Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Badai malam


"Tidak ada luka berat Pak, hanya sedikit bengkak dan memar di daerah tumit kaki. Ibu nya pingsan karna shock saja. Nanti akan saya beri obat radang dan nyeri untuk Ibu nya."


Dokter UGD sedang menjelaskan keadaan Alea kepada Fajar.


"Syukurlah, baik Dok. Terima kasih,"


Dokter berlalu dan Fajar kembali kehadapan Alea dan Dania.


"Maafkan saya, atas kecerobohan saya. Kamu jadi seperti ini," ucap Fajar memelas.


Alea terus menatapi Fajar dengan wajah berbinar-binar. Ia sangat mengagumi ketampanan Fajar, entah mengapa kedua mata itu seolah-olah telah menghipnotis Alea lebih dalam.


"Ale, Kenapa Nak?" Dania menepis lamunan Alea.


"Nggak apa-apa tante," jawab Alea terbelalak dari lamunannya.


"Kamu harus istirahat dulu beberapa hari, jangan masuk kerja dulu!"


"Selama lagi nggak kerja, menginap aja dirumah tante ya, biar luka kamu ada yang ngurus,"


Lagi-lagi Alea gagal fokus, ia terus melihati wajah Fajar. Mungkin ini yang dikatakan cinta pada pandangan pertama.


"Saya akan berkunjung setiap hari sebelum atau sepulang kerja untuk melihat kondisi kamu, lebih baik kamu turuti apa kata Mba Dania,"


"Baik Pak, eh Mas," Ale menutup mulutnya, "Kak?"


Fajar tertawa, "Panggil apa aja boleh, saya.. Fajar," Fajar mengangkat tangannya untuk bersalaman.


"Aku Alea, Mas,"


Mereka pun saling bertatap dalam pertemuan pertama, walau ini semua sama sekali tidak ada artinya di mata Fajar. Namun berbeda di mata Alea, ia merasa jodohnya telah datang menepi dan menjemput dirinya ke pelaminan.


"Baik, aku akan berusaha!" batin Alea merasa kalau Fajar belum menikah. Terlihat perawakan Fajar yang masih baby face, mana ada yang menyangka jika ia sudah menduda dan mempunyai seorang putra.


***


Malam hari, di meja makan.


Galih masih mengaduk-ngaduk makan malamnya dipiring. Mereka berdua hening walau duduk saling berhadapan. Ada kala Galih menunduk kebawah Nadifa mengangkat wajah untuk melihati suaminya, begitu pun sebaliknya ketika Nadifa sedang menunduk ke bawah ada Galih yang mengangkat wajahnya untuk melihati istrinya.


Mereka saling menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan.


"Aku ingin kamu secepat nya resign dari kantor,"


Akhirnya Galih yang terlebih dulu membuka obrolan dingin dengan sang istri. Untuk saat ini Nadifa mencoba untuk mendengarkan dulu tanpa memotong atau menjeda dengan kata-kata balasan nya.


"Apa bisa?" Galih meletakan sendok nya diatas tumpukan nasi, ia berbalik menatap kedua bola mata Nadifa, yang sedari tadi sedang fokus menatap dirinya.


"Kenapa buru-buru Mas?" suara takut-takut keluar dari bibir sang istri.


"Maksud kamu?" Nadifa mengerutkan dahinya, ia mulai terpancing emosi.


"Aku sudah pernah bilang sama kamu, sepertinya gaji ku sudah cukup untuk menopang keluarga kita, aku hanya minta kamu dirumah untuk jaga anak-anak, tidak perlu lagi bolak-balik antar jemput Gifali dan kamu tidak perlu masuk kantor dengan perut yang akan semakin membesar, aku bukan tuhan yang bisa selalu menjaga kamu!" Galih melakukan penekanan di akhir kalimat, Nadifa teringat sekilas dengan ucapan Fajar yang begitu menyulut hati Galih ketika mereka berkunjung.


"Sudah Mas, omongan Mas Fajar nggak usah di fikirin." Nadifa menenangkan sang suami, bukan ia membela tapi hanya tidak mau malam ini berujung dengan pertengkaran. Nadifa tahu kini suaminya tengah cemburu.


"Kenapa susah sekali untuk kamu mengikuti kemauan suamimu untuk resign bekerja, aku masih mampu membiayai keperluan mu. Toh gaji mu juga tidak terlalu memberi efek banyak di keluarga kita ! oh ya aku tau ! apa karna ada Malik ? ada Fajar ? Ckk, menjijikan !"


"Mas ! jaga ucapan kamu ! aku tau diri memang gaji aku nggak seberapa dibanding kamu. Kamu yang berkuasa dirumah ini, segala suatu kebutuhan memang kamu yang penuhi. Tapi Mas, kamu sudah janji ketika kita mau menikah, kamu akan tetap memperbolehkan aku bekerja walau sudah ada anak sekalipun!"


"Iya itu dulu, sebelum kepercayaan ku sirna tentang kamu dengan masalah dua lelaku itu,"


"Dua lelaki?"


Galih diam sebentar, dadanya terasa berat dan hatinya kembali meradang. Bukan itu jawaban yang diinginkan oleh Galih. Sontak ia makin memacu dalam emosi nya, menghentakan tangan ke atas meja membuat getaran disana. Terdengar piring dan sendok saling mencuatkan suara nyaring.


"Siapa saja yang pernah meniduri kamu?"


Entah nama badai apa yang sekarang sedang menerjang tubuh wanita ini. Seketika ia merasakan sakit seperti sedang dikuliti hidup-hidup. Kedua mata nya mulai memerah dan katupan nafas nya kian bergemuruh cepat, ia tidak menyangka Galih akan kembali menyakiti hati nya.


"Kenapa diam? bicaralah apa adanya. Aku akan dengarkan dengan tangan terbuka. Jika memang kita harus berpisah, aku akan tetap menafkahi anak yang ada dalam kandungan mu itu!"


"Berpisah? maksud nya bercerai? semudah itu Mas?" balas Nadifs terbata-bata. Ia sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak mengeluarkan air mata yang sedari tadi menggenang.


Ia terus memandangi wajah suami nya dalam-dalam. Ia tahu suami nya hanya cemburu tapi ia terlalu sakit mendengar ucapan menjijikan yang keluar dari mulut Galih.


"Aku masih punya harga diri Mas, walau aku pernah bersalah dengan Malik. Tapi aku nggak pernah memberikan harga diri ku kepadanya, atau ke siapa pun yang kamu curigai! selama lima tahun menikah, aku hanya melakukan nya sama kamu Mas, suami aku!"


"Diam !" Galih meninggikan suaranya. Ia masih tersulut emosi sampai tidak bisa sekalipun berfikir dengan jernih.


"Aku bukan ******* Mas!"


"Diam kata ku!" Galih makin memuncak, tangannya sudah mengepal di udara namun ia tahan sekuat-kuat mungkin.


Nadifa makin merintih tidak percaya jika suami nya sebegini emosi nya.


"Demi Allah, demi almarhum orang tua ku dan demi anak yang ada dalam kandunganku, aku nggak pernah melakukan hubungan badan selain dengan suami ku sendiri!"


Mendengar semua itu seketika membuat Galih terenyuh. Ia merasa tertampar saat ini.


Nadifa menggeser bangku nya ke belakang, lalu bangkit untuk berdiri.


"Ayo duduk ! habiskan makanan mu!" perintah Galih sangat memaksa.


Nadifa tidak menjawab, ia tetap bangkit membawa langkah kaki nya sembari mengelus perut datar nya untuk menaiki anak tangga menuju kamar.