Wanita Buronan

Wanita Buronan
Wanita Pertama Darian


Bagaimanapun hubungan antara Kinanti dan Darian, tetap saja mereka berdua adalah sepasang suami isteri. Dan itu berarti hubungan antara Darian dan Hanna, apapun namanya itu, tetap saja merupakan perselingkuhan. Tapi memang dunia sungguh sudah terbalik. Darian dan Hanna tidak pernah malu menunjukkan hubungan mereka. Walaupun tidak pada dunia, tapi mereka tidak pernah ragu memamerkan kemesraannya pada Kinanti.


"Kenapa kamu tidak menunjukkan ini semua ke Mama dan Papa juga, Mas? Biar mereka bisa tahu kemana hatimu sebenarnya berada." Tanya Kinanti saat ia tengah berdua dengan Darian di kamarnya.


Darian menatap Kinanti sinis. Ia lalu tertawa dingin.


"Dan membiarkan semua aset saya dibekukan oleh Papa? Atau malah dialihkan ke kamu?" Darian membalikkan pertanyaan.


Memang terdapat kesepakatan antara Darian dan ayahnya yang baru Kinanti ketahui setelah mereka. Dan itupun Darian sendiri yang mengatakannya. Isinya adalah seluruh aset Darian akan dialihkan ke Kinanti apabila Darian menceraikan Kinanti dengan alasan apapun. Mungkin karena itulah Darian menyetujui pernikahan itu dan tidak mau menunjukkan hubungannya dengan Hanna kepada kedua orangtuanya.


"Tapi aku tahu kamu juga tersiksa dalam hubungan ini Mas. Untuk apa dipertahankan kalau kamu memang tidak mencintai aku?" Ucap Kinanti.


"Untuk hartaku. Cuma itu." Jawab Darian lalu meninggalkan Kinanti sendiri.


Dan Hanna pun memang sedang berdiri di atas awan. Ia tahu bahwa hanya dirinya lah satu-satunya wanita yang ada di hati Darian. Yang mampu membuat Darian bertekuk lutut dan bahkan berlari di tengah hujan hanya untuk menemuinya. Dan Hanna seolah dengan sengaja melemparkan fakta menyakitkan itu langsung ke wajah Kinanti. Seolah mengatakan hanya Hanna yang berhak atas Darian dan bukan orang lain.


Setiap malam, di setiap permainan cinta mereka yang membara, maka setiap saat itu pula Kinanti akan menerima pesan di handphonenya. Entah berupa foto Darian dan Hanna yang tengah berciuman dengan mesra. Atau video Darian yang sangat dominan di atas Hanna. Dan tidak jarang pesan itu berupa rekaman ******* antara Hanna dan Darian yang saling menyatu dalam nikmatnya bercinta.


Dan Hanna pasti akan menambahkan kalimat-kalimat yang terkesan memanas-manasi Kinanti di setiap katanya. Seolah menunjukkan kemenangannya atas Darian.


Bagaimana permainan kami? Hebat kan?


Apakah Darian pernah menyentuhmu seperti itu, Kinanti?


Apakah Darian benar-benar menyukaimu? Kenapa dia tidak pernah bermalam denganmu?


Sudahkah kau menyelesaikan puasa birahimu? Seingatku sudah 3 bulan kau tidak disentuh suamimu kan?


Sungguh, jika Hanna mengikuti audisi sebagai pemeran antagonis wanita di sebuah sinetron, Kinanti yakin benar wanita itu akan mendapatkan perannya.


Jika pesan itu merupakan film biru dengan pemeran yang tidak Kinanti kenal, maka pesan yang ia terima bukanlah hal penting bagi Kinanti. Namun kedua orang di dalam video itu, terlebih lagi sang pria yang tampak begitu mabuk dalam tubuh si wanita, adalah suaminya. Pria yang seharusnya ada bersamanya. Tapi pria itu malah begitu terlena dalam kehangatan wanita lain!


Kinanti seringkali mempertanyakan keputusannya untuk menikahi Darian. Memang kedua mertuanya sangat menyayanginya. Bahkan mungkin lebih menyayangi Kinanti dibandingkan Darian. Tapi suaminya malah tidak pernah sekalipun menoleh kearahnya. Apalagi mencintainya? Terkadang Kinanti ragu apakah gemerlap hidup mewah yang ia terima benar-benar sepadan dengan siksaan batin yang ia alami setiap hari?


...****************...


"Kamu tidak mau beli apa-apa, Ti? Yakin?" Tanya ibu mertuanya saat mengajak Kinanti berbelanja di salah satu gerai tas desainer ternama.


Kinanti menggeleng. Mungkin pernikahannya baru masuk usia 6 bulan, tapi hampir setiap barang mewah sudah Kinanti milikki. Dalam waktu 6 bulan saja seluruh benda yang menempel dari ujung kepala hingga ujung kaki Kinanti sudah berubah menjadi barang rancangan desainer ternama.


Pakaian yang awalnya hanya ia beli di pasar atau toko online murahan kini berganti menjadi pakaian desainer yang harus menunggu daftar tunggu untuk bisa membelinya. Tas yang awalnya mungkin hanya berharga 100 ribu, kini menjadi tas ratusan juta dan tidak hanya satu. Sungguh memang kehidupan Kinanti berubah 180 derajat dari upik abu menjadi cinderella.


