Wanita Buronan

Wanita Buronan
Terjerat


Sejak kematian anaknya, Kinanti jadi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan merenung. Terkadang sepanjang hari ia hanya duduk melamun di dalam selnya. Tatapannya menerawang jauh. Sinar kehidupan di matanya kini pudar. Kinanti tampak tidak memiliki semangat lagi untuk melanjutkan hidup.


Para rekan satu selnya pun ikut iba dengan apa yang menimpa Kinanti. Bagaimana tidak? Setelah berjuang hidup di penjara dalam keadaan hamil, kini anak yang selama ini ia tunggu malah pergi begitu saja karena kelalaian sebuah sistem. Mereka bingung siapa yang harus disalahkan. Haruskah mereka menyalahkan para sipir yang lalai? Atau haruskah mereka menyalahkan nasib yang terlalu kejam pada wanita baik seperti Kinanti?


Kinanti kini lebih banyak diam. Sudah genap seminggu sejak kepergian anaknya dan belum ada satu patah katapun yang keluar dari bibir mungilnya hingga sekarang. Beberapa kali Bu Manisah mengajaknya mengobrol tapi Kinanti hanya menjawabnya dengan anggukan atau gelengan semata.


Tragedi itu adalah pukulan yang sangat berat bagi Kinanti. Bukan hanya meluluh lantakkan semangat hidupnya, kemalangan itu bahkan merenggut setiap ambisinya untuk membalas dendam pada Darian.


"Saudara Kinanti, sekarang waktunya pemeriksaan kesehatan Anda." Ucap salah seorang sipir pada Kinanti.


Karena insiden yang baru menimpa Kinanti, penjara memberikan Kinanti beberapa kelonggaran. Salah satunya memberikan Kinanti pemeriksaan kesehatan hingga fisiknya benar-benar pulih. Dan hari ini adalah pemeriksaan kesehatannya yang kedua.


Kinanti menatap sipir itu tanpa emosi dan mengangguk. Tanpa bicara sepatah katapun ia mengikuti sipir yang berjalan di depannya. Beberapa menit kemudian, Kinanti sampai di depan klinik penjara. Tempat biasanya terdapat seorang dokter jaga yang bertugas memeriksa tahanan yang memiliki keluhan kesehatan.


Hari itu, Kinanti tidak mengenal dokter yang berjaga. Seorang pria dengan kacamata dan mengenakan masker. Kinanti tidak pernah melihatnya dan ia berpikir mungkin pria itu dokter baru yang ditempatkan disini. Kinanti tidak terlalu peduli dan hanya semata-mata mengikuti prosedur yang ada. Tanpa melawan, Kinanti masuk dan merebahkan tubuhnya di ranjang klinik. Kinanti hanya menatap kosong ke langit-langit.


Di dalam klinik hanya ada dirinya dan dokter pria misterius itu. Dokter itu kemudian mendekat ke arah Kinanti dan mengeluarkan sebuah jarum suntik yang berisi cairan di dalamnya.


"Apakah kamu mengenal saya?" Tanya dokter pria itu dengan nada yang sulit Kinanti tafsirkan.


Kinanti menggeleng.


"Saya adalah malaikat mautmu Kinanti. Saya ditugaskan untuk menghabisi nyawamu disini sekarang." Bisik dokter itu di telinga Kinanti.


Kinanti terkejut. Wajahnya menoleh ke arah pria itu.


"Tenang saja, tidak akan sakit, Kinan. Saya merasa tidak enak kalau kamu tiba-tiba mati tanpa tahu apa penyebabnya, karena itu saya memberi tahu hal ini sebelum kamu tewas di tangan saya. Biar kamu tidak menjadi arwah penasaran." Canda dokter itu dingin.


Tapi tak ada rasa takut sedikitpun di mata Kinanti. Ia hanya tertawa lemah sambil menatap kosong ke arah langit-langit. Pria itu bingung dengan reaksi wanita yang ada di hadapannya ini.


"Kenapa kamu malah tertawa?" Tanya dokter itu heran.


"Ternyata Darian yang menyuruhmu untuk membunuhku, ya?" Ujar Kinanti datar.


Dokter itu terdiam.


"Silahkan, bunuh saja aku dengan seluruh racunmu. Aku tidak peduli. Lagipula tidak ada gunanya lagi aku hidup." Kata Kinanti sambil menatap dokter itu lurus ke dalam matanya.


Seketika pria itu terdiam. Hatinya terketuk mendengar kata-kata pasrah dari wanita yang terbaring di hadapannya ini. Dan kedua mata indah yang menatapnya tampak begitu jelas menyimpan banyak luka. Pria itu tanpa sadar terperangkap dalam keindahan dua mata sendu yang menatapnya dengan dalam. Terpikat dalam paras cantik yang masih tampak bersinar meskipun si pemiliknya sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.


