
Di villa.
04.00
Daniel mengucek matanya, ia menatap ke samping lalu tersenyum. Ia pun membelai rambut istrinya, menciumi pipi istrinya. Terlihat mata Zahra tampak bengkak karena menangis, padahal ia sudah pelan-pelan tapi tetap saja istrinya menangis karena sakit.
"Morning, honey," ucap Daniel ketika mata Aria perlahan terbuka. Gadis itu langsung tersipu malu dan memilih membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Ayo mandi, sebentar lagi shalat subuh." Daniel mengecup pucuk kepala Zahra berkali-kali.
"Sayang, jangan begitu." Daniel terasa geli ketika rambut Zahra mengenai tubuhnya. "Kalau begini, bisa-bisa kita akan melakukannya lagi," lanjutnya dan alhasil istrinya langsung menjauh dan memalingkan wajah.
"Ayo mandi," goda Daniel memeluk istrinya yang malu. Teringat bagaimana wajah sang istri yang ketakutan saat malam pertama mereka. Sangat lucu dan menggemaskan.
"Hubby, mandi saja duluan," jawab Zahra pelan. Ia benar-benar malu. Sekarang ia sudah tidak perawan lagi dan bisa saja beberapa bulan kemudian ia akan hamil. Ia belum siap hamil, tapi jika Allah sudah menakdirkan ia hamil dalam waktu yang cepat. Ia akan menerima.
"Tidak mau! Maunya mandi sama-sama," rengek Daniel memeluk manja istrinya membuat gadis itu terkekeh geli.
"Kalau mandi sama-sama itu akan memakan waktu yang lama. Lebih baik, masing-masing saja. Biar cepat," elak Zahra.
"Tidak mau!"
Zahra menghela nafas panjang, yang memeluk nya ini pria dewasa atau anak bayi. Manja sekali.
"Yasudah, awas. Mau berdiri ini," ucap Zahra. Daniel pun langsung melepaskan pelukannya dan mengambil celana pendek di atas nakas lalu memakainya. Sedangkan Zahra mencoba untuk berdiri dengan balutan selimut karena bajunya entah kemana menghilang.
"Auuwww," pekik Zahra ketika merasakan sesuatu yang perih di selangkangannya. Dengan sigap Daniel langsung membantu istri nya dengan cara menggendong.
"Kalau tidak sanggup berdiri itu minta tolong, bukan di paksakan." Daniel membawa istrinya masuk ke kamar mandi.
Terjadilah yang harusnya terjadi di kamar mandi. Yaitu mandi! Jangan mesum!!
*****
Setelah selesai membersihkan diri, Daniel dan Zahra kini duduk di atas sajadah sembari mengaji. Setelah shalat subuh mereka langsung mengaji. Kali ini Zahra tidak melakukan kesalahan namun Daniel terus saja mencubit pipinya.
"Jangan, Hubby." Zahra memasang wajah cemberut karena suaminya terus mencubit pipinya. Ia kan jadi tidak fokus.
"Anggap saja rintangan," ucap Daniel terkekeh geli. Ia pun berhenti mencubit pipi istrinya dan kembali fokus pada bacaan istrinya.
Setelah selesai mengaji, Zahra dan Daniel pergi sarapan di halaman belakang tepatnya di sebuah taman. Daniel tersenyum manis melihat istrinya yang lahap menyantap nasi goreng, ia sebenarnya tidak selera makan karena bukan istrinya yang memasak. Tapi, ia juga tak mungkin meminta istrinya memasak dalam keadaan seperti ini. Jadi, harus memaksakan untuk makan makanan yang ada saja.
"Mau jalan-jalan?" tanya Daniel di sela makannya.
"Kemana?" tanya Zahra.
"Di sekitaran sini, manjat pohon contohnya," ucap Daniel membuat Zahra tersedak. Daniel langsung memberikan segelas air pada istrinya.
"Manjat pohon?" tanya Zahra.
"Iya," jawab Daniel tersenyum ke arah istrinya yang tampak bingung.
"Tidak mau!" tolak Zahra. Ada-ada saja pikirannya, dia ingin melakukan hal yang romantis bukan manjat pohon.
"Kalau mandi air terjun? Mau?" tawar Daniel.
"Nanti ada ular," ucap Zahra bergidik ngeri.
