Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Nasehat sang istri.


Beberapa Minggu kemudian.


Semua berjalan dengan semestinya, Daniel yang terus pergi terapi di temani istrinya. Zahra yang terlalu banyak tingkah jika dekat dengan suaminya.


Kedua insan itu tampak bahagia. Terkadang Zahra memarahi Daniel karena laki-laki itu tampak melalaikan waktu shalat dengan alasan pekerjaan kantornya belum selesai.


Seperti hari ini, Daniel tengah sibuk dengan semua berkas yang menumpuk di meja kerja nya. Ia kini berada di ruang kerja nya di mansion. Hari sudah siang, bahkan waktu shalat zhuhur sudah lewat beberapa menit setelah adzan.


"Hubby," panggil Zahra dari balik pintu.


"Iya, sayang." Dengan cepat Daniel menoleh lalu tersenyum ke arah istrinya yang tampak sedang berkacak pinggang dengan perut sedikit membuncit.


"Cepat sekali responnya," ucap Zahra masuk ke ruangan berjalan ke arah Daniel.


"Kan honey yang memanggil."


"Memang nya aku ini siapa?" tanya Zahra duduk di pangkuan sang suami.


"Istriku, belahan jiwa ku, nafas ku, dan hidup ku."


Zahra terkekeh geli mendengar jawaban dari suaminya, sangat menggelikan.


"Kalau aku yang memanggil hubby dan hubby langsung menjawab itu karena aku adalah istri hubby. Lalu ketika adzan berkumandang dan seruan shalat di bunyikan. Mengapa hubby tidak lekas pergi shalat?" tanya Zahra membuat Daniel langsung tersadar bahwa ia belum shalat zhuhur.


"Iya, aku lupa."


"Lupa? Sebegitu mudah nya kita melupakan Sang pencipta karena urusan dunia, namun ketika kita dikecewakan oleh dunia itu kita langsung mengingat Allah. Sangat menyedihkan," sindir Zahra tersenyum sinis.


"Maaf, honey. Kalau begitu hubby Mau shalat dulu," ucap Daniel menyengir. Zahra pun langsung berdiri dan menemani suaminya pergi ke kamar untuk shalat.


"Jangan di biasakan yah," nasehat Zahra.


"Iya sayang."


***


Di sisi lain di dalam jeruji. Para pengganggu sudah di amankan semenjak tiga Minggu yang lalu. Orang-orang itu sangat menyesal karena sudah melakukan kejahatan dan melawan orang yang salah.


"Lepaskan kami! Lepaskan! Ini semua bukan salah kami, ini semua salah laki-laki itu." Zaki berteriak sembari memegang besi jeruji. Para polisi yang mendengar teriakan pilu orang-orang itu hanya tersenyum mengejek.


"Hei, bapak tua. Lain kali kalau mau melakukan kejahatan itu harus di perhitungkan akibatnya. Mengapa kalian tidak hidup seperti manusia lainnya, mengapa kalian malah hidup dengan mengambil peran antagonis. Sekarang kalian malah minta di bebaskan. Bermimpi lah!" kata salah satu petugas.


"Ayah, bagaimana ini?" tangis Silvi dalam baring nya. Sudah dua Minggu gadis itu tidak bisa bangun karena tulang punggung nya patah.


Begitu juga dengan Ruby, hanya saja Ruby tidak di tahan bersama mereka atas permintaan dari keluarganya dan di setujui Malik.


"Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana! Itu saja yang kau tanyakan! Ini semua salah kalian. Mengapa kalian sangat membenci Zahra dan ibunya. Jika kalian tidak berusaha ingin membunuhnya pasti kita tidak akan ada di sini!" teriak Zaki memekakkan telinga.


"Kurang ajar sekali kau! Beraninya kau berteriak pada kami!" balas Lia marah.


"Kau juga, wanita sialan! Kalau saja aku tidak menikah dengan mu, pastinya aku akan mendapatkan istri yang baik. Bukan seperti dirimu!"


"Nah, kalau begini kan bagus. Jangan ribut yah!"


Keempat orang itu hanya terdiam sembari menangis dalam batin menyesal akan semua yang telah terjadi. Bukan hanya mereka, Ruby dan Glen pun sama hal nya. Mereka semua menyesal. Namun, apalah daya. Semua sudah terjadi dan hanya menyisakan sebuah penyesalan yang besar.


****


Mansion Raymond.


Setelah selesai shalat, Daniel kini berada di dapur. Istrinya ingin makan nasi goreng buatannya. Sedangkan ia tidak terlalu pandai memasak.


Di temani sang istri, Daniel memulai ritual memasaknya. Berulang kali ia meneguk salivanya dan mencoba mengendalikan hasratnya ketika melihat pisau dapur yang ia gunakan untuk mengiris bawang.


"Jangan pikirkan," ucap Zahra memeluk suaminya dari belakang.


"Ha?"


"Jangan di pikirkan, Hubby. Ingat. Semua yang kita perbuat di dunia ini pasti akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Cobalah untuk berpikir lebih positif."


Daniel mengangguk dan terus memotong bahan-bahan untuk nasi goreng.


"Honey, jika nasi gorengnya tidak enak bagaimana?" tanya Daniel.


"Enak, semua yang Hubby masak itu enak." Pipi Daniel langsung merona mendengar perkataan Zahra. Jarang-jarang ia di puji istrinya.


"Duduk saja, sayang."


"Tidak mau," tolak zahra semakin menempel pada suaminya. Bukan tidak mau, tapi Daniel merasa geli ketika punggung nya tersentuh oleh perut buncit istrinya.


"Duduk saja, nanti kau lelah."


"Tidak mau."


"Terserah anda ibu hamil."


"Heheheh."


_


_


_


_


_


tbc.