
Arah jarum jam terus berputar pada porosnya mengiringi hari-hari yang terus berganti, dari pagi ke siang lalu ke sore dan malam, terus begitu sampai kini sudah seminggu berlalu
"Apa ini ?" Galih menyengitkan dahi sambil menerima semua benda kecil yang diberikan oleh Gita.
Gita tersenyum tipis,"Sepertinya kamu pasti sudah hafal dengan benda itu, pasti Nadifa sering mencobanya dan menangis karena gagal"
Tangan Galih bergetar memegang Alat tes kehamilan itu, disana muncul strip dua garis merah yang masih terlihat samar.
"Aku hamil!" sentak Gita.
Galih terperanjat, kaget dan murka lalu membuang alat itu ke atas tanah taman belakang kantor yang sekarang sedang mereka pijaki.
"Tidak..tidak..ini bukan anakku!" Galih geram, ia emosi sejadi-jadinya.
"Bukankah ini yang kamu mau? seorang anak yang tidak kunjung datang selama kamu bersama dia!"
Galih bergeming, wajahnya mendadak pucat matanya fokus melihat kebawah, hancur sudah hidup nya kini. Demi apapun saat ini ia lebih hanya ingin menginginkan Nadifa saja ketimbang seorang Anak.
"Kamu harus nikahi aku secepatnya, aku tidak mau perutku membesar tanpa seorang suamj!"
Galih tetap diam, fikiran nya tidak konsen saat ini. Ia hanya membayangi wajah Nadifa saja, istri sah nya yang sangat ia cintai.
"Kamu urus saja pernikahan itu, aku tidak ada waktu!" balas Galih kasar lalu meninggalkan Gita seorang diri yang sedang tersenyum menang karena kebahagiaan yang sebentar lagi ia rasakan.
Galih berjalan sambil berlinang air mata, hancur kini rumah tangga mereka, bagaimana ia bisa mampu untuk membagi hidup dan cintanya dengan dua wanita sekaligus.
Sama sekali tidak ada pilihan, dia harus menikahi Gita, anak yang sekarang sudah ada dirahim Gita, anak itu adalah benih dari nya, anak kandungnya yang ia ingini selama ini.
"Maafkan aku sayang !" Galih menangis sejadi-jadinya, ia menangis di toilet seorang diri. Dadanya teramat sakit dan sesak.
"Apakah Nadifa bisa berdamai dengan keadaan ini?"
"Apakah ia akan memaafkan ku?"
"Aku akan sangat menjijikan dimatanya!"
"Bagaimana jika ia ingin berpisah dariku?"
"Apakah ia mau dipoligami?"
"Ia pasti akan meminta cerai dariku, dan akan menikah lagi dengan lelaki lain!"
"Sementara aku akan menikahi wanita yang tidak ku cintai,"
"Tapi ada anak yang harus aku besarkan!"
Dada nya semakin berat, Nafas nya tersengal-sengal, matanya memerah menahan air mata yang terus mau keluar..
darrrrr.....cuarrrrrrr !!! suara hentakan kepalan tangan Galih meninju kaca dinding hingga pecah pora poranda dan mengalir lah darah segar dari dalam kepalan tangan Galih.
Sakit nya masih bisa tertahan, ini bukan apa-apa dengan sakit yang sebentar lagi akan dirasai oleh Nadifa.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, sungguh!"
"Aku jahat...ya..aku ********!"
Galih memukul-mukul kepala nya sendiri, meronta-ronta dalam kesedihannya.
Galih meraih HP nya dan menelpon Nadifa.
Galih : ***Pulang lah cepat, aku tidak enak badan**
Nadifa : ***Kamu kenapa sayang? oke baik aku pulang sekarang***
tuttt..sambungan telepon pun terputus.
Mendengar suaminya sakit, Nadifa pun bangkit dari mejanya menuju ruangan Malik, terlihat Malik masih menelpon dengan klien.
Melihat Nadifa datang, ia pun menyudahi sambungan telepon itu.
"Ada apa sayang?" tanya Malik
"Aku boleh minta ijin pulang cepat ?"
"Ada apa ? kamu sakit ?" Malik terus melihati wajah Nadifa.
"Bukan aku, tapi suamiku."
Malik mulai menghela Nafas panjang ," Pulang lah cepat, rawat suamimu"
Menekan rasa panas akan cemburu, menelan rasa tidak suka untuk belajar berdamai dengan keadaan sebenarnya.
Keadaan mereka yang seperti sungguh tidak ada bahagia-bahagianya.
Banyak merasakan duka dan lara karena cemburu, rindu dan mendengar kebahagiaan dirumah tangga masing-masing.
Hanya sedikit merasa bahagia, itupun diselingi dengan rasa ketakutan karena takut ketahuan...sungguh sangat menyakitkan..
***Author mewek euy..pas lagi ngetik bab ini..ciusannðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜..Jangan lupa Like ya...aku akan semangat menuntaskan ceritanya ini sampai total****