
Hari ini adalah hari kepulangan Darian ke rumah setelah dirawat selama kurang lebih dua minggu di rumah sakit. Namun bukan berarti Darian sudah sembuh total, ia masih terduduk di kursi roda. Dengan kata lain, Darian masih harus menjalani terapi untuk penyembuhan sarafnya.
Kalila mendorong kursi roda Darian dengan santai memasukki rumahnya. Bu Yati tersenyum sumringah menyambut Kalila dan Darian yang berada di ambang pintu.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Apakah ingin saya buatkan sesuatu?" Ucap Bu Yati dengan senyum formal yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Darian menggeleng dan mengibaskan tangannya. Memberi isyarat agar Bu Yati pergi meninggalkan mereka. Kalila lalu berjongkok di depan Darian dan menatap kekasihnya itu dengan lembut.
"Apa yang mau kamu lakukan sekarang, Ian?" Tanya Kalila penuh kasih sayang.
"Aku letih, Sayang. Ayo kita ke kamar saja." Ajak Darian murung.
Kalila menatap kekasihnya yang tampak gundah. Sejak Darian mengetahui probabilitas kesembuhannya sangat rendah, hanya ada raut kesedihan yang tampak di wajahnya. Seolah seluruh harapannya direnggut seketika dan Darian kini hanya hidup karena belum mati saja.
Di dalam hatinya, Kalila merasa begitu puas melihat monster mengerikan ini berubah menjadi jinak. Darian sekarang bagaikan singa yang terlalu lama dikurung di kebun binatang. Matanya tak lagi menyala ganas. Dan yang dilakukannya hanyalah menjalani hidup dengan hampa.
Kalila mendorong kursi roda Darian ke dalam lift yang baru dipasang di rumah mereka. Karena tragedi ini, Darian meminta anak buahnya untuk segera memasang lift di rumahnya. Bagaimanapun, Darian enggan meninggalkan kamar pribadinya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kamar Darian. Kamar yang selama ini selalu ditempati olehnya dan kekasihnya. Dengan bantuan Kalila, Darian berhasil duduk di kasurnya. Walaupun sedikit kesusahan, Darian melihat usaha Kalila yang begitu besar dalam mengurusnya.
Wanita itu lalu duduk di dekat Darian. Tangannya mengelus-elus kaki Darian yang didiagnosis lumpuh.
"Sampai mana kelumpuhan menjangkitiku, Sayang?" Tanya Darian tiba-tiba.
Kalika mendongakkan kepalanya dan menatap kekasihnya itu.
"Aku tidak tahu, Ian. Kurasa kita harus mencari tahu sendiri." Duga Kalila.
Tangan lembut wanita itu lalu mulai mengelus dan merayap di sepanjang kaki Darian.
"Apakah kamu merasakan sesuatu?" Tanya Kalila.
Darian menggeleng pelan.
Tangan Kalila naik ke bagian paha Darian. Ia lalu melalukan gerakan yang sama di sana namun Darian tetap menggeleng. Lalu Kalila hening sejenak. Ia menatap kekasihnya lagi.
"Maafkan aku untuk yang satu ini. Tapi kita harus mencobanya agar kita dapat mengetahuinya, Ian." Ucap Kalila pelan.
Jemari lentik Kalila lalu mengusap bagian ************ Darian. Bermain-main dengan gundukan di tengahnya seperti yang biasa ia lakukan. Biasanya Darian akan cepat sekali terangsang bahkan hanya dengan godaan sederhana seperti ini. Namun kali ini, tidak ada apapun yang terjadi di bagian itu.
"Aku tidak merasakan apapun disana, Sayang." Desis Darian frustasi.
Kalila menarik tangannya dan segera meletakkannya di kedua belah pipi Darian. Ia menatap Darian dengan tatapan yang tulus dan penuh cinta.
"Jangan seperti ini, Sayang. Kita tidak boleh menyerah, Ian Sayang. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh." Ucap Kalila menyemangati kekasihnya.
Namun Darian malah membuang mukanya. Ia menatap jauh ke arah jendela. Rasanya Darian tidak sanggup menatap ke dua netra indah itu. Melihat kekasiu cantiknya harus mengurusi pria cacat sepertinya membuat Darian merasa frustasi.
"Pergi, Kalila. Tolong tinggalkan aku sebentar. Aku butuh waktu sendiri." Pinta Darian lirih.
Kalila menatap Darian heran. Untuk pertama kalinya kekasihnya meminta ia pergi menjauh.
"Tapi aku tidak akan meninggalkanmu, Ian." Bantah Kalila hati-hati.
"PERGI KALILA! PERGI! JANGAN LIHAT AKU YANG MENYEDIHKAN INI!"
...****************...
Kalila terperanjat dengan bentakan Darian tadi. Bahkan hingga ia duduk di dapur, ia tampak terus memikirkan ucapan kekecewaan dari mulut Darian. Beberapa bulir air mata mengalir dari sudut matanya.
Bu Yati melihat Kalila yang ada di dapur dan langsung berjalan menghampirinya.