"Kalau di kamar?" tanya Daniel tersenyum mesum membuat Zahra semakin bergidik.
"Kita jalan-jalan saja," kilah Zahra.
"Kalau jalan-jalan nanti kau akan lelah, panas, bisa jadi akan hujan, atau ada ular. Berbahaya," ucap Daniel membuat Zahra menggigit bibir bawahnya.
"Kalau dikamar ada AC, hangat, nyaman," lanjut Daniel tersenyum cerah.
Tapi senyuman mu itu mengatakan bahwa kau akan membuat ku susah, suamiku. Batin Zahra.
"Diam mu berarti jawaban nya adalah iya. Hari ini kita akan di kamar sayang ku," ucap Daniel bersorak ria.
"Tu-tunggu dulu sa....
"Akhh! Turunkan aku! Nasi goreng nya belum habis," teriak Zahra namun Daniel tidak menurunkannya.
"Kita mau kemana?" tanya Zahra.
"Ke kamar, sayang ku."
"Haus, belum minum," rengek Zahra memegang lehernya.
"Nanti di kamar kita minum yah," ucap Daniel tersenyum cerah secerah mentari bersinar di pagi hari.
Zahra mengerucutkan bibirnya menatap Daniel yang masih saja terus menggendongnya ke dalam kamar.
Akhirnya mereka sampai juga di kamar, Daniel menurunkan Zahra di di atas ranjang lalu mengambil segelas air di atas nakas.
Zahra pun meminum air nya hingga habis lalu memberikan gelasnya pada Daniel lagi. Daniel meletakkan gelas kembali di atas nakas lalu duduk di samping Zahra, memeluk dan mengecup pipi istrinya yang terlihat masih cemberut.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dikamar?" tanya Zahra menatap bola mata hitam milik Daniel.
"Bobok-bobok," ucap Daniel manja sembari merebahkan tubuhnya. Kepalanya berada di pangkuan sang istri dan tangannya sibuk menoel-noel hidung istrinya.
"Buka jilbab nya," pinta Daniel. Zahra pun membuka jilbab nya, rambutnya sudah di potong ketika Daniel memintanya untuk memotong rambut. Tapi, bagi Daniel rambut Zahra itu masih panjang dan ia geli akan rambut panjang milik Zahra.
"Sayang." Dengan nada yang di buat-buat Daniel memberi kode bahwa ia menginginkan sesuatu.
"Apa?" tanya Zahra membelai wajah suaminya.
"Kira-kira ini kapan terisinya yah?" tanya Daniel mengelus perut Zahra. Gadis itu tampak sedikit terkejut, bukankah itu terlalu cepat?
"Tadi kan lagi di isi dengan nasi goreng, tapi terhalang karena hubby membawa ku kemari," ucap Zahra mencoba mencairkan suasana.
"Bukan itu, honey. Tapi, di isi bayi. Anak-anak kita," ucap Daniel menggigit jari Zahra membuat gadis itu mengaduh.
"Jangan menggigit, Hubby." Daniel terkekeh geli lalu membenamkan wajahnya di perut Zahra.
"Honey, mau cium." Daniel kembali duduk dan berhadapan langsung dengan istrinya, ia menutup matanya lalu menunjuk pipinya. Dengan malu-malu Zahra mengecup pipi Daniel lalu berpindah ke tempat lainnya sesuai permintaan suaminya.
"Di sini," tunjuk Daniel pada bibir nya. Zahra langsung membeku, ia tak akan seberani itu untuk mencium di bagian bibir.
"Hubby, malu." Wajah Zahra memerah tomat membuat Daniel terkekeh geli lalu mengecup bibir Zahra.
"Begitu caranya, cepat ulangi." Daniel kembali menunjuk bibirnya.
"Tutup mata dulu," pinta Zahra malu.
Daniel menutup matanya lalu dengan malu-malu Zahra mengecup bibir suaminya. Tapi, sayangnya Daniel langsung menahan posisi itu dan ******* bibir mungil istrinya.
"Sudah," ucap Zahra menutupi wajahnya saat tautan terlepas.
"Belum." Daniel memeluk erat istrinya lalu berbisik, " ayo kita buat anak."
_
_
_
_
_
Author udah up.. maaf yah kalau kurang, nah ini author masih belum bisa up rutin sebab sedang ada urusan..
jadi sesempatnya aja.
terimakasih
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.