Wanita Buronan

Wanita Buronan
Menjadi Buta


Akhir-akhir ini Darian merasa penglihatannya menurun drastis. Entah karena apa, namun sekarang ia tidak bisa melihat sesuatu dengan terlalu jelas lagi. Seperti melihat di balik kaca yang berkabut. Ya seperti itulah kelihatannya.


"Argh!" Erang Darian karena ia merasa kedua matanya sangat panas.


Kalila terhenyak. Ia berlari menghampiri Darian dengan wajah yang khawatir.


"Ian! Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Kalila cemas.


"Entahlah, Kalila. Mataku rasanya sangat panas. Arghh!" Ringis Darian sembari memegangi kedua matanya.


"Apakah kamu mau memeriksakannya ke dokter? Aku akan mengantarmy, Ian." Ucap Kalila berhati-hati.


Darian hanya mengangguk lemah sembari masih memegangi matanya yang berdenyut-denyut.


"Iya, kumohon. Antar aku ke dokter manapun yang bisa menyembuhkan ini." Ringis Darian.


Kalila tersenyum tipis. Tangannya menyentuh pelan lengan Darian.


"Oh, tentu saja, Ian. Aku akan mengantarmu ke dokter terbaik di Jakarta."


...****************...


Kalila dan Darian sampai di sebuah klinik dokter yang dimaksud Kalila. Klinik yang terletak di sudut jalanan dengan papan nama usang. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan percaya bahwa klinik ini adalah klinik terbaik di Jakarta. Tapi Darian tidak sedikitpun menaruh rasa curiga. Alasannya tentu saja karena Darian sendiri tidak bisa melihat bagaimana rupa klinik itu. Semuanya tampak samar di mata Darian dan ia mempercayakan semuanya pada Kalila.


Kalila memegang kedua bahu Darian dengan lembut.


"Aku mendapatkan rekomendasi klinik ini dari teman-temanku yang dulu kuliah di Amerika. Mereka bilang dokter ini adalah dokter mata terbaik di Jakarta. Apakah kamu mau?" Ucap Kalila dengan halus.


Darian mengangguk mantap. Tapi matanya melihat entah kemana. Karena Darian sendiri hanya bisa melihat siluet buram di hadapannya.


"Apapun itu, Sayang. Yang penting mataku bisa segera sembuh." Jawab Darian sembari meraba-raba wajah Kalila.


Kalila tersenyum kecil. Melihat betapa menyedihkannya nasib monster kejam ini sekarang.


"Baiklah, ayo kita masuk, Ian."


Kalila mendorong Darian ke dalam gedung kumuh itu. Apabila Darian bisa melihat, sudah pasti dia akan menolak pergi kesana. Penampakan dalam gedung itu bahkan tidak jauh lebih baik dibandingkan eksteriornya. Lampu yang remang dan hanya menyinari seadanya. Lantai dan dinding yang lusuh dan beberapa catnya sedikit terkelupas. Dan tangga tua yang tampak usang. Daripada praktek dokter, tempat ini lebih cocok disebut sebagai lokasi shooting film horror berlatar rumah sakit.


"Tempat ini agak sedikit panas, Sayang?" Tanya Darian saat Kalila mendorongnya melewati koridor panjang yang redup.


Kalila terkekeh kecil. Cukup kecil hingga Darian tak mungkin menyadarinya.


"Ah, iya. Pendingin ruangan disini tampaknya sedang diperbaiki, Ian. Aku baru saja melihat tukang service AC turun dari tangga tadi." Ucap Kalila berbohong.


"Oh, begitu? Baiklah." Jawab Darian percaya sepenuhnya.


Beberapa menit berselang, mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu berwarna putih kusam. Pintu kayu yang tampak cukup tua. Kalila membuka pintu itu dan sebuah ruangan tampak di dalamnya. Setidaknya ruangan ini tidak seburuk bagian lain di gedung ini. Ruangan itu bersih dan mengkilap. Peralatannya juga cukup modern. Terlihat lumayan profesional untuk menunjukkan citra seorang dokter.


Pria berusia tiga puluhan yang duduk di dalamnya tersenyum. Senyum hangat seolah ia mengenal Kalila. Tentu saja, karena dokter mencurigakan ini adalah salah satu teman Niko. Dokter mata yang kehilangan lisensi prakteknya karena sudah membuat pasiennya menjadi buta.


