Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Mulai menyukai


"Pak, belanja sayur juga ?" tanya Nadifa .


"Iyaa betul, sayaa sudah langganan. Kasih saja daftar belanjaan nya. Nanti pulang kerja nanti saya ambil. Lumayan untuk seminggu," jawabnya sambil mengemudi.


"Wah enak sekali istrinya Pak, terbantu ya," Nadifa menimpali. Malik hanya tersenyum terus fokus mengemudi.


"Dimana rumah kamu, Dif?"


"Terus aja Pak, enggak jauh dari sini,"


"Enggak nyangka saya, kita searah berarti ya?"


"Iya Pak betul, hmm---Punya anak berapa Pak?" Nadifa semakin ingin mengusik keingintahuan nya tentang Malik.


"Ohh anak saya ada dua, perempuan semua,"


"Kalau istri kerja juga Pak ?"


"Kamu kenal Kinanti Gunawan?"


"Kinanti Gunawan? hmm--yang saya tau Kinanti itu seorang pembawa berita di televisi pak hehehe ?" Nadifa bercanda.


"Iya betul, itu istri saya,"


"Wahh!" ucap Nadifa takjub.


Hebat sekali dua pasangan Suami-Istri ini ya. Pak Malik gagah dan Kinanti Gunawan itu cantik dan bagus sekali suaranya ketika sedang membawakan berita di televisi.


Sangat takjub, suami yang mempunyai posisi jabatan baik mau ke pasar untuk membantu Istri.


"Benar-benar keren." ucap Nadifa dalam hatinya


"Berhenti disini Pak, ini rumah Nadifa" Malik menginjak rem mobilnya dengan baik. mereka menoleh kedalam rumah yang sudah terpakir mobil Galih di garasi.


"Sepertinya Suamimu sudah pulang ya?"


"Iya Pak betul, Makasi banyak Pak atas tumpangannya," Nadifa memberi tangan kepada Malik untuk salim dan membuka pintu mobil untuk turun. Berjalan membuka pintu belakang untuk menurunkan semua belanjaannya.


"Apa mau dibantu, Dif ?" Malik menawarkan diri.


"Oh enggak usah, Pak. Di anterin aja udah seneng banget, hehehe sering-sering ya," ledek Nadifa.


Malik pun mengangguk sambil tertawa. Di rasa Nadifa sudah selesai, Malik pun pamit dan kembali melajukan mobil menuju rumah nya.


Nadifa terus melihati mobil Malik yang terus berlalu sampai tidak terlihat lagi. Senyum sumringah bahagia, entah mengapa bisa se bahagia itu.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 21:00, Malik tetap berada diruang tamu menunggui anak- anaknya belajar.


Aisya yang masih kelas 6 dan Letta yang masih berada di taman bermain. Sesekali mereka berebut dan berantem, namun Malik selalu sabar melerai dan menengahi mereka.


Kinanti pun sama sangat mencintai Malik serta para buah hati mereka. pasangan suami istri ini jarang terdengar ribut. Rumah mereka selalu damai dan indah.


Rumah tangga seperti ini yang banyak didambakan semua pasangan di dunia ini.


Malik yang lebih banyak menemani dan menghabiskan waktu sepulang kerja bersama anak-anak mereka. Dirinya sangat memaklumi profesi Kinanti yang begitu panjang. Mengingat istrinya sudah dikontrak oleh tiga televisi sekaligus.


Dengan waktu yang berlainan, mereka pun sudah sepakat membagi tugas untuk mengurus rumah dan anak-anak.


Malik mempunyai PRT yang tidak menginap alias pulang pergi, datang pagi dan pulang sore ketika Malik sudah sampai dirumah. kinanti berkeberatan jika ada yang tinggal selain keluarga mereka.


"Ayah, Bunda belum sampai ya?" tanya Aisyah sembari memakan sosis goreng buatan malik.


"Sebentar lagi, Nak," jawab Malik melihat ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Malik terud mengelus-elus rambut Aisyah dan Letta menghampiri Malik dengan manjanya, ia menciumi nya sampai anak itu berkeliat kabur.


"Kita tidur saja yuk, sudah malam, nanti Bunda akan susul kita untuk tidur," ajak Malik menggendong kedua anaknya ke kamar.


Malik dengan sigap menyelimuti kedua anaknya dengan selimut barbie yang cukup tebal.


Menciumi anak-anak nya dengan sepenuh hati, ditunggui anaknya sampai terlelap lalu ia beranjak dan mematikan lampu.


Meninggalkan kedua anak perempuan yang cantik-cantik itu. Ia berjalan masuk ke kamar nya sendiri, kamar miliknya bersama Kinanti.


Ia naik beranjak ke ranjang, meletakan bantal dibelakang punggungnya. Menantap ke arah atap kamar, entah apa yang ia fikirkan. Tiba tiba ia tersenyum memikirkan Nadifa. Ia ingat-ingat setiap gaya bicara Nadifa sedari kantor dan pada saat diantar pulang.


"Lucu ya dia, manis dan pintar," gumamnya.


"Oh iya saya belum punya no WA nya,"


lalu ia mengetik pesan wa kepada dania.


"Assalammualaikum malam, Niah. Saya mau minta no WA Nadifa apakah ada ?" pesan dikirim kepada Dania.


Dania yang sedang online langsung membalas cepat.


"Wah Pak Malik, mau ngapain dia minta wa nya Nadifa,"


Dania akhirnya mengirim kontak nadifa kepada malik.


"Ini kontaknya Pak," balas Dania.


"Baik terimakasih,"balas Malik.


Akhirnya Malik mulai menyimpan nomor Nadifa, lalu muncul kontak WA dengan gambar foto dirinya. Saat ini Nadifa sedang memasang foto bersama suaminya.


"Oh ini suaminya," gumam Malik, disaat itu pula Malik memakai foto bersama istri juga anak-anak nya.


Malik ingin mengetik pesan namun diurungkan, mengingat hari sudah malam. Ia pun sudah mengantuk. Dirinya tidak menyadari apa yang mulai merasuki kepala dan hatinya.