"Sepertinya kamu lagi banyak pikiran ya, Ti?" Tanya ibu mertuanya khawatir.


"Ah, tidak, Ma. Kinanti hanya sedang tidak ingin berbelanja saja. Kinanti sudah punya semua yang Kinanti mau, jadi Kinanti agak bingung harus membeli apa lagi." Jawab Kinanti.


Mama Darian tersenyum mendengar kata-kata Kinanti. Sungguh ia sangat bahagia memiliki menantu seperti Kinanti. Gadis sederhana yang tidak serakah dengan harta. Yang selalu membuat nyaman siapa saja khususnya para orang tua yang ada bersamanya.


"Papamu memang selalu benar ya, Ti. Kali ini juga seperti itu." Ucap Mama Darian pada Kinanti sembari mengelus rambutnya.


"Eh, memangnya ada apa Ma?" Tanya Kinanti bingung.


"Kamu itu adalah pilihan Papa. Sejak pertama Papa bertemu dengan kamu di kafetaria kantor, Papa sangat ingin kamu menjadi menantunya. Papa ingin kamu menikah dengan Ian." Jawab ibu mertuanya.


Kinanti manggut-manggut mendengarkannya.


"Awalnya Mama bilang ke Papa kalau kita harus menunggu keputusan Ian. Tapi setelah Mama bertemu dengan kamu saat makan malam waktu itu, Mama juga menjadi yakin dengan pilihan Papa." Sambung Mama Darian lagi.


"Kenapa Ma? Kenapa Mama yakin untuk memilih Kinanti jadi menantu Mama?" Ucap Kinanti penasaran.


Ibu mertuanya tersenyum.


"Karena kamu itu seperti Mama. Mama seperti melihat Mama yang dulu pada diri kamu. Mama juga tidak berasal dari keluarga kaya raya, Ti. Mama bisa menikah dengan Papa karena dulu Mama pernah bekerja sebagai perawat yang merawat ibunya Papa. Neneknya Ian." Kata Mama menceritakan masa lalunya.


"Mungkin karena Papa melihat Mama sangat perhatian dan menyayangi ibunya, karena itu akhirnya Papa melamar Mama untuk menjadi istrinya. Padahal waktu itu Papa dan Mama cuma berkenalan secara serius selama tiga bulan lo, Ti." Ucap ibu mertuanya.


Kinanti terkejut. Hari ini ia mempelajari fakta baru tentang kedua mertuanya. Betapa meskipun Pak Bambang begitu kaya dan sukses, tapi yang penting baginya dalam mencari seorang istri adalah kepribadiannya. Betapa ia menyukai wanita hangat seperti Mama meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Seandainya saja Darian memiliki pemikiran yang sama dengan ayahnya, pasti hidup Kinanti tidak akan nelangsa seperti ini.


"Makanya, Mama tidak pernah menyesali keputusan Papa memilih kamu untuk menjadi pasangan Ian. Sejujurnya kamu jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Hanna." Mama Darian kembali berbicara.


Kinanti terbelalak. Jadi Mama Darian tahu tentang Hanna? Tapi kalau dipikir-pikir mana mungkin seorang ibu tidak tahu tentang wanita yang sudah menjadi kekasih anaknya selama lima tahun, kan?


"Hanna?" Tanya Kinanti.


"Iya, Hanna. Dia mantan kekasih Ian. Mereka pernah berkencan selama kurang lebih lima tahun. Mama juga tidak mengerti kenapa Ian sangat mencintai gadis itu padahal sejak dulu Mama tidak pernah menyukainya."  Jawab ibu mertuanya.


"Tapi kenapa Mama tidak menyukai Hanna?" Ucap Kinanti penasaran.


"Watak dan sifatnya, Ti. Mama sangat tidak suka dengan sifatnya yang arogan dan tidak pernah sopan terhadap orang tua. Mama sadar kalau Hanna adalah seorang wanita karier yang sukses dan berasal dari keluarga hebat. Tapi latar belakang seperti itu tidak memberikannya hak untuk bertingkah kurang ajar, kan?" Jelas Mama Darian pada Kinanti.


"Mama sangat sadar kalau Hanna selalu menatap Mama dengan rendah padahal Mama adalah orang tua kekasihnya. Mungkin karena Hanna tahu Mama bukan berasal dari keluarga kaya seperti dia. Dan sejak Ian berkencan bersama Hanna, Ian menjadi jauh dengan keluarganya. Entah apa yang dibisikkan gadis itu." Ucap Mama Darian lagi.


Ternyata seperti itukah kebenarannya? Alasan hubungan Darian dan Hanna yang tidak bisa bertemu di pernikahan karena kedua orangtua Darian tidak menyukai Hanna. Kinanti berpikir mungkinkah ini satu-satunya kelebihannya dibandingkan dengan Hanna? Karena Kinanti membuat kedua orangtua Darian merasa nyaman dengannya.


Terpikir di kepala Kinanti untuk memanfaatkan kesempatan ini. Bagaimanapun juga ia harus mempertahankan pernikahannya. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Jika Hanna punya Darian di sisinya, maka Kinanti punya kedua orangtua Darian yang selalu siap melindunginya. Mulai sekarang, apapun serangan yang diberikan oleh Hanna, Kinanti akan mampu menangkisnya.