"Silahkan duduk, Ibu dan Bapak." Ujar Dokter Andi mempersilahkan. Nada bicaranya datar, seolah tidak ada apa-apa di antaranya dan Kalila.


"Jadi apa yang bisa saya bantu? Apa keluhan yang dialami pasien?" Tanya Dokter Andi sembari menatap Kalila.


Kali ini Darian yang berbicara.


"Ah, begini Dok, selama sebulan terakhir ini penglihatan saya semakin memburuk Dok. Awalnya hanya sedikit kabur saja. Tapi lama kelamaan menjadi semakin parah. Sekarang penglihatan saya hanya sebatas tampak seperti siluet buram saja." Jelas Darian.


Dokter Andi mengangguk-angguk tampak mengerti.


"Kalau begitu, Bapak silahkan maju ke sini agar saya dapat memeriksa kondisi mata Bapak." Pinta Dokter Andi hati-hati.


Kalila pun beranjak dari kursinya dan mendorong Darian untuk mendekati oftalmoskop yang ada disana. Darian meletakkan wajahnya disana dan Dokter Andi mulai berlagak mengamatinya dengan serius. Beberapa menit berlalu, Dokter Andi mengangkat wajahnya dan meminta Darian untuk duduk kembali seperti biasa.


"Jadi apa yang terjadi pada saya, Dok?" Tanya Darian ingin tahu.


Dokter Andi menghela nafas perlahan.


"Apakah bapak baru saja mengalami kecelakaan dalam beberapa bulan terakhir?" Tanya Dokter Andi serius.


Darian tampak terperanjat. Ia lalu mengangguk pelan.


"Yang terjadi pada Bapak adalah penurunan fungsi saraf karena benturan keras di kepala. Dan kebetulan penurunan fungsi itu mengenai bagian penglihatan Bapak." Jelas Dokter Andi.


Air muka Darian makin tidak karuan. Bagaikan mimpi buruk, setelah kehilangan kemampuan untuk berjalan sekarang ia akan kehilangan penglihatannya pula?


"Apakah penyakit ini bisa disembuhkan, Dok? Bagaimana saya akan menjalani hidup saya kalau saya tidak bisa melihat Dok?" Ucap Darian dengan suara yang bergetar.


Kalila menatap Darian dengan iba. Ia menyentuh lengan Darian pelan dan mengusapnya. Bertingkah seolah menenangkan hati Darian. Padahal semua ini adalah salah satu bagian dari rencana besarnya.


"Karena pusat masalahnya ada pada saraf, dengan berat hati saya harus mengatakan kalau kemungkinan bagi Bapak untuk sembuh sangatlah kecil." Ucap Dokter Andi pelan.


"Tapi kita masih bisa berusaha kan Dok? Kami siap melakukan apapun selagi Darian bisa sembuh, Dok! Tidak peduli berapapun biayanya!" Seru Kalila dengan suara yang terisak.


Dokter Andi diam sejenak.


"Saya hanya bisa memberikan resep untuk memperlambat kebutaan permanen pada Pak Darian. Selebihnya, tergantung kepada tubuh Pak Darian sendiri." Jawab Dokter Andi pelan.


Darian menoleh mencari Kalila yang sebenarnya berada di sampingnya. Ia menggapai-gapai berusaha memeluk kekasihnya itu.


"Tidak mungkin semua ini terjadi, Ian! Tidak mungkin! Kenapa hidup ini kejam sekali kepadamu!" Seru Kalila sembari menangis tersedu-sedu.


Dengan susah payah, akhirnya Darian menemukan Kalila. Ia langsung merengkuh kekasihnya itu dalam pelukan. Si wanita menangis seperti orang gila sementara si pria terus menerus berusaha menenangkan kekasihnya dan juga dirinya sendiri.


Darian tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya dapat berbisik lirih pada Kalila.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."


Mendengar suara Darian yang penuh penyesalan membuat hati Kalila makin melonjak senang. Upayanya untuk membuat Darian bertekuk lutut dan tak berdaya sudah separuh jalan. Hidungnya bahkan sudah bisa mencium bau kemenangan. Dan baunya sangatlah wangi.