. Saat ini hanya satu keyakinan yang ada didalam hatinya.


Tuhanku,bersamaku.


 


(Hai-hai,Para pembaca setia BCB. Cerita ini sudah memasuki bab-bab akhir ya. kalau nanti responnya terus bagus,insyaalah akan ada season keduanya. terimakasih semuanya.)