Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Ketika Cinta Telah Memilih


Mungkin benar tentang pepatah jawa yang mengatakan kalau “witting tresno jalaran soko kulino”. Hampir satu bulan bekerja sama,Sakti dan Laras. Diam-diam saling memuji didalam hati. Meski tak pernah diungkapkan. Tapi sorot mata keduannya tak bisa membohongi isi hati mereka.


Bibit kagum yang awalnya hanya simpati itu pun tumbuh menjadi nama lain di hati mereka. Sikap Laras yang manis dan penurut membuat Sakti merasa nyaman,dan sifatnya yang ketus dan angkuh itu malah dianggap menggemaskan oleh Sang Dokter. Begitu juga dengan Larasati,ia kini tau lebih banyak tentang sifat-sifat Sakti. Kecuali sifat berburu tentunya.


Setelah kejadian mimipi buruk itu,mereka tak pernah membahas lagi tentang negri kegelapan. Sakti yang tak ingin jati dirinya terbongkar memilih tutup mulut saat Laras bertanya. Hingga akhirnya Laras pun menyerah dan menganggapnya Cuma mimpi semata.


Tak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Thomas bahkan heran kemana para klan yang kemarin berada disekelilingnya. Kenapa mereka seolah hilang tanpa jejak. Tak mungkin mereka menyerah secepat itu. Para pemburu selalu teguh mempertahankan keinginannya.


Tapi ini memang aneh,benar-benar aneh. Apa mereka sedang menyusun rencana? Karena mengetahui keberadaannya dan sang Pangeran. Kalau benar begitu ia tak boleh lengah,siapa tau mereka hanya mencoba mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.


Seperti saat ini Laras dan Sakti mampir lagi di danau Satya,kegiatan yang beberapa hari ini mereka lakukan sehabis pulang dari rumah sakit. Sekedar duduk selonjoran dan menikmati indahnya malam.


“Laras..?” menoleh pada gadis yang duduk disampingnya. Rambutnya berkibar ditiup angin. Kenapa wajahnya begitu bersinar dibawah bulan purnama. Cantik.


“Ya Dok?” tak sengaja pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. Membuat jantungnya memompa darah lebih cepat keseluruh tubuh mereka. Wajahnya merah merona. Ia malu. Kenapa bisa semudah ini hatinya terpaut pada Sang Dokter,yang sangat ia benci dulu. Karena dianggapnya menyebalkan.


“Kenapa waktu itu kamu bisa mudah memaafkan Nico disini?” pertanyaan di luar dugaan Larasati.


“Dokter tau dari mana? Dokter nguping?”


“Enak aja kamu,ya nggak lah. Ya waktu itu aku nggak sengaja lewat dan denger omongan kalian,” Menggark belakang kepalanya. Sedikit merasa bersalah,karena terlalu ikut campur urusan orang lain.


Larasati menghela nafas panjang. Hatinya memang tak sesakit dulu,tapi tetap saja itu membuatnya tak nyaman. “Karena setiap kesalahan memang harus dimaafkan kan? Mungkin itu berat buat aku,tapi buat hati aku jadi lebih lega,karena nggak ada dendam. Tak ada asap jika tidak ada api Dokter. Dan mungkin api itu nggak selalu datang dari orang lain. Mangkanya introspeksi diri itu juga penting.”


“Kamu hebat,” Diam beberapa saat,berpikir sebentar dan,”Laras, menurut kamu orang kaya aku ini pantes nggak ya merasakan cinta?”


“Hah?” apa dia mau nembak aku,ulu ulu,so sweet.


“Ehhhmm,,rasa cinta itu kan hak setiap individu di muka bumi ini Dokter. Cinta itu anugrah dari Tuhan,agar kita bisa merasakan kebahagiaan. Kalau ada yang sakit karena cinta,itu bukan cinta. Cinta tak akan pernah menyakiti atau melukai sesama,yang menyakiti itu nafsu yang terus merasa kurang dengan apa yang kita peroleh. Hingga kita lupa bersyukur. Dan tanpa sadar menyakiti orang-orang yang kita cintai.”


“Kalau gitu,,,boleh aku minta cinta kamu?” menatap Laras dengan dua bola matanya yang tanpa ia sadari telah berubah menjadi biru berlian. Meski dalam gelap malam itu jelas terlihat. Ia tak perduli siapa dan apa dirinya,ia hanya ingin memastikan perasaannya pada gadis ini. Akan ia ceritakan nanti siapa dirinya kalau sudah waktunya.


Sempat terbesit dipikirannya,bagaimana reaksi Laras kalau tau ia adalah seorang Vampir. Tapi ia sudah tak lagi berburu selama 100 tahun ini. Sakti hanya ingin merasakan indahnya cinta seperti para manusia itu.


Rasa cinta yang tak pernah ia temukan dari makhluk manapun. kecuali,manusia dihadapannya ini. Hasrat untuk memangsanya memang selalu ada,tapi rasa cintanya pada gadis ini. Seolah melindunginya dari sifat ganasnya sebagai pemburu.


Laras kaget bukan kepalang,kaget dengan pernyataan cintanya. Dan kaget kenapa warna mata Sakti berubah menjadi biru berlian. “Dokter?” hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Laras benar-benar bingung. Ia tak menyangka Sakti akan menyatakan cinta secepat ini. Meski hatinya juga merasakan hal yang sama,ia takut dianggap buru-buru dalam mengambil keputusan.


Pengalaman cintanya dengan Nico,membuatnya berpikir dua kali. Tapi Sakti beda,ia beda dengan Nico.


“Kamu nggak perlu jawab sekarang. Udah malem ,ayo pulang,” berdiri dan mengulurkan tangan hendak membantu Laras berdiri. Tapi tak diterima oleh gadis itu,ia begitu malu sampai tak berani menerima uluran tangan Sang Dokter.


“Maaf Dok,saya belum bisa jawab sekarang,”


“Nggak pa-pa,”memasukkan kedua tangan kedalam saku jaketnya.


Sambil berjalan menuju mobil Larasati yang terparkir ditepi jalan,Laras berhenti sejenak untuk bertanya. “Dokter,kenapa warna mata anda berubah jadi biru?”


“Hah? Masa sih? Salah liat kamu pasti,” Sakti begitu gugup,ia bahkan lupa kalau warna matanya bisa berubah menurut suanana hatinya.


“Iya kali ya. Ya udah ayo kita pulang,” Tersenyum manis,yang membuat hati seorang Sakti kembali berdesir.


Dan mereka kembali ke rumah dengan kecanggungan luarbiasa.