
6 bulan kemudian
Kalila terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali dan melihat ke arah ruangan tempat ia berada. Sepertinya ia berada di sebuah klinik.
"Kamu sudah sadar, Kinanti?" Tanya seorang pria yang masuk ke ruangan itu.
Kalila menoleh ke arah pria itu. Niko berjalan menghampirinya.
"Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama barumu, Kalila?" Tanya Niko sambil duduk di sisi ranjang Kalila.
"Bagaimana operasi terakhirku?" Kalila balas bertanya kepada Niko.
Niko tersenyum dan memberikan sebuah kaca kepada Kalila.
"Temanku ini ahli bedah plastik yang bagus. Kamu bisa melihat sendiri hasilnya." Ucap Niko.
Kalila melihat ke arah pantulan wajahnya. Kini wajahnya sudah berubah total. Tidak ada lagi gurat dan fitur wajah ayu khas Indonesia yang dulu dimiliki Kinanti. Hidungnya mancung, matanya berbentuk almond, dan bibirnya tampak berisi dan menggoda.
Niko benar, kemampuan temannya ini memang patut diacungi jempol. Wajah lamanya seketika berubah total seperti seorang wanita peranakan Indonesia dan Eropa. Bahkan wajah baru Kalila tampak jauh lebih cantik dibandingkan Hanna. Tubuhnya juga sudah dipermak habis-habisan menjadi sangat aduhai. Siapapun yang melihat Kinanti pasti akan langsung menoleh dan terpesona.
"Luar biasa, Niko. Temanmu memang sangat hebat." Puji Kalila takjub.
"Aku sudah mengurus semua dokumen legalmu yang baru, Kinanti. Ini KTP, SIM, Paspor, dan semua dokumen penting lainnya milikmu. Mulai sekarang Kinanti Anindira sudah tidak ada. Sekarang kamu harus hidup dengan identitas baru sebagai Kalila Jayanti." Ucap Niko serius.
Kalila mengambil setumpuk berkas yang diberikan Niko kepadanya. Ia membuka-buka beberapa di antaranya. Kalila tidak percaya dengan apa yang ada di tangannya. Sungguh uang memang benda yang sangat berkuasa dan mengerikan. Dengan uang, Kinanti dapat dianggap mati secara hukum dan sekarang lahir kembali sebagai wanita lain bernama Kalila. Betapa uang sangat mengerikan apabila dipegang oleh orang yang salah.
"Kapan kamu akan memulai rencanamu?" Tanya Niko kepada Kalila.
Kalila menoleh ke arah Niko dan menatapnya dengan serius.
"Besok. Serangan pertamaku sebagai Kalila akan dimulai besok."
...****************...
Kalila menatap wajah cantiknya di cermin. Tubuhnya tampak indah dengan dress ketat berwarna merah yang ia pakai. Ia menata rambutnya agar tampak ikal mempesona seperti Hanna. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Kalila mendandani dirinya dengan gaya yang biasanya Hanna gunakan. Gaya elegant khas seorang pebisnis wanita sukses.
Niko menghampirinya dengan kagum. Ia takjub melihat orang yang sama sekali berbeda di hadapannya. Enam bulan yang lalu, wanita di hadapannya masih tampak seperti wanita sederhana bernama Kinanti. Namun sekarang wanita itu telah menjelma menjadi seorang wanita kelas atas dengan paras dan tubuh mempesona bernama Kalila.
"Kamu sudah siap?" Tanya Niko pada Kalila.
Kalila mengangguk. Ia memulaskan pewarna merah sebagai sentuhan terakhir dan memakai kacamata hitam untuk menambah nilai penampilannya.
"Aku selalu siap, Niko. Ayo kita berangkat." Ucap Kalila sambil menggandeng tangan Niko.
Jantung Niko berdebar sedikit lebih cepat karena tubuh Kalila yang menempel padanya. Niko segera menggelengkan kepalanya dan berusaha menyadarkan dirinya kembali bahwa mereka sedang berada dalam misi penting. Niko membukakan pintu mobil sedan mewahnya agar Kalila dapat duduk di sampingnya. Ia lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. Beberapa detik kemudian mobil itu sudah melaju menuju tempat tujuan mereka.
Dua puluh menit kemudian, sedan sport milik Niko tiba di sebuah restoran steak mewah yang ada di deretan kawasan elit Jakarta.
