Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Bertemu cecunguk


Akhirnya Zahra bisa keluar juga. Dengan di antarkan oleh supir yang di tugaskan Daniel kini Zahra sedang dalam perjalanan. Ia berharap ibu nya baik-baik saja dan tidak sakit parah.


"Nona, apa anda tidak ingin membeli buah atau kue untuk ibu anda. Biasanya orang sakit selera makannya berkurang," saran pak supir.


Benar juga. Setidaknya Zahra membelikan buah untuk ibunya. "Kalau begitu bisa bawa saya ke pasar buah, pak?"


"Baik nona." Pak supir pun membawa Zahra pergi ke sebuah pasar tradisional. Di sana harganya pasti lebih murah karena memang ia belum gajian. Uang yang ia gunakan saat ini adalah tip yang di berikan nyonya Aisyah.


Setelah beberapa menit Zahra pun sudah mendapatkan buah-buahan nya lalu kembali ke dalam mobil. Mobil pun kembali melaju menuju rumah Zahra.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Zahra tiba juga di rumah. Dengan perasaan campur aduk ia berlari menuju rumah yang pintunya tertutup.


"Assalamu'alaikum, ibu. Ibu...Ibu buka pintunya, Zahra pulang." Zahra mengetuk pintu dengan linangan air mata.


Ceklek..


Pintu terbuka, di sana terlihat Saras tersenyum pucat ke arah Zahra. Gadis itupun langsung memeluk sang ibu dengan erat.


"Mengapa ibu berbohong? Mengapa ibu tidak jujur kalau ibu sedang sakit?"


Zahra menangis tersedu-sedu sembari masih memeluk sang ibu.


"Ibu baik-baik saja, sayang. Ibu sudah lumayan sehat, kau jangan menangis. Kau pasti lelah. Ayo masuk, ibu akan memasak makanan enak untukmu."


Zahra mengangguk lalu masuk kedalam rumah yang setiap detik nya ia rindukan. Rumah penuh dengan kenangan indah.


"Ibu jangan memasak, Zahra masih kenyang. Kalau Zahra lapar nanti biar Zahra saja yang masak."


Saras tersenyum manis sembari memeluk sang putri, ia sudah sangat rindu pada anaknya. Setiap detik ia memikirkan sedang apa anaknya di sana? Apa sudah makan? Apa majikannya memperlakukan nya dengan baik. Tapi, terlihat dari wajah dan juga tubuh Zahra sepertinya anaknya baik-baik saja.


"Zahra membawakan buah, ayo dimakan Bu. Biar Zahra kupaskan." Zahra mengeluarkan buah-buahan yang ia beli lalu pergi ke dapur untuk membawa pisau dan juga piring.


Saras tersenyum bahagia karena di saat sakit seperti ini anaknya ada di sisinya.


Ya Allah, terimakasih.


********


Beberapa hari kemudian.


Sudah beberapa hari Zahra tinggal di rumahnya dengan sesekali pergi ke mansion untuk memasak. Sekarang ibunya sudah baik-baik saja terlihat dari kesegaran wajah dan tubuh ibunya.


Hari ini Zahra akan segera pulang ke mansion. Katanya, nyonya Aisyah ingin membawanya ke suatu tempat jadi ia harus segera pulang.


"Ibu zahra pulang dulu yah, kalau ada kesempatan nanti Zahra akan berkunjung." Zahra mengecup pipi Saras membuat wanita itu tersenyum geli sekaligus sendu.


"Maafkan ibu, karena ibu kau harus menikahi tuan muda mu. Maafkan ibu."


Setelah mendengarkan cerita Zahra selama anaknya di mansion. Hati Saras terasa teriris. Lagi dan lagi anaknya harus berkorban untuk nya.


"Ibu jangan menyalahkan diri sendiri, semua sudah takdir. Siapa tahu dengan seperti ini Zahra dan ibu akan bahagia. Jangan bersedih yah, kalau ibu bersedih nanti Zahra akan sakit."


"Iya, ibu tidak akan bersedih."


