Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Apa kau bahagia?


Hari sudah siang, Daniel dan Zahra baru saja selesai shalat Zhuhur. Kini kedua insan itu tengah duduk di sebuah ayunan di bawah pohon depan villa. Zahra naik di atas ayunan dan suaminya yang mendorong ayunan.


"Baby, apa kau suka?" tanya Daniel.


"Sangat suka. Terimakasih karena sudah mengajakku kemari."l


"Honey, apa kau bahagia?" tanya Daniel sembari mendorong ayunan. Matanya mengkode pada seseorang yang yang bersembunyi sedikit jauh untuk membawa foto mereka. Ia ingin menjadikannya sebagai wallpaper handphonenya.


"Iya, aku bahagia, Hubby." Zahra tersenyum sembari menutup matanya menikmati semilir angin yang menyentuh kulitnya.


"Karena apa kau bahagia, honey?" tanya Daniel. Beberapa detik Zahra tampak diam membuat Daniel tersenyum kecut, terlalu cepat kalau Zahra mengatakan bahagia karenanya.


"Aku bahagia karena bisa menikah dengan laki-laki sebaik dirimu, Hubby. Kau romantis, kau penyayang, kau terbaik lah pokonya." Senyuman manis mengembang di wajah Daniel mendengar perkataan istrinya. Ia pun menghentikan dorongan ayunan lalu berjalan dan duduk di sebelah Zahra di atas ayunan yang bisa menampung dua bahkan tiga orang.


"Yang benar, baby?" tanya Daniel memastikan ucapan istrinya.


Zahra tampak tersenyum lalu menyentuh hidung mancung Daniel.


"Sekarang giliran hubby yang menjawab. Apakah hubby bahagia?" tanya Zahra. Dengan cepat Daniel mengangguk karena memang ia sangat bahagia.


"Aku sangat bahagia. Awalnya ku kira ini hanyalah sekedar ketertarikan biasa saja, ternyata sebuah ketertarikan berakhir dengan sebuah kebahagiaan. Aku bahagia karena memiliki mu, honey. Aku bahagia karena bisa beribadah bersama mu. Aku bahagia karena kau lah yang menjadi pendamping ku. Aku bahagia akan semua yang berkaitan dengan mu ketika bersama ku. Aku bahagia, honey."


Hati Zahra terasa hangat ketika mendengar perkataan Daniel, ia memeluk suaminya dan tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


"Terimakasih karena sudah bahagia, terimakasih."


"Honey, mungkin aku tak bisa mengatakan kalau aku mencintaimu sekarang. Tapi, satu hal yang harus kau pegang dalam hati mu bahwa aku hanya akan bersamamu dan begitu juga dengan mu yang hanya akan bersama ku saja. Kau hanya boleh menjadi milikku dan begitu juga aku yang hanya boleh menjadi milikmu. Suatu saat nanti aku akan mengatakan jika rasa cinta itu datang. Karena aku sendiri tidak tahu, mana rasa cinta dan mana sebuah obsesi."


Daniel memejamkan matanya, ingatan ketika ia begitu terobsesi pada Aria membuat ia mengganas bahkan melakukan kesalahan yang tidak bisa ia lupakan sampai sekarang.


"Aku akan bersabar, Hubby. Seperti Hubby yang juga akan bersabar menunggu pengakuan cinta dari ku," jawab Zahra masih memeluk suaminya.


"Hubby?"


"Hmmm?"


"Jika suatu hari nanti Allah belum mengizinkan kita mempunyai anak bagaimana? Apakah Hubby akan menikah lagi?" tanya Zahra dengan nada lirih sembari terus memeluk Daniel.


"Tidak! Dalam hidup ku, aku akan menikah hanya sekali. Jika aku kehilangan dirimu, maka aku tidak akan membuka hati maupun ruang untuk siapapun di dunia ini yang ingin menjadi istriku. Kalau masalah anak, aku hanya suka saja menyebutnya dengan bibir ku ini. Tapi, kalau Allah belum mempercayai kita, maka kita harus bersabar. Banyak jalan untuk menuju kebahagiaan dalam sebuah pernikahan walau tanpa kehadiran sang malaikat kecil," jelas Daniel mengecup pucuk kepala istrinya.


"Terimakasih," ucap Zahra terisak. Ia tak menyangka orang yang di beritakan sebagai pembunuh ini adalah seseorang yang berhati hangat.


"Sama-sama, sayang ku."


*****


Setelah curhat dan juga berbagi isi hati. Kini Daniel dan Zahra ada di halaman belakang tepatnya di sebuah kolam renang. Villa langsung di kosongkan ketika mendengar perintah dari Daniel untuk segera di kosongkan. Ia tak mau orang-orang melihat istrinya yang hanya memakai celana pendek dan juga tentop. Untungnya kolam renang itu dalam lokasi yang tertutup. Walau begitu Daniel tetap mengosongkan villa untuk berjaga-jaga.


"Kan ada aku, honey." Daniel mencoba meyakinkan istrinya untuk berani masuk ke dalam kolam renang. Dengan perlahan ia menuntun istrinya masuk ke kolam.


"Akhhhhh, takut!" teriak Zahra ingin meraih pegangan namun sudah di bawa Daniel menuju posisi tengah kolam. Ia memeluk sang istri yang tampak berontak ingin naik ke atas kembali.


"Sayang, tenanglah. Nanti kita tenggelam," ucap Daniel mencoba menenangkan istrinya.


"Takut," lirih Zahra memeluk erat tubuh suaminya.


"Rileks, baby." Daniel menarik tubuh Zahra agar masuk kedalam air secara sempurna. Tampak istrinya terkejut ketika ia membenamkan kepala istrinya bersamaan dengan kepalanya.


"Ha..Ha.. Tidak mau! Mau naik!" teriak Zahra benar-benar takut sembari mengatur nafasnya.


"Sayang, coba santai. Ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan mu sampai tenggelam." Zahra menatap mata suaminya lalu beralih ke arah dada telanjang suaminya. Pipinya memerah membuat Daniel tertawa.


"Mesum." Daniel mengecup bibir Zahra membuat gadis itu makin salah tingkah.


"Kita belajar sekarang?" tanya Daniel.


"Iya."


Daniel mengajarkan Zahra tahap-tahap untuk berenang dengan benar. Sesekali Daniel mengambil keuntungan dalam kesempitan, seperti memeluk, mencium, bahkan menggigit leher istrinya.


"Sakit, Hubby." Kini kedua insan itu ada di tepi kolam, Daniel memeluk istrinya yang berpegang pada tepi kolam dari belakang. Menggigit bahkan menyentuh area sensitif istrinya di dalam air membuat gadis itu mengigit bibir bawah.


"Kau sangat menggoda, honey," ucap Daniel dengan suara serak nya.


"Aku menginginkan mu," lanjutnya sembari terus melanjutkan aktivitasnya.


Sangat menggemaskan bukan? Kamu kapan nyusul ^_^


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


jangan lupa like komen an juga vote🥰


tbc.