"Dimana kita?" Tanya Niko bingung. Ia hanya mengantarkan Kalila saja tanpa tahu tempat apa yang mereka datangi.
"Ini restoran kesukaan Darian. Dia selalu makan siang disini setiap hari." Jelas Kalila sambil melihat ke arah restoran melalui kaca mobilnya.
"Ayo kita masuk." Ajak Kalila yang disambut oleh anggukan mantap oleh Niko.
Keduanya masuk ke restoran tersebut, memesan makanan, dan menyantapnya berdua. Mata Kalila berkeliaran mencari sosok Darian yang ditunggunya sedari tadi.
Kalila lalu menghadap kembali ke arah Niko sambil tersenyum. Ia memberikan isyarat kepada Niko untuk memulai strateginya. Niko mengangguk-angguk pertanda bahwa ia mengerti. Sebentar lagi serangan pertama dari Kalila Jayanti akan dimulai.
...****************...
Darian baru saja selesai mencuci tangannya dan merapikan pakaiannya di toilet. Ia lalu menatap bayangan di cermin dan membersihkan beberapa area pakaiannya yang tampak sedikit kotor. Setelah menyelesaikan semuanya, Darian melangkah keluar dari kamar mandi restoran tempat ia baru saja makan siang.
Namun tiba-tiba Darian secara tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita di koridor kamar mandi yang sempit. Darian reflek menangkap wanita itu dalam pelukannya. Keduanya bertatapan untuk beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan meminta maaf kepada satu sama lain.
"Maafkan saya." Ucap Darian sambil menundukkan kepalanya ringan.
Wanita itu juga melakukan hal yang sama dan menunduk sedikit sembari tersenyum.
"Sorry, saya juga minta maaf karena tidak sengaja menabrak Anda." Kata wanita itu dengan logat bule yang sedikit ketara.
Darian menatap wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang sangat cantik dengan fitur muka khas blasteran Eropa kesukaan Darian. Bahkan gaya wanita ini pun sangat sesuai dengan tipe Darian. Elegan dan terlihat cerdas. Darian tersenyum kepada wanita itu yang juga dibalas dengan senyuman serupa.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka berdua. Darian mengenal pria itu sebagai orang suruhannya untuk melenyapkan Kinanti.
"Niko? Apa yang kamu lakukan disini?"
Niko melihat ke arah Darian dan tampak terkejut. Ia lalu menyapa pria itu sambil tersenyum lebar.
"Halo, Pak Darian. Saya sedang makan siang disini, Pak. Bapak sedang makan siang juga, Pak?" Ujar Niko.
Darian mengangguk singkat. Niko lalu memanggil wanita yang tadi bertabrakan dengan Darian di toilet.
"Kalila, come here, Sis." Ucap Niko dalam bahasa Inggris.
Wanita itu menoleh dan menghampiri Niko dan Darian. Darian tampak terkejut melihat wanita itu yang tampaknya kenal dengan Niko.
"Kenalanmu?" Tanya Darian kaget.
"Sepupuku, Pak. Dia baru pulang dari Amerika setelah 10 tahun tinggal disana." Ucap Niko menjelaskan.
"Kalila, perkenalkan ini kenalanku, Pak Darian." Ucap Niko kepada Kalila.
Kalila tersenyum menatap Darian.
"I've met him, Nik. I didn't know he is one of your acquaintance." Ucap Kalila dalam bahasa Inggris yang sangat fasih.
(Aku sudah bertemu dengannya, Nik. Aku tidak tahu kalau dia adalah kenalanmu).
Darian semakin tertarik melihat wanita di hadapannya. Intelegensi seorang wanita memang selalu memantik rasa penasaran Darian.
"Halo, saya Kalila." Tutur Kalila sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Darian.
Darian sumringah dan menyambut uluran tangan itu. Ia menggenggam tangan Kalila dengan mantap dan tersenyum sembari menatap ke arah wanita itu.
"Halo, saya Darian. Senang berkenalan denganmu, Kalila." Kata Darian.
Kalila menyunggingkan senyumnya yang paling manis. Ia yakin kesan pertemuan pertama Darian dengannya pasti akan membekas untuk waktu yang cukup lama.
"Saya juga, Darian. Senang bisa mengenalmu."