
Klingggg....
Notifikasi email muncul di layar laptop, membuka cepat.
"Nah kan, jadi deh nih malam makan mamahnya Gifali," batin Galih menyeruak didalam hati sambil menahan tawanya yang tidak bisa dirundung lagi. Ketika melihat potongan rekaman CCTV dirinya.
"Kenapa kamu pah?" Nadifa menoleh sinis, ia tetap duduk di sofa, menunggu rekaman video.
"Ayo sayang sini, liat tuh," Nadifa mulai bangkit menuju meja kerja suaminya.
5 menit kemudian, Nadifa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya kembali tenang, sesekali memberikan senyum yang begitu malu. Ia sudah tau jika dirinya sudah salah faham.
"Udah ngerti kan sekarang?" Galih meledek.
"Oh yaudah deh, aku udah lama nih disini, balik dulu ya ke kantor," Nadifa membawa dirinya cepat untuk kabur dari sana. Ia kepalang malu dengan suaminya.
"Etttt...enak ajah!" Galih selalu cepat dalam menangkap tubuh istrinya yang terasa seperti lebih gemuk dari biasanya.
"Kamu harus tanggung jawab, udah mukulin aku, marah-marahin aku, aku bisa aja laporin kamu ke Komnas Ham, dengan laporan 'istri telah menganiaya suami yang budiman' !"
Nadifa terkekeh, mengejek seperti sedang memuntahkan sesuatu. Galih terus melihati istrinya, melihati turun naik dari leher sampai betis. Melihat sedikit belahan dibelakang roknya. Mengelus-elus punggung lalu pinggang dan bokong.
"Kenapa kamu, Pah? awas jangan macem-macem ini tuh dikantor!"
Galih meraih gagang telepon.
"Yud tolong matiin dulu CCTV diruangan saya, oke---sekarang!" tuttt...telepon diputus.
"Enggak apa-apa bentaran doang!" Galih langsung menggendong Nadifa ke Sofa. Ia tidak akan bisa menahan atau melewatkan apa yang ia ingini saat itu juga.
Tidak perduli Nadifa dengan sejuta alasannya. Ia tetap ingin saat ini.
"Kunci dulu pintunya, Pah!" Nadifa mengingatkan. Galih pun mengangkat wajah nya dari cerukan tengkuk sang istri. Ia bangkit dan mengunci pintu.
"Bisa bahaya nih kalau enggak dikunci, bisa- bisa si Dendi yang abis ini pingsan liat kita," Galih kembali tertawa dan kembali berjalan menuju Nadifa yang sudah dalam posisi siap dan mantap.
Ceklek. Lampu padam
Dan seketika ruangan yang tadinya memanas kini hening, gelap dan sedikit suara samar-samar dalam rintihan.
"Jangan berisik yah, tahan," Ucap Galih lagi.
Diluar
"Lama banget sih keluarnya," Alea terus menatapi pintu ruangan Galih yang belum terbuka.
"Apa masih marah ya si Bar-bar ," Alea kembali terkekeh meledeki Nadifa.
"Jadi enggak enak nih sama Bos, baru juga kerja hari pertama sama dia, eh tuh Satpol Lintas Alam nya udah keburu dateng Bar-bar kaya gini lagi," Alea terbahak-bahak sendirian. Ia terus mematung, diam lalu melanjutkan pekerjaan, dan beberapa kali juga menoleh ke arah pintu ruangan Galih kembali.
"Kamu mau aku anter kerumah sakit nggak? tadi tiba-tiba pingsan kaya gitu," tanya Galih kembali mengaitkan kancing bajunya dan memasang dasi nya kembali.
"Jangan-jangan kamu Hamil,Mah!" Galih menduga-duga dengan senang.
"Ish, aku tuh pingsan karna liat kamu sama seketaris kamu tadi !" Nadifa menarik nafas ,"Kejadian kamu sama Mba Gita, jangan sampai terulang lagi ya Mas. Aku enggak akan kasih kamu kesempatan lagi, aku akan benar-benar ninggalin kamu sama Gifali!" balas Nadifa sambil masih membereskan rambutnya yang sedikit agak berantakan.
"Aku berjanji, akan selalu setia sama Kao Suppasara Ku ," Galih berdecis geli sambil memeluk kembali istrinya.
Grekkkk
Suara handle pintu berbunyi. Penampakan ini yang ditunggu-tunggu oleh Alea di meja kerjanya.
Sambil memapah Nadifa, "Saya mau keluar sebentar, mau anterin istri saya lagi. Kamu handle dulu ya kalau ada yang cari saya," Galih memberi amanat kepada Alea.
Alea mengangguk manis, " Baik Pak !"
Galih pun berlalu sambil merangkul bahu sang istri. Alea terus menatapi mereka dengan wajah biasa.
"Pasangan Bar-bar ," Alea kembali tertawa dalam keheningannya.
Buat ku semangat dengan Like kalian ya...stay tune🖤🖤