"Kalau begitu Zahra pergi yah. Jaga kesehatan, nanti kalau hari pernikahan nya sudah di tentukan, Zahra akan mengirimkannya pada ibu. Ibu harus datang, oke."


"I-iya."


"Assalamu'alaikum, ibu."


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, sayang. Hati-hati yah," ucap Saras melambaikan tangannya pada Zahra yang kini akan masuk ke dalam mobil.


"Sampai jumpa lagi," teriak Zahra melambaikan tangan.


Mobil yang di tumpangi Zahra pun melaju meninggalkan rumahnya. Di perjalanan Zahra terus saja melamun memikirkan apa yang akan terjadi besok dan seterusnya.


Setelah beberapa menit perjalanan mobil pun akhirnya berhenti, tapi bukan di mansion. Zahra celingak-celinguk melihat hiruk pikuk kota yang ramai.


"Pak, mengapa kita berhenti di sini?" tanya Zahra.


"Nyonya besar menunggu anda di butik ini, nona." Pak supir pun menunjukkan sebuah butik tepat di mana mobil berhenti.


"Untuk apa yah?"


"Saya tidak tahu, nona."


Zahra menghela nafas berat, ia pun keluar dari dalam mobil dan menatap bangunan butik yang megah itu.


Di saat ia sedang menikmati banyaknya orang yang beraktivitas di kota, tiba-tiba saja tubuhnya tertabrak oleh pejalan kaki.


"Punya mata tidak?!" tanya gadis itu dengan nada ketus. Dia yang menabrak ku, dia juga yang bertanya dan marah. pikir Zahra.


"Sayang kau tidak apa-apa?" tanya wanita satunya lagi yang baru saja sampai di posisi mereka.


Tampak orang yang terjatuh mendongakkan kepalanya. "Kau! Dasar jalang!" teriak wanita itu yang ternyata adalah Silvi dan ibunya.


Zahra menghela nafas berat, kini ia harus pandai-pandai bicara kalau mau lolos dari para wanita jahat ini.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang mencari mangsa? Oh, lihatlah pakaian mu. Dapat darimana ini?" tanya Silvi sinis sembari memegang gamis Zahra.


"Apa kita saling kenal?" tanya Zahra dengan santai membuat kedua wanita itu semakin naik pitam.


"Cih, aku tahu apa sekarang pekerjaan mu. Kau bekerja sebagai pelayan kan. Dasar wanita hina!"


"Apa salahnya dengan pekerjaan pelayan, nona? Apakah pekerjaan pelayan adalah pekerjaan hina? Seharusnya anda berkaca. Daripada mengurusi urusan orang lain,lebih baik anda urus saja diri anda sendiri. Harta yang sekarang anda bangga-banggakan bisa saja besok akan hilang dan Anda akan menjadi gelandangan."


Perkataan Zahra benar-benar membuat Silvi dan Lia ingin mencakar Zahra, namun karena di sana terlalu banyak orang, mereka jadi tidak berani.


"Sudahlah, aku lelah berbicara dengan kalian. Aku punya kesibukan sendiri, aku masuk dulu yah para saudara," ucap Zahra tersenyum lalu memilih masuk ke dalam butik.


"Ibu, lihat dia! Dia sangat sombong dan apa ini? Dia masuk ke butik yang terkenal itu Bu," rengek Silvi.


Lia hanya mendengar ocehan dan rengekan Silvi tanpa merespon, namun di hatinya sebuah rencana licik kembali terlintas untuk membuat keluarga iparnya itu menderita.


"Ayo kita pulang, Silvi. Akan ada saatnya kita melihat mereka menangis darah karena perlakuan nya terhadap kita hari ini. Ibu pastikan itu akan terjadi." Silvi mengangguk sekaligus tersenyum licik menatap ke arah butik.


"Tunggu pembalasan ku, Zahra!"


_


_


_


_


_


Maaf yah author jarang up, sebab author sedang ujian teman-teman 🥰


Jangan lupa like komen dan juga vote yah biar author makin semangat up nya🥰🥰


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.