Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Flashback Daniel#1


Sore hari di mansion Raymond. Dokter Setya baru saja memberikan obat penenang untuk Daniel, kini pria itu sudah tertidur pulas selama tiga jam. Aisyah dan Malik sangat khawatir melihat keadaan putranya. Karena penyesalan begitu besar, Malik memerintahkan agar ruangan kosong berwarna putih itu di hancurkan.


Setelah beberapa jam ruang penyiksaan itu musnah begitu saja. Malik menghela nafas lega karena ruangan penuh penderitaan untuk anaknya itu sudah musnah. Ia berharap derita anaknya juga akan musnah.


Kini Malik duduk di samping Daniel, menemani anaknya yang tertidur pulas. Sedangkan Aisyah pergi memasak makanan untuk Malik.


Malik memandangi wajah putra satu-satunya itu, masa lalu yang kelam sangat menghantuinya. Andai waktu bisa di ulang kembali, maka ia tak akan melakukan hal itu pada putra nya.


Waktu itu.....


Flashback on.


Prang!


Suara vas pecah. Aisyah melempar semua guci dan juga vas bunga kesayangan suaminya hingga pecah. Malik yang melihat istrinya yang sedang marah hanya bisa terdiam.


"Sampai kapanpun Umi tidak mau menggugurkan kandungan Umi!" tegas Aisyah yang kini sedang mengandung buah hati mereka yang berusia dua Minggu.


"Kalau Umi tidak mau, maka biar Abi yang menggugurkan nya," jawab Malik tegas.


"Kalau begitu kita cerai!" teriak Aisyah sembari menangis. Entah apa salahnya sehingga suaminya tak menerima kehamilannya. Apa suaminya menganggap bahwa anak yang ia kandung ini bukan anaknya.


Malik yang mendengar perkataan Aisyah langsung naik pitam, niat hati ingin mendekati istrinya untuk memberikan tindakan tegas, namun langkah kakinya langsung berhenti ketika melihat aksi yang akan dilakukan istrinya.


"Apa yang Umi lakukan?" tanya Malik khawatir ketika Aisyah membawa serpihan pecahan Vas bunga lalu mengarahkan pada tangannya.


"Abi ingin anak ini tiada kan? Kalau begitu akan Umi turuti," ucap Aisyah menggoreskan pecahan vas bunga itu ke pergelangan tangannya.


"Umi!"


Malik langsung berlari ke arah istrinya, namun Aisyah langsung menghindar.


"Jangan mendekat! Abi ingin anak ini mati maka ibunya juga harus ikut mati!" teriak Aisyah.


Malik sudah kalang kabut, ia tak memperdulikan lagi ocehan istrinya dan langsung membawa istrinya ke tempat yang aman. Dengan cekatan ia membawa kotak obat dan berusaha menghentikan pendarahan di pergelangan tangan istrinya.


"Apa yang Umi lakukan?" lirih Malik terus membalut pergelangan tangan Aisyah.


"Menuruti keinginan suami." Dengan wajah yang sudah pucat, Aisyah berusaha tetap tersenyum pada suaminya.


Malik hanya diam dan terus membalut pergelangan tangan Aisyah.


"Apa Abi akan menerima anak ini?" tanya Aisyah penuh harap.


Malik sekali lagi hanya diam.


"Abi," lirih Aisyah menjauhkan tangannya dari Malik. Sontak laki-laki itu langsung menarik kembali tangan istrinya.


"Abi."


"Iya, Umi."


"Jawab pertanyaan, Umi."


"Iya."


"Apanya yang iya?" tanya Aisyah.


"Umi boleh melahirkan anak kita," jawab Malik tersenyum manis pada istrinya.


"Terimakasih," ucap Aisyah memeluk Malik dengan hangat. Semoga saja ini adalah keputusan yang baik.


*****


5 Tahun kemudian.


Seorang anak kecil yang tampan kini tengah duduk di halaman belakang sembari bermain tanah. Tangannya yang mungil terus membuat bola-bola dari tanah liat yang basah.


"Apa yang kau lakukan, ha!" teriak Malik kepada putranya dari arah belakang. Malik berdiri bersama pak Lim dan menatap tajam ke arah bocah Lima tahun yang tampak ketakutan.


"Main," jawab Daniel kecil sembari memperlihatkan bola tanah di tangannya.


"Pak Lim! Bersihkan anak itu dan bawa dia ke ruang kerja ku setelah bersih!" titah Malik meninggalkan pak Lim dan juga Daniel kecil.


Pak Lim menatap tuan mudanya yang tampak ingin menangis. Ia tersenyum sendu melihat tuan mudanya yang selalu saja di marahi dan juga di abaikan. Apalagi, jika nyonya besar tidak ada di rumah. Anak malang itu pasti akan selalu di bentak setiap detiknya.


"Tuan muda, ayo kita mandi." Pak Lim berjongkok lalu merentangkan tangannya.


Dengan senyuman polosnya Daniel mendekat. "Tapi tangan Abang kotor," ucap Daniel menatap telapak tangannya.


"Tidak apa-apa."


Daniel langsung memeluk pak Lim, dengan sigap pak Lim mengangkat tubuh Daniel dan membawanya ke kamar mandi untuk di bersihkan. Entah apa nanti yang akan di berikan tuan besar untuk tuan mudanya sebagai hukuman.


Setelah selesai membersihkan tuan mudanya, pak Lim membawa Daniel keruang kerja Malik. Di gendongan nya, bocah Lima tahun itu tampak mengantuk, tapi titah tuan besar tidak boleh di bantah atau tuan mudanya akan mendapatkan hukuman yang lebih parah.


"Assalamu'alaikum, tuan besar." Pak Lim mengetuk pintu.


"Wa'alaikumusalam, masuk!"


Pak Lim masuk lalu meletakkan Daniel kecil di atas kursi di depan meja kerja.


"Bawa dia kemari!" titah Malik. Pak Lim kembali menggendong Daniel lalu meletakkannya di atas meja langsung berhadapan dengan Malik.


"Bawakan penggaris besi!"


"Tuan?"


"Bawakan!" tekan Malik.


Pak Lim terpaksa membawa penggaris besi lalu memberikannya pada Malik.


"Tunjukkan telapak tangan mu!" titah Malik pada anaknya. Dengan wajah yang polos, Daniel kecil mengulurkan tangannya.


Pletak!


"Auuwww, sakit."


Daniel meringis saat penggaris besi melontar telapak tangannya.


"Tuan besar," tegur pak Lim.


Pletak!


"Sakit," tangis Daniel. Tangannya sudah memerah, namun ia tak berlari maupun meminta tolong. Ia hanya menatap Abi-nya, berharap hukumannya di selesaikan.


Tak ada rasa sedih ataupun iba untuk putranya. Makin terus melontarkan penggaris besi di telapak tangan mungil anaknya.


_


_


_


_


_


Oke, karena ada yang penasaran sama masa lalu Daniel. Maka kita akan flashback selama beberapa eps.


Udah gak usah komplen! Nikmati aja yah guys💕


Maaf telat.. Sebab author sibuk sangat😭


Terimakasih


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.