Pria itu terduduk. Ia menjatuhkan jarum suntik yang sedari tadi ia pegang. Ia sadar bahwa ia tidak akan pernah menghabisi nyawa wanita rapuh yang ada di hadapannya ini. Pria itu sudah terjebak dengan keindahan yang dipancarkan Kinanti dalam sekali pertemuannya.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih.


Kinanti bingung. Kenapa pria ini mengurungkan niatnya untuk menghabisi Kinanti? Kinanti bangkit dan menghampiri pria yang sekarang duduk di hadapannya.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kinanti bingung.


Kedua tangan Kinanti memegang bahu pria itu dan matanya menatap pria itu dengan dalam. Mengirimkan ribuan sengatan listrik ke saraf si pria seolah memberikan sinyal yang jelas bahwa ia telah jatuh cinta pada targetnya sendiri.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menyelesaikan tugasku. Aku tidak bisa membunuhmu, Kinanti." Ucapnya lirih.


Kinanti memegang kedua pipi pria itu. Menangkup wajahnya dalam tangannya yang mungil.


"Apa yang kau pikirkan? Gagal membunuhku berarti nyawamu dalam bahaya, kan?" Kata Kinanti pelan.


"Aku tidak peduli itu. Yang jelas aku tidak bisa membahayakanmu, Kinanti. Sekarang aku mohon, pergilah dari sini dan jangan ceritakan apapun yang terjadi pada siapapun." Usir pria itu pada Kinanti.


Sepanjang perjalanannya kembali ke sel, hanya satu pertanyaan yang ada di kepala Kinanti. Apa yang baru saja terjadi pada pembunuhnya?


...****************...


Pujangga bilang cinta itu buta dan mereka tidak pernah salah tentang hal itu. Jatuh cinta pada Kinanti membuat pria itu nekad terus menerus kembali ke klinik penjara agar bisa bertemu dengan wanita pujaannya. Ia bahkan mengajukan permohonan agar dapat dijadikan dokter tetap di klinik penjara.


Pria itu pun selalu mencari alasan agar Kinanti dapat menemuinya setiap hari. Entah untuk pemeriksaan rutin atau meminta Kinanti membersihkan klinik seorang diri. Seperti hari itu, sang pria menyuruh Kinanti untuk datang ke klinik dengan alasan ingin memeriksa kesehatan Kinanti. Walaupun semuanya hanyalah alasan belaka agar ia bisa menikmati indahnya paras Kinanti dan lembutnya suara si wanita.


"Masuk, Kinanti. Saya ingin memeriksa kesehatanmu." Ucap pria itu mempersilahkan Kinanti masuk.


"Tapi saya baik-baik saja, Dokter." Balas Kinanti bingung.


"Masuk saja. Tidak ada ruginya mendapatkan suplemen vitamin, bukan?" Ucap si pria sambil tersenyum.


Kinanti menurut dan duduk di hadapan sang pria. Pria itu tersenyum dan tampak seperti menuliskan sesuatu di kertas.


"Apakah kamu tidak penasaran dengan namaku? Kita sudah berkali-kali bertemu dan kamu selalu memanggilku dengan sebutan Pak Dokter." Ucap si pria sambil menatap Kinanti dengan ramah.


"Apakah narapidana seperti saya punya hak untuk mengetahui namamu, Pak Dokter?" Tanya Kinanti lembut.


Pria itu tertawa.


"Walaupun kamu narapidana, kamu tetaplah seorang manusia, Kinanti. Dan seorang manusia berhak mengenal siapapun juga." Ujar si pria.


Kinanti tersenyum. Sungguh senyum yang sangat indah. Pria itu bersemu merah hanya dengan melihat senyum Kinanti yang tersungging. Ia benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh Kinanti.


"Kalau begitu, boleh aku tahu namamu, Pak Dokter?" Tanya Kinanti ramah.


Suara yang lembut itu memasukki telinga si pria bagaikan melodi yang indah. Semakin lama ia semakin tergila-gila dengan wanita ini.


"Namaku Niko Orian Rainer. Tapi kamu bisa memanggilku Niko, Kinanti." Jawab pria bernama Niko itu dengan senyum yang paling manis yang pernah ia keluarkan.


"Senang berkenalan denganmu, Niko. Semoga kita bisa berteman dengan baik ya." Balas Kinanti lagi.


Hati Niko berbunga-bunga. Seolah mendapatkan lampu hijau untuk menjadi lebih dekat dengan Kinanti. Niko dengan semangat mengulurkan tangannya, menjabat tangan Kinanti yang terulur lebih dulu.


"Aku juga senang bisa mengenalmu, Kinanti."