Aku berbeda

Aku berbeda
takdir dan garis


"Simbok, saya sudah selesai makan, terimakasih baksonya enak sekali. " Ucap Lily kepada perempuan tua itu.


"Sama sama, mbak Lily. Lain kali kalau pengen makan apa bilang saja sama simbok, pasti simbok akan buatkan. Iya kan den. " Ujar Wanita tua itu sembari mengedipkan matanya kepada Om Didi.


"Hahaha.. bisa aja simbok ini,. " Jawab Om Didi sembari tertawa.


Tingg..


terdengar suara pesan masuk dihandphone Lily..


"Dibaca dulu nduk, siapa tahu calon pembelinya sudah mau sampai. " Ujar Om Didi pada Lily.


"Iya Om. " Jawab Lily sembari membuka pesan di handphone nya.


"Halo mbak saya sudah sampai dilokasi, mohon mbak keluar,.. " Kata pesan tersebut kepada Lily.


Tingg..


ada bunyi pesan masuk kembali..


"Mbak saya juga mau sampai lokasi, mohon di fotokan rumahnya warna apa ya, terimakasih. " Kata pesan lainnya.


Setelah Lily membalas semua pesan tersebut satu persatu.. Lily pun segera keluar menuju gerbang, untuk menunggu para calon pembeli mobil yang akan datang. Dan benar saja tidak sampai sepuluh menit kemudian mereka datang.


"Halo mbak Lily ya, boleh liat mobilnya. " Kata salah seorang dari mereka.


"Saya Irwan mbak, boleh saya juga melihat mobilnya. " Kata yang lainnya pada Lily.


"Eh, oh.. boleh mas, silahkan masuk sebelah sini. " Jawab Lily pada salah seorang dari mereka.


Setelah beberapa saat kemudian, transaksi jual beli pun berhasil, dua mobil milik Om Didi pun terjual lewat Lily.


"Nduk, karena ini rejekimu jadi tak berikan.. terimakasih sudah membantu saya menjual mobil mobil saya. Besok saya ajak berbisnis lagi. Supaya kamu bisa punya tambahan yang untuk jajan. " Kata Om Didi seraya menyerahkan amplop yang berwarna coklat berisi uang kepada Lily.


Seketika Lily pun membuka amplop coklat tersebut, dan menghitung uang yang ada didalamnya..


"Loh Om, ini terlalu banyak.. masak saya cuma membantu sebentar terus dikasih sebanyak ini.. ini banyak banget lo Om, tujuh juta, terlalu banyak buat anak seumuran saya. " Ujar Lily pada Om Didi.


"Gak apa apa, itu memang rejekimu nduk, besok bantuin saya jualin rumah, kalau laku saya kasih persenan nanti, kan lumayan bisa untuk ditabung juga. " Ujar Om Didi kembali pada Lily.


"Baik Om, tapi saya ada satu pertanyaan yang masih menganggu dalam hati saya. " Ujar Lily.


"Aku sudah tahu kok, kamu pasti akan bertanya kenapa saya bisa akrab dan percaya dengan kamu kan. " Jawab Om Didi pada Lily.


"Iya Om, maaf kalau pertanyaan saya sudah menyinggung perasaan Om. " Kata Lily kembali.


"Tidak apa apa, memang sudah seharusnya kamu bertanya, sejujurnya saya pernah punya ikatan dan hubungan denganmu nduk, tapi itu dimasa lalu. " Jawab Om Didi pada Lily.


"Maksud Om.. saya pernah menikah dengan Om gitu?.. " Tanya Lily dengan penasaran.


"Bukan menikah, intinya seperti takdir dan garis.. gimana ya, susah untuk dijelaskan. Gini saja, penjelasan singkatnya, kamu pertama kali liat saya pasti merasa akrab dan tidak asing kan, begitu pula dengan tempat tinggal saya. " Jawab Om Didi kembali pada Lily.


"Nah, betul itu Om, anehnya saya tidak merasa canggung atau seakan pernah kenal lama dan akrab, padahal baru pertama kali bertemu. " Ujar Lily kembali.


"Yah seperti itulah, sejujurnya kamu ini masih satu garis dan keturunan dari Kerajaan yang sama dengan saya, makanya tidak asing jika kita merasa saling akrab. " Jawab Om Didi kembali pada Lily.