"Bagaimana Darian?" Tanya Bu Yati penasaran.
Kalila mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Bu Yati. Ia mengusap air matanya dengan hati-hati dan tersenyum lebar pada Bu Yati. Persetan dengan rasa kecewa Darian karena memang itulah tujuan Kalila selama ini.
"Monster satu sudah mulai hancur, Bu. Sebentar lagi dua monster itu akan benar-benar lenyap." Ucap Kalila pelan.
"Oh, akhirnya rencana yang sudah kita persiapkan sekian lama dapat mulai menunjukkan hasilnya, Kalila." Sanjung Bu Yati bangga.
Kalila mengangkat gelasnya dan menyeruput tehnya. Ia mendesah nikmat karena cairan hangat itu bergerak menuruni kerongkannya yang kering.
"Astaga, ini enak sekali Bu Yati. Aku benar-benar membutuhkannya. Tubuhku lelah sekali berpura-pura menangis seharian." Ujar Kalila.
"Lalu selanjutnya apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bu Yati pada Kalila.
Kalila hening sejenak. Ia tampak memikirkan langkah selanjutnya dengan serius.
"Untuk saat ini kita biarkan saja monster pertama hancur dalam rasa frustasinya. Aku akan membuatnya semakin putus asa. Rencana selanjutnya akan menunggu hingga monster kedua pulang." Jawab Kalila bersungguh-sungguh.
"Kapan wanita itu pulang?" Tambah Bu Yati lagi.
"Tiga hari lagi."
...****************...
PRANGGG!!!
Kalila dan Bu Yati yang sedang memasak di dapur saling bertatapan mendengar suara barang pecah itu. Mereka berdua sedang menyiapkan makan malam dan Darian sejak tadi mengurung diri di kamar. Tanpa melihat, Kalila pun langsung tahu bahwa sumber suara itu berasal dari kamar Darian.
Kalila berlari dengan begitu cepat menaikki tangga dan diikuti oleh Bu Yati di belakangnya. Tanpa ragu Kalila membuka pintu kamar utama dan melihat apa yang terjadi di dalam kamar.
Mata Kalila membelalak melihat gelas yang pecah di seberang kasurnya dan Darian. Ia terperanjat dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Ian Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Kalila khawatir.
Raut wajah Darian memerah padam. Matanya berlinang air mata. Dan dadanya naik turun karena nafasnya memburu. Pria itu tetap hening. Darian tampak begitu marah. Marah pada keadaan dan takdir yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Ian, Sayangku, kumohon katakan sesuatu. Jangan membuatku takut." Pinta Kalila.
Wanita itu lalu merengkuh Darian dalam pelukannya. Menempelkan kepala Darian di depan dadanya. Biasanya Darian akan langsung berubah beringas jika mencium kedua gunungnya yang montok. Namun hari ini Darian tidak bereaksi apa-apa. Ia tetap menatap kosong dengan putus asa.
Kalila melepaskan pelukannya dan menatap dalam ke mata yang redup itu.
"Ayo kita turun dan makan, Ian. Aku membuat makanan kesukaanmu. Hanya untukmu." Ajak Kalila lembut.
Darian kembali memalingkan mukanya.
"Kenapa kamu masih ada disini, Kalila? Kenapa kamu belum pergi dari rumahku?" Tanya Darian keras.
Kalila menarik wajah Darian lembut agar mereka kembali saling bertatapan.
"Kenapa aku harus pergi? Kekasihku ada disini dan aku tidak akan pergi kemana-mana." Jawab Kalila penuh kasih sayang.
Darian menghela nafas berat. Matanya menatap ke bawah. Ia tak kuasa melihat kesedihan di mata indah Kalila. Atau mungkin ia tak mau Kalila melihatnya tampak begitu rapuh dan lemah seperti ini.
"Tidak ada yang bisa kamu harapkan dariku lagi, Kalila. Apa yang ingin kamu lakukan bersama pria cacat sepertiku? Pergilah dan jangan buang waktumu untuk mengurusi pria tidak berguna sepertiku." Ucap Darian pelan. Suaranya terdengar sangat menyakitkan.
Air mata berlinang di pelupuk mata Kalila. Ia kembali memeluk Darian erat dan mengelus kepala pria tampan itu dengan lembut.
"Tidak, Darian. Aku mencintaimu seutuhnya, bukan hanya karena fisikmu ataupun hartamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu hanya karena kamu mengalami hal seperti ini, Ianku Sayang." Bisik Kalila penuh perhatian.
Darian menangis. Pria tangguh dan kejam itu menangis di dalam pelukan Kalila seperti seorang bocah laki-laki yang mengadu pada ibunya.
"Kamu tidak akan meninggalkanku?" Ujar Darian akhirnya setelah tangisnya berhenti.
Kalila tersenyum lembut. Kepalanya menggeleng.
"Tidak, Sayang. Tidak akan pernah." Balas Kalila.
Tentu saja, Ian. Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kamu mati di tanganku.