
Bangku Taman RS Merpati.
Kinanti masih menunggu penjelasan Malik perihal barusan, wajahnya terus melihati Malik dengan rasa keingintahuan yang dalam."Ayah?"
Malik diam sejenak, ia rasa Kinanti sudah saatnya tahu.
"Nadifa adalah istri pertamanya Galih, suami Gita. Mereka telah pisah ranjang selama tiga bulan, Nadifa pergi dari rumah. Karna mengetahui kabar tentang Gita, ayah sengaja membawanya kemari, agar Nadifa bisa kembali bertemu dengan Galih dan menyelesaikan masalah mereka," penjelasan Malik mantap dan tepat.
"Apakah, Galih tau tentang hubungan kalian?" tanya Kinanti terbata-bata.
Malik kembali diam, ia merasa sangat malu untuk mengingat kejadian itu lagi,"Awalnya memang tidak tahu, lama-lama akhirnya Galih mengetahui itu dan terjadi persilihan hebat diantara mereka, Nadifa pun pergi dari rumah hampir 3 bulan lamanya,"
Kinanti menggelengkan kepalanya dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia merasa semua pertikaian itu terjadi karna ada andil dari Malik, suaminya.
"Apakah waktu wajah ayah lebam itu karna.." ucapan Kinanti pun langsung ditangkap oleh Malik."Iya Bun, Ayah di hajar habis sama Galih, ia tidak terima, padahal ia baru mengetahui ketika kami sudah memutuskan hubungan itu!"
Kinanti merubah wajahnya menjadi mendung, perasaan sakitnya mengetahui suaminya telah berselingkuh pun belum sepenuhnya pulih, apa kata keluarga besarnya jika Malik ada scandal dengan istri dari suaminya Gita.
"Bunda jangan khawatir, Ayah sama Difa sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kita hanya akan menjadi teman kerja selamanya!" Malik menggenggam dan merangkul tubuh Kinanti, menenangi dan meyakinkannya bahwa ia tidak akan salah arah lagi.
"Lalu kenapa Nadifa sampai hati meninggalkan suaminya, aku melihat tadi bahwa Galih teramat sangat sayang padanya,"
Malik menarik nafasnya dalam-dalam,"Karna Nadifa merasa ia tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya, tidak bisa memberi kebahagiaan kepada Galih seperti yang kini Gita lakukan,"
"Benar-benar Gita, telah menghancurkan rumah tangga orang lain!" Kinanti geram, ia sedikit terbawa perasaan. Walau didalam hatinya masih ada rasa benci dengan Nadifa, ia pun sadar bagaimana berada di posisi Nadifa saat ini.
Pasti hancur ! sangat hancur
Malik dan Kinanti hanya bisa diam, hening bersama didalam bangku taman, Malik merangkul erat sang istri yang begitu luar biasa mau berlapang dada untuk memaafkan dan menerima ia kembali.
*****
Galih terus berdiri sambil menahan perih akibat luka robek yang terdapat ditangannya karna kejadian barusan, namun luka tersebut sudah diobati dan ditutup perban.
Setelah 15 menit proses pendonoran darah telah selesai dilakukan, semua alat yang terpasang sudah dicabut dari lengan tangan bagian dalam. Terlihat beberapa kantong labu darah sudah tersaji didepan matanya.
"Tolonglah Gita dan bayi nya Ya Allah," Nadifa lirih berdoa dalam sanubarinya.
"Sudah selesai Bu, jangan lupa diminum dan dimakan ya," Perawat memberikan sekotak susu dan telur rebus untuk asupan Nadifa agar kembali kuat.
Galih pun dengan sigap meraih dan menopang tubuh Nadifa untuk turun dari ranjang pasien. Nadifa yang begitu lemah dan lunglai hanya menurut saja ketika badanya dipapah oleh suaminya itu. Wajah Galih sangat dekat dengan Nadifa, mereka saling bertatap. Terlihat pancaran hangat akan kerinduan memancar diantara mereka.
Nadifa pun didudukan dikursi luar, ia mau mengembalikan energi tubuhnya sebelum bertemu dengan Gita sebentar lagi.
"Makasi istriku," Galih mengelus-elus tangan Nadifa lalu mengupasi kulit telur hingga siap dinikmati oleh Nadifa. Ia terus mengelapi wajah Nadifa yang dipenuhi keringat dengan tissue. Melakukan pijatan kecil di sekitar bahu Nadifa.
Galih seperti sudah lupa akan penghianatan yang pernah dilakukan istrinya dulu.
"Ini Sayang, pelan-pelan ya," Galih membukai tutup botol air kemasan lalu meminumkanya ke mulut Nadifa. Galih amat tulus dan amat sayang, ia lupa jika dirinya sendiri belum makan dari pagi.
"Nadifa?!"
Ada suara memanggil dari arah lain membuat Galih dan Nadifa menoleh bersamaan.
*****