
Rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Daniel langsung ke ruangan istrinya. Di sana, Zahra baru saja tertidur dan Daniel tak ingin membangunkan istrinya yang terlihat sangat nyenyak dengan wajah yang pucat, ia lebih memilih duduk di samping istrinya sembari terus meratapi kesalahannya.
"Aku tidak berguna," racau Daniel sembari menutup matanya.
"Aku melakukan hal yang tidak kau inginkan. Bagaimana ini? Apa nanti kau akan meninggalkan ku seperti yang kau katakan waktu itu?"
Tak terasa air mata Daniel mengalir. Ia menatap istrinya lalu membelai rambut istrinya dengan perlahan.
"Tangan ku sangat kotor, honey. Penuh dengan darah dan juga luka, apakah aku pantas menjadi suami dan juga ayah dari anak kita nanti?" lirih Zahra.
"Aku ini manusia paling hina dan juga kotor. Aku pantas untuk menderita," gumam Daniel tersenyum sembari menghapus air matanya. Ia bangkit dari duduknya lalu mengecup kening Zahra.
"Aku akan menebus kejahatan ku, sayang. Aku berharap, setelah ini aku akan pantas untuk berada di samping mu," bisik Daniel lalu pergi keluar dari dalam ruangan Zahra.
Daniel berjalan cepat menuju parkiran. Masuk ke mobil lalu melajukan mobil menuju mansion Raymond.
****
Mansion Raymond.
Setelah beberapa menit mobil Daniel sampai di parkiran mansion. Malik yang melihat anaknya sudah datang langsung berjalan menghampiri anaknya.
"Daniel," panggil Malik. Namun, Daniel tidak merespon melainkan hanya berjalan lurus masuk ke mansion.
"Daniel, ada apa?" tanya Malik menyusul Daniel masuk ke dalam mansion.
Daniel masuk ke lift tanpa Malik, sedangkan Malik menyusul melalui tangga.
Sesampainya di lantai tiga, Daniel menatap sebuah pintu berwarna putih. Malik hanya melihat putranya dari kejauhan karena memang ia masih bingung dengan apa yang akan di lakukan Daniel.
Dengan tangan bergetar, Daniel menyentuh gagang pintu. Wajahnya sudah pucat.
Ceklek!
"Daniel! Apa yang akan kau lakukan?" tanya Malik langsung mendekat karena khawatir pada putranya.
"Daniel adalah manusia hina. Daniel pantas untuk menderita, Daniel akan menghukum diri Daniel sampai Zahra sembuh." Daniel melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang sangat ia takuti.
"Daniel!" teriak Malik ketika pintu tertutup. Ia sangat khawatir, tiba-tiba saja putranya masuk ke dalam ruangan yang sangat di takutinya.
Malik mendobrak pintu ruangan itu, namun sudah di kunci dari dalam. Ia sangat khawatir, mengapa ruangan ini tidak ia lenyapkan. Ia menyesal karena sudah menciptakan ruang penyiksaan itu. Ia harus segera mengeluarkan Daniel.
"Pak Lim!" teriak Malik menggema. Dengan tergesa-gesa, pak Lim menghampiri Malik.
"Bawakan kunci cadangan untuk ruangan ini!" titah Malik.
"Baik tuan."
Pak Lim pun pergi membawa kunci cadangan, sedangkan Malik masih terus berusaha membuka pintu kamar.
Di dalam ruangan, Daniel berusaha menahan sakit di kepala dan juga sesak di dadanya. Keringat mengucur deras, tangan nya bergetar, wajahnya pucat. Ia berusaha untuk tidak berteriak.
"Aku pantas mendapatkan nya."
Daniel menjatuhkan badannya di lantai, berbaring memeluk lututnya sembari terus menutup matanya. Air matanya jatuh, sakit rasanya berada di ruangan ini. Tapi, mengingat semua kesalahannya, ini semua tidaklah seberapa.
Di luar sana, pak Lim memberikan kunci cadangan pada Malik. Dengan tergesa-gesa Malik membuka pintu, anaknya tidak akan sanggup berada di ruangan itu. Ia begitu menyesal karena sudah membuat ruangan menyiksa itu. Ia sangat menyesal.
Ceklek!
Pintu terbuka, Malik langsung berlari memeluk putranya yang meringkuk di lantai.
Daniel sudah tidak sadarkan diri, anaknya menahan sakit, menyiksa dirinya sendiri. Ia tahu ini semua salahnya, andaikan waktu itu ia tak menciptakan ruang ini dan ia peduli pada anaknya. Pastinya Daniel tidak akan menjadi laki-laki berdarah kejam sepertinya dulu.
"Maafkan, Abi."
_
_
_
_
_
_
Maaf telat yah guys, sebab author sibuk kali.. Author kan mau kuliah nih, jadi urus² berkas-berkas dulu.
Makasih sudah menunggu ☺️
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.