Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Maafkan ibu


20.00


Zahra membuka mata secara perlahan-lahan, ia mencoba menahan rasa mual dan juga sakit di kepalanya.


Dimana ini?


Ia mencoba mengedarkan pandangannya dan terhenti pada wanita yang duduk di sampingnya. Air matanya menetes melihat luka di wajah ibunya.


"Ibu," lirih Zahra ingin menyentuh ibunya, namun tangannya terikat begitu juga dengan kakinya. Posisi mereka sekarang berada di atas lantai dengan kondisi terikat.


"Ibu," panggil Zahra namun wanita paruh baya itu tak kunjung bangun.


Ceklek.


Pintu terbuka, Zahra menutup kembali matanya. Tampak di sana beberapa orang masuk sembari menampilkan senyuman penuh kemenangan.


"Apa dia belum sadar?" tanya Ruby pada Glen.


"Seharusnya sudah, mungkin dia tertidur."


Silvi maju mendekat ke arah Zahra lalu menarik jilbab wanita itu hingga kepala Zahra terangkat.


"Dia sudah bangun, hanya saja dia pura-pura pingsan," ucap Silvi tersenyum menyeringai menatap wajah pucat Zahra.


Yah pelakunya terdiri dari 3 kelompok. Ada Glen, Ruby, dan keluarga Nonik.


"Apa kau merindukanku, sepupu?" ledek Silvi.


"Kau jahat, Silvi. Kau sangat jahat, Allah pasti akan membalas kalian!" tekan Zahra membuat amarah Silvi memuncak.


Plak!


Satu tamparan keras menatap di wajah Zahra membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Sakit? Begitulah sakitnya ketika tangan suamimu itu menampar wajah ku. Bahkan lebih sakit dari yang kau dapatkan!" teriak Silvi.


"Jangan lukai dia! Aku belum melakukan penukaran dengan Daniel, jadi jangan pernah menyentuhnya atau kalian akan mati!" bentak Glen membuat Silvi kesal lalu melepaskan jambakannya dan menjauh dari Zahra.


"Beri mereka air dan juga roti!" titah Glen diangguki oleh anak buahnya.


"Lalu kapan kau akan melakukan penukaran?" tanya Silvi yang tak sabar ingin menghajar Zahra.


"Sebentar lagi aku akan menghubungi nya. Biarkan dia makan terlebih dahulu," jelas Glen.


"Baiklah," jawab Silvi pasrah sedangkan Ruby hanya mengikuti permainan saja. Yang penting akhirnya Daniel akan menjadi miliknya, masalah Zahra ia tak ingin ikut campur.


Ketiga orang itu pun meninggalkan Zahra yang masih tertunduk lemah. Beberapa menit kemudian dua orang pria membawa satu piring roti dan juga segelas air. Mereka meletakkannya di depan Zahra.


"Makanlah," kata mereka.


"Bagaimana aku bisa memakan makanan itu, tangan ku diikat," lirih Zahra.


Sreeetttt


Zahra membelalakkan matanya ketika tali yang mengikat tangannya terbuka. Apa mereka tidak akan terkena hukuman karena membuka tali ikatannya. Pikir Zahra.


"Silahkan makan," kata mereka meninggalkan Zahra yang masih bingung. Ia menatap ibunya yang tidak bergerak, ia sangat khawatir sehingga menggeser tubuhnya mendekati sang ibu.


"Ibu, bangunlah. Ayo kita makan," tangis Zahra.


"Makan saja, nak." Zahra tersentak kaget ketika ibunya menjawab hanya saja ibunya masih menunduk.


"Ibu sudah bangun?"


Dengan lemah Saras mengangkat kepalanya menatap putrinya yang terlihat pucat.


"Maafkan, ibu. Karena ibu, kau harus dalam bahaya. Seharusnya sedari dulu ibu mengakhiri hidup ini, agar kau tidak mendapatkan masalah," lirih Saras membuat Zahra semakin sedih.


"Jangan begitu, Bu. Jangan begitu." Zahra menangis sesegukan sembari memeluk ibunya.


"Makanlah, sayang. Kau sedang hamil, jangan menyiksa dirimu." Saras mencoba menguatkan dirinya dengan tersenyum agar putrinya tak begitu khawatir.


Zahra membawa sepiring roti itu lalu menyuapi ibunya, namun Saras menolak.


"Kau sedang hamil, maka kau yang lebih memerlukan makanan. Ibu tidak lapar," tolak Saras.


"Rotinya banyak, ibu. Kita bagi dua yah," tawar Zahra.


"Makan saja, nak. Ibu tidak lapar," tolak Saras. Mana mungkin dengan dua roti bisa mengenyangkan perut putrinya, lebih baik ia kelaparan daripada putrinya menanggung derita lagi.


Zahra memakan sepotong roti dengan terus menyodorkan nya pada Saras, namun Saras selalu menolak dan hanya tersenyum menatap putrinya yang sudah besar.


"Makanlah, ibu. Sedikit saja," pinta Zahra menyodorkan sepotong roti lagi. Saras pun akhirnya memakan roti yang di suapkan putrinya lalu mereka berbagi air dalam satu gelas.


Ceklek.


Pintu terbuka, ternyata dua orang yang membawa makanan tadi. Salah satu diantara mereka membawa piring kotor dan satunya lagi mengikat kembali tangan Zahra.


Setelah itu mereka berdua pergi.


Beberapa menit kemudian tiba-tiba saja kepala Zahra dan juga Saras terasa pusing. Mereka berdua saling memandang karena merasa aneh pada tubuh mereka, perlahan mata tertutup lalu tubuh terjatuh ke lantai. Mereka berdua pingsan.


Entah apa yang ada dalam makanan tadi sehingga mereka jatuh pingsan.


Selang satu jam, Glen dan juga komplotannya masuk kembali ke ruangan tempat Zahra dan ibunya di tahan. Siapa lagi kalau bukan Ruby, Lia, Silvi, Zaki dan juga Nonik. Mereka berenam memandangi tubuh Zahra dan juga Saras yang terkapar di lantai.


"Apa mereka tidur?" tanya Silvi pada Glen.


"Shit! Tidak aktif," geram Glen.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Ruby.


"Aku akan mencoba menghubungi Malik saja," ucap Glen mencoba menghubungi Malik, namun hasilnya tetap saja tidak aktif. Kemana semua orang, pikirnya.


"Bagaimana?" tanya Ruby.


"Tidak aktif!"


"Ck, lalu sekarang apa? Apa kita harus menunggu mereka aktif dulu? Aku sudah tidak sabar untuk menghajar jalang itu!" oceh Silvi.


"Dia kau!" bentak Glen naik pitam. Ia sudah emosi karena satu orang pun dari keluarga Raymond tak bisa di hubungi.


"Kenapa kau membentak ku!" teriak Silvi tak terima. Lia mencoba menenangkan putrinya agar tidak terjadi perkelahian yang pastinya akan merugikan mereka.


"Sudahlah! Jangan bertengkar! Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa menghubungi keluarga Raymond," sela Ruby.


Kedua orang itu pun memilih untuk diam sembari menatap ke sembarang arah. Di saat semuanya sibuk dalam pikirannya masing-masing, tiba-tiba saja lampu ruangan padam.


Hal itu membuat keenam orang itu menjadi kebingungan.


"Mati lampu," gumam Ruby.


Krieeeettt.....


Keenam orang itu mulai merapatkan tubuh mereka saat mendengar suara pintu terbuka, tapi ternyata bukan pintu yang terbuka melainkan jendela ruangan.


"Ibu, apa itu?" tanya Silvi memeluk ibunya.


"Mungkin arwah penjaga gedung ini," tebak Lia.


"Aku takut," ucap Silvi.


"Cih, tidak bisakah kalian diam! Mana ada hantu di jaman sekarang," sela Glen.


Tap


Tap


Tap


"Siapa disana?" tanya Glen ketika mendengar suara langkah kaki yang tiba-tiba berhenti lalu melangkah lagi. Ruangan itu sangat gelap sehingga untuk melihat orang yang ada di sekitaran mereka saja tidak bisa.


Sreeetttt


"Argghhh!" teriak Silvi sembari memegang lengannya.


"Ada apa?" tanya Zaki mencoba menjangkau putrinya.


"Sakit sekali, tangan ku terluka. Seseorang pasti sudah melukainya," tangis Silvi memegang lengannya yang mengeluarkan cairan dan juga rasa perih yang teramat sakit.


"Jangan main-main! Keluar kau, bajingan!" gertak Glen.


Ia mencoba menghidupkan layar ponselnya. Bodohnya ia, mengapa sedari tadi ia tak menyalakan senter di ponselnya.


Ia pun menyalakan senter ponselnya lalu mengarahkan nya pada ke seluruh sudut ruangan.


Tidak ada orang selain mereka berenam.


"Dimana Zahra dan ibunya?" tanya Ruby.


"Mereka berdua hilang."


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Waduhhhhh apa yang bakalan terjadi yah🤔


Untuk part selanjutnya akan author lebelin dengan tanda ❎ karena ada adegan kekerasannya.


Jangan di baca yah kalau gak kuat..


Itupun kalau gak lama yah proses review nya😅 karena biasanya bakalan lama


Jangan lupa like komen vote dan juga hadiah nya.


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.