Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Flashback Daniel#2


Beberapa Minggu kemudian. Hal-hal yang seperti biasa terjadi di mansion. Aisyah yang masih ada keperluan di luar kota harus meninggalkan putra nya lagi. Padahal Daniel kecil ingin ikut, namun Aisyah tidak ingin anaknya kelelahan. Apalagi melihat telapak tangan anaknya yang bengkak. Menurut informasi, Daniel terjatuh hingga tangan nya membengkak. Ia sebenarnya tak tega untuk meninggalkan putranya yang sedang sakit, namun ada keperluan mendadak di luar kota. Lagi pula ada suami dan juga para pelayan yang akan merawat putranya.


"Ikut," rengek Daniel berlinang air mata sembari memegang gamis Aisyah.


"Abang duduk di rumah saja yah. Kalau ikut, nanti Abang kecapean. Tangannya kan masih sakit," ucap Aisyah mencoba membujuk putranya agar tak ikut dengan nya.


"Ikut, Umi. Abang mau ikut," tangis Daniel memeluk kaki Aisyah.


Wanita itu menjadi semakin tak tega melihat keadaan anaknya. Ia melirik ke arah suaminya yang hanya memperhatikan dari jarak jauh.


"Abang main dengan Abi yah," bujuk Aisyah. Daniel langsung menggelengkan kepalanya.


"Pak Lim. Bawa Daniel ke kamar!" titah Malik. Pak Lim pun langsung mengangguk dan menggendong Daniel yang masih menangis.


"Tidak mau. Mau ikut, umi. Abang mau ikut," tangis Daniel.


Aisyah mengecup pipi putranya yang tampan serta mengelus kepala Daniel.


"Setelah ini, kita akan jalan-jalan yah," ucap Aisyah.


Pak Lim pun membawa Daniel kecil masuk ke kamar dalam keadaan masih menangis. Aisyah hanya tersenyum kecut lalu berpamitan pada suaminya.


"Umi pergi yah," ucap Aisyah menyalami Malik.


"Hati-hati, jangan lupa makan. Jika sudah sampai tujuan langsung hubungi Abi," ucap Malik.


"Iya. Jaga Daniel, yah."


"Hm."


Di dalam kamar. Daniel kecil sudah mulai tenang, dengan ada nya pak Lim yang menemaninya bermain robot-robot.


"Abang suka robot," celoteh Daniel terus memainkan robotnya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, pak Lim langsung berdiri ketika melihat Malik masuk ke dalam kamar.


"Sudah tidak menangis lagi?"


"Alhamdulillah, tuan."


"Hm, tinggalkan saja dia sendiri. Jangan terlalu di manja," ucap Malik.


"Tapi, tangan tuan muda masih bengkak, Tuan besar."


"Apa urusannya dengan ku? Jika aku mengatakan tinggalkan, maka tinggalkan!" tekan Malik lalu keluar dari kamar Daniel.


Pak Lim menatap bocah polos yang masih memainkan robot-robot nya walau tangan mungilnya dalam keadaan bengkak pun hanya bisa menghela nafas panjang. Kapan tuan besarnya mau menerima tuan muda sebagai anaknya.


Ruang kerja Malik.


Malik duduk sembari memijit-mijit kepalanya. Ia merasa setiap hari beban hidupnya semakin banyak, dan itu bertambah ketika putranya lahir.


Yah, Daniel itu memang putranya. Darah dagingnya, tapi bukan karena itu Malik akan menerima Daniel dengan lapang dada. Ada sesuatu yang membuat ia takut memilki anak.


Ia adalah seorang mantan Mafia dan juga memiliki kelainan jiwa. Ia sangat suka darah, ia membunuh semua orang yang tidak ia suka. Hingga ia menemukan istrinya, wanita yang bisa merubah semua pola pikir dan juga perilaku nya.


Semuanya berjalan dengan baik. Dari awal pernikahan hingga kabar istrinya hamil. Ia belum siap menjadi seorang ayah. Bagaimana jika anaknya akan menjadi sepertinya? Ia tak mau itu.


Itulah mengapa ia meminta agar kandungan itu di gugurkan, namun istrinya malah ingin bunuh diri. Dan akhirnya anak itu lahir juga dan sialnya dia sangat sempurna, sama sepertinya. Wajah yang mirip dan juga kebiasaan yang sama. Mulai dari alergi makanan yang sama hingga makanan kesukaan.


Bukan tidak bahagia karena putranya sangat mirip dengannya. Tapi, bagaimana jika putranya membawa semua sifatnya. Yaitu sifat haus darah itu.


Ia tidak mau itu terjadi. Itu sangat mengerikan.


Itulah mengapa ia sering menghukum anaknya, agar nanti anaknya bisa berpikir bahwa melukai seseorang itu sangat menyakitkan.


Biarlah anaknya merasakan sakit itu, agar nanti kedepannya anaknya tidak akan menyakiti orang lain.


Itulah pemikiran Malik.


*****


Dua hari kemudian.


Daniel berjalan-jalan di taman depan sembari memegang sebuah bola bulu-bulu. Ia terus berjalan hingga ke depan gerbang.


"Anda ingin kemana, tuan muda?" tanya penjaga pada Daniel kecil.


"Itu pintu gerbang, di balik pintu gerbang ada jalan raya dan dunia luar yang sangat luas," papar penjaga itu.


"Abang mau lihat," pinta Daniel sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tidak boleh, tuan muda. Nanti, tuan besar marah."


"Biarkan saja dia," sela Malik. Para penjaga langsung menundukkan kepalanya.


"Abi, Abang mau lihat di luar." Daniel kecil mendekati namun Malik memundurkan langkahnya.


"Yasudah, keluarlah. Bukakan pintu gerbangnya," ucap Malik. Para penjaga saling menatap, namun langsung membuka pintu gerbang. Perkiraan mereka tuan besar akan menemani tuan muda keluar dari halaman.


"Pergilah," ucap Malik. Daniel yang masih kecil pun dengan girang keluar dari gerbang. Anak itu sangat senang ketika melihat mobil yang banyak dan juga orang-orang yang berjalan.


"Tuan besar...


"Tutupi pintunya!" titah Malik.


"Tuan muda ada di luar, tuan."


"Aku bilang tutup!" tegas Malik. Para penjaga itupun langsung menutup pintu dengan perasaan khawatir. Membiarkan anak kecil di luar sendirian sangatlah berbahaya. Entah apa yang di pikirkan oleh tuan besar mereka.


***


Sore harinya.


Malik tengah duduk di balkon kamar sembari menatap laptopnya. Pak Lim datang membawa secangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja.


"Tuan besar. Nyonya tadi menanyakan tuan muda," ucap pak Lim.


"Jadi?"


"Saya tadi ke kamar tuan muda, tapi tuan muda tidak ada," ucap pak Lim khawatir. Karena memang laki-laki itu tidak melihat Daniel ketika keluar dari gerbang.


"Dia keluar." Mendengar perkataan Malik, pak Lim sontak terkejut.


"Dengan siapa, tuan?"


"Sendirian."


"Astaghfirullah. Mengapa bisa tuan besar mengizinkan tuan muda keluar sendirian. Di luar sana sangat bahaya!" tegas pak Lim. Bahkan laki-laki itu tidak memandang yang ada di hadapannya itu majikannya atau bukan.


"Memangnya aku peduli. Mau dia mati atau tidak itu bukan urusan ku."


Pak Lim menghela nafas kasar dan langsung meninggalkan Malik sendirian. Ia berlari menuju gerbang berharap tuan mudanya ada di di sekitaran gerbang.


"Buka pintunya!" titah pak Lim. Pintu gerbang pun terbuka, langsung pak Lim mencari keberadaan Daniel.


"Bantu aku mencari tuan muda," ucap pak Lim. Para penjaga pun mengangguk dan membantu mencari keberadaan Daniel kecil. Tidak mungkin anak sekecil itu akan pergi jauh, bukan.


Sedangkan di sisi lain tepatnya di dalam sebuah mobil. Beberapa orang kini tengah memangku seorang anak kecil yang tengah ketakutan.


"Paman, Abang mau pulang."


"Diamlah! Nanti, jika ayah mu memberikan kami uang maka kami akan memulangkan mu. Jadilah anak yang baik!" tekan salah satu pria di dalam mobil.


_


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


Jangan lupa like komen dan juga hadiah nya.


tbc.