
Nadifa terus berjalan menyusuri kantor menuju ruangan kerja suaminya. Wangi tubuhnya seperti terbawa Angin, menggeledah setiap pemilik hidung yang berpapasan dengannya.
Tubuhnya yang sexy, ramping tinggi semampai, dengn kulit putih bersih membawa kesejukan bagi mata yang memandang, Nadifa menebarkan senyum yang manis dengan bibir yang berwarna merah muda itu.
"Assalammualaikum," Ucap Nadifa memberi salam tepat didepan pintu ruangan kerja Galih yang masih terdapat beberapa karyawan lain disana.
Galih yang masih terpaku dengan Komputernya, Mengangkat wajahnya dengan cepat mendengar suara yang tidak asing itu, ia melihat Istrinya yang cantik tengah sampai didepan pintu.
Galih pun Bangkit dan menyusuli istrinya, menggandeng tangan Nadifa untuk mengikuti dirinya.
"Naik apa sayang ?" Tanya Galih menuju meja yang terdiri dari beberapa kopi seduh,teh dan susu serta dispenser berada disebelahnya. tanpa bertanya ingin minum apa, Galih dengan keputusannya sendiri membuatkan Teh untuk istrinya itu.
"Aku tadi naik grab sayang, Lumayan agak lama karna macet," Nadifa menutupi apa yang sebenarnya terjadi selama diperjalanan menuju kantor Galih.
Galih memutar badannya dan berjalan menuju istrinya, Sesampai nya pula Gita sudah sampai dimeja mereka berdua.
"Assalammualaikum ," Sapa Gita memberi salam kepada Nadifa dan Galih.
Nadifa dengan cepat menoleh kearah Gita, dan Galih menaruh teh yang ia buat untuk istrinya dimeja. Membuat mata Gita tertahan kuat melihat Galih begitu perhatian kepada istrinya itu, Kali ini ia tetap menjalankan dramanya untuk tetap bersikap baik mengembalikan kepercayaan Galih kepadanya.
"Duduk mba Gita," Nadifa menggeserkan bangku disebelahnya untuk Gita. Nadifa tetap sangat menghormati kedua Kakak Kelasnya itu, yang kini Galih sudah menjadi suaminya dan Gita teman Galih.
" Nadifa apa kabarnya ? sehat selalu ya, senang ketemu kamu lagi. udah lama kayanya kita gak bertemu," Gita menatap Nadifa dengan ramah.
Galih melihati mereka berdua yang sedang bersapa ria.
"Minum dulu sayang,teh nya ," perintah Galih.
"Kamu mau juga Git ?" Galih menawarkan. Gita menggeleng dengan cepat.
"Tidak usah lih, aku bisa buat sendiri nanti," Jawab Gita.
"Apakah Nadif mau istirahat dulu ditempat aku ?disana ada sofa yang biasa kita gunakan untuk berbaring, kamu bisa tiduran dulu sambil menunggu acara barbeque sehabis isya," Gita menawarkan kepada Nadifa.
"Iya sayang, pergilah dengan Gita. aku juga masih harus selesaikan laporan dulu," Galih membalas ucapan Gita.
"Baiklah mba, aku mau sekalian bersih bersih dikamar mandi," Jawab Nadifa lalu bangun dan bangkit berpamitan dengan Suaminya.
Mereka berlalu meninggalkan Galih yang masih bekerja. Gita tidak sebaik itu, ia hanya berpura pura suka dengan Nadifa, hanya ingin mengambil simpati Galih saja.
"berbaringlah disini dif, kalau mau kekamar mandi dipojok sana, kalau mau mandi. aku juga ada handuk baru hadiah ulang tahun dari kantor," Gita mempersilahkan Nadifa untuk duduk di sofa.
"Terima Kasih ya mba, maaf merepotkanmu, aku memang membawa baju ganti. tapi nanti saja lah mandinya, aku masih letih mba hehe," ucap Nadifa menyandarkan dirinya di Sofa.
"Oke baiklah," Gita kembali berjalan menuju mejanya, menyelesaikan beberapa tugasnya lagi. sesekali ia memandangi Nadifa yang telah memejamkan matanya di sofa.
"Jika dulu aku merelakanmu menikah dengan Galih, untuk saat ini aku akan berjuang memisahkan ia darimu," Batin Gita melihati Nadifa.
"5 tahun menikah pun dirimu belum bisa memberikan keturunan kepada Galih, lalu apa hebatnya kamu sampai Galih begitu mencintai kamu dari pada aku,"
"Aku yang lebih mencintainya, yang akan melayani nya sepanjang waktu dan bisa memberikan anak untuk Galih," batin Gita mantap, tatapan wajahnya berubah tidak bersahabat ia terus melihati Nadifa yang sudah tertidur